Film ‘Silariang’ Mulai Tayang 18 Januari di 65 Bioskop di Indonesia

Cinta Yang (Tak) Direstui  

“Kalau sama dia, ndak ku restui ko. Jammo ko tanya kenapa,” hardik Puang Rabiah.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR –Ancaman itu ternyata membekas di hati Zulaikha. Ia hanya terdiam. Kalimat sang ibu begitu menusuk hati gadis desa ini.  Hubungannya dengan Yusuf, lekaki pujaanya  yang sudah terjalin selama bertahun-tahun ternyata tak direstui.

Andania ‘Zulaikha’ Suri. (FOTO: ASRI SYAHRIL)

Yusuf kebingungan. Zulaikha pun patah arang. Maka jalan pintas harus mereka tempuh. Tidak hanya melawan keluarganya, namun sekaligus pula melawan adat yang mengungkung cinta keduanya.

Tapi benarkah silariang adalah jalan terbaik untuk menyatukan cinta mereka?

***

 

KISAH di atas merupakan penggalan cerita yang diangkat dalam film berjudul ‘Silariang’, Cinta Yang (Tak) Direstui. Film yang dipersembahkan oleh Inipasti Communika dan Indonesia Sinema Persada ini berlatar belakang budaya Bugis Makassar. Rencananya mulai tayang 18 Januari di 65 bioskop di Indonesia.

Bisma ‘Yusuf’ Karsima.(FOTO: ASRI SYAHRIL)

Film berdurasi 95 menit ini dibintangi aktor dan aktris muda berbakat Bisma Karsima yang berperan sebagai Yusuf. Sementara  pemeran wanitanya, Andania Suri sebagai Zulaikha.  Film yang disutradarai Kunun Nugroho ini juga melibatkan artis senior peraih dua piala citra, Dewi Irawan yang berperan sebagai Puang Rabiah ibu dari Zulaikha.

Produser film Ichwan Perdana juga melibatkan sineas-sineas lokal berbakat asal Makassar. Sebut misalnya Sese Lawing, Nurlela M. Ipa, Cipta Perdana dan lainnya.

“Silariang itu menarik karena punya banyak dimensi. Ceritanya juga masih bisa diolah menjadi sesuatu yang segar dan mengejutkan. Dan yang terpenting, masih bisa relevan dengan khalayak penonton bioskop masa kini,” jelas sang produser, Ichwan Persada yang juga berasal dari Makassar.

Oka Aurora, Penulis Skenario.(FOTO: ASRI SYAHRIL)

Ada hal yang menarik dalam film ini, karena tidak hanya mengangkat tema budaya klasik yang berkisah tentang potret cinta, tapi juga memperkenalkan obyek wisata yang ada di Sulawesi Selatan (Sulsel). Salah satunya  yakni di Rammang-rammang yang terletak di Desa Salenrang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan,

“Film ini tidak sekadar mengangkat budaya Bugis Makassar  tapi juga memperkenalkan obyek wisata di beberapa daerah di Sulsel. Salah satunya dengan mengambil lokasi suting di obyek wisata Rammang-Rammang,” ungkap Eksekutif Produser Inipasti Communika, Huri A Hasan.

Ya, obyek wisata ini berlatar lansekap menakjubkan. Sebuah kawasan obyek wisata alam yang menawarkan hutan pegunungan karst terbesar kedua di dunia, gua, telaga dan sungai.

***

DALAM hukum adat, Silariang sangat ditentang karena menjatuhkan harga diri dan martabat (siri’) kedua keluarga mempelai. Sanksi bagi pelakunya mulai dari tidak dianggap sebagai anggota keluarga, bahkan tidak jarang berujung pada pembunuhan.

Crew film Silariang, Cinta Yang (Tak) Direstui.(FOTO: ASRI SYAHRIL)

Film ini berkisah tentang pasangan kekasih yang nekad melakukan kawin lari, Yusuf dan Zulaikha. Perbedaan status sosial menjadi penyebab hubungan mereka yang telah mengakar, tidak mendapat persetujuan.

Agar dapat terus bersama, kawin lari menjadi opsi. Sebuah keputusan yang kemudian mengubah kehidupan mereka. Hidup serba kekurangan, harus melakukan pekerjaan kasar, dan berbagai kesulitan hidup lain harus dihadapi. Tapi mereka mencoba bertahan dalam keteguhan cinta, yang juga tak habis-habis mendapat ujian.

Menurut Ichwan yang sebelumnya memproduseri Miracle: Jatuh dari Surga dan Hijabers in Love, proses syuting film Silariang  berlangsung di Makassar, Maros, dan Pangkep.

Sosok Bisma (25) sebagai pemeran utama mulai dikenal publik saat masih tergabung dalam boyband SM*SH yang menghasilkan beberapa single, salah satunya “I Heart You” (2010).

Anak Sunda ini menjajal dunia akting selepas dari boyband SM*SH pertama kali unjuk kemampuan memerankan karakter orang lain dalam film Nada untuk Asa (2015). Setahun kemudian ia hadir lagi dalam film Juara yang disutradarai Charles Gozali.

Sementara Suri, kelahiran Jakarta, 20 tahun lalu, mengawali karier sebagai foto model setelah terpilih jadi pemenang Gadis Sampul 2010.

Ia pertama kali bermain film dalam Rumah di Seribu Ombak (2012) arahan Erwin Arnada. Dua tahun berselang hadir sebagai Annisa lewat Hijabers in Love. Wajahnya juga sering menghiasi videoklip musik D’Masiv, Gigi, hingga Vidi Aldiano.

Karena aslinya berasal dari Suku Sunda di Jawa Barat, tantangan utama yang harus dihadapi Bisma adalah pemahaman soal bahasa dan budaya. Oleh karena itu, ia mulai banyak mengobrol dengan kawan-kawannya yang berasal dari Makassar.

“Saya juga banyak belajar dialek Makassar dengan teman-teman jurnalist. Takut salah bahasa dan karakternya, apalagi film ini soal budaya juga,” ujarnya saat  sesi temu media di salah satu Mall di Makassar, Sabtu (13/1/2018) sore.

Tantangan serupa juga dihadapi penulis skenario Oka Aurora, perempuan berdarah Padang yang lahir dan besar di Jakarta. Ia mengaku tertantang ketika menulis skenario film Silariang ini.

“Memang sangat menantang mengembangkan suatu hal yang saya sendiri untuk pertama kalinya baru ketahui. Dan syukurnya karena meski kapasitas produksi terbatas, saya tetap diberi kesempatan untuk melakukan riset langsung ke Makassar,” ungkap peraih predikat Penulis Skenario Terpuji di Festival Film Bandung 2014 yang juga hadir saat sesi jumpa media di Makassar.

Seluruh pemain dalam film Silariang tetap menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Bugis-Makassar. “Namun untuk karakter yang mewakili kesukuan akan ada beberapa dialog yang menggunakan bahasa Bugis, Makassar, dan Toraja,” jelas Ichwan Persada, produser film ini yang diamini Kunun Nugroho, sang sutradara.

 

Penulis : Asri Syahril

Menu