oleh

Segelas Air dan Bubur Kacang Hijau dari Adi Rasyid Ali Buat Pemulung di KFD

ADI Rasyid Ali spontan berdiri dari bangku tua. Di raihnya beberapa gelas air mineral dan bubur kacang hijau. Lalu diberikannya kepada dua bocah cilik berusia sekitar 2 dan 3 tahun yang duduk  di atas tumpukan kardus bekas di atas gerobak becak yang didorong  ibunya, seorang pemulung yang berbaju lusuh.

INFOSULSEL.COM,MAKASSAR — Pagi itu matahari sudah makin meninggi. Panasnya mulai terasa. Waktu sudah menunjukan pukul 09.30 WITA. Masyarakat yang melakukan aktifitas olahraga di kawasan car free day (CFD) di Jalan Bulevard, Panakkukang, Makassar, Ahad (19/8/2018) pagi itu mulai sepi.
Ketua DPC Parai Demokrat kota Makassar yang juga Wakil Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali menyambangi dan memberi segelar air serta segelas bubur kacang hijau kepada seorang pemulung usai jogging di kawasan CFD di Jalan Bulevard, Makassar, Ahad (19/8/2018) pagi .(FOTO: SRI SYAHRIL)

Suara dentuman musik dari pengeras suara yang mengiringi warga yang melakukan senam di kawasan CFR sudah berhenti. Para pedagang kaki lima juga mulai mengemasi lapak-lapak dan dagangannya.

Namun masih ada beberapa warga yang masih terlihat bercengkrama. Ada pula yang masih menikmati sarapan pagi di bawah tenda PK-5 yang berjejer di kawasan KFD. Diantara mereka ada Wakil Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali.

ARA, yang sejak terpilih menjadi Ketua Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menginstruksikan seluruh sasana tinju di Sulsel, khususnya di kota Makassar, Kabupaten Maros, Gowa dan Takalar berlatih bersama di kawasan KFD di tiga kawasan KFD di Makassar yakni Bulevard, Jendral Sudirman dan Jalan Penghibur depan Pantai Losari.

Kegiatan ini disambut antusias para atlet, pelatih dan pengurus sasana tinju. Setiap pekan ratusan atlet dari puluhan sasana hadir.

‘’Setiap minggu kami berganti tempat. Kalau minggu ini di Bulevard, minggu depannya di jalan Jendral Sudirman, lalu pekan berikutnya di depan Jalan Penghibur depan Pantai Losari. Salah satu tujuannya untuk semakin memasyarakatkan olahraga tinju di masyarakat,” jelas ARA,  Ahad (19/8/2018) pagi saat ditemui INFOSULSEL.COM di Jalan Bulevard.

Pagi itu usai jogging ARA duduk santai bersama koleganya sembari menikmati bubur kacang hijau yang disediakan oleh Pengurus Pertina Sulsel. Salah satu diantaranya mantan kepala bank yang kini aktif sebagai bendahara di salah satu organisasi besar di Indonesia. Ketika tengah asik ngobrol ARA yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrat kota Makassar ini spontan berdiri dari bangku tua yang didudukunya.

Di raihnya segelas air mineral dan bubur kacang hijau yang ada di sampingnya. Lalu didekatinya lelaki berusia setengah baya bertopi putih lusuh membawa karung putih yang tengah mengais botol dan gelas plastik bekas minuman di tong sampah.

ARA mendekatinya. ‘’Tabe, istrahatki dulu Pak,’’ kata ARA.

Lelaki itu sedikit kaget. ARA lalu memberinya segelas air mineral dan segelar bubur kacang hijau.

‘’Minumki dulu Pak. Sambil kita istrahat dan makan bubur kacang hijau sama-sama Bapak-bapak itu,” ajak ARA sembari menunjuk ke arah beberapa koleganya.

Lelaki itu hanya mengangguk-angguk. Sambil ngobrol ARA yang memegangi pundak pemulung ini, merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan lembaran  rupiah lalu diselipkan ke saku baju lelaki itu. ARA menyelipkan pemberiannya itu di saku baju lelaki itu tanpa mau dilihat orang lain.

‘’Iye terima kasih Pak. Terima kasih,” kata lelaki itu sambil mencium tangan kanan ayah tiga anak ini. Sekitar lima menit legislator Partai Demokrat ini gobrol sebelum lelaki tua itu pamit

ARA kembali bergabung bersama koleganya duduk di di bangku panjang di depan sebuah ATM. Mereka kembali ngobrol lepas.  Beberapa warga yang lalu lalang sempat menyapanya. Bahkan sejumlah ibu-ibu minta foto bareng.

Sekitar 30-an menit kemudian seorang ibu dari arah barat Jalan Bulevarard yang tengah mendorong gerobak becak berhenti tak jauh di tempat ARA duduk. Di atas becak yang disulap jadi gerobak sampah itu ada dua bocah di atas memperhatikan ibunya mengais tong sampah dan memungut gelas air mineral serta karton bekas.

ARA kembali berdiri. Diraihnya  beberapa gelas air mineral yang ada di dekatnya. Juga beberapa gelas bubur kacang hijau. Didekatinya gerobak becak itu. Air mineral dan bubur kacang hijau  diberikannya kepada kedua bocah yang duduk di atas tumpukan kardus bekas di atas gerobak.

Kedua bocah yang masih lugu itu hanya tersenyum  saat ARA memberinya air gelas dan bubur kacang hijau.  Ia mengelus kepala kedua bocah itu.  Lalu merogoh saku celananya. Lagi-lagi beberapa lembar rupiah berwarna biru dan merah diserahkan kepada dua bocah perempuan di atas gerobak becak itu.

ARA mengelus kepala kedua bocah itu dan berkata sesuatu yang tak terdengar orang di sekelililngnya.  Si ibu hanya tertegun melihat sosok laki-laki bertopi hitam dan berjaket merah muncul di depannya. Sosok yang tidak dikenalinya. Sosok yang bukan kerabat dekatnya. Sosok yang mungkin asing di matanya. Tiba-tiba memberinya seteguk  air dan uang untuk anak-anaknya.

‘’Iye Pak, terima kasih banyak Pak. Terima kasih kodong,” katanya berkali-kali sambil mencium tangan kanan ARA.

ARA hanya tersenyum. Dua bocah di depannya pun hanya diam menyaksikan ibunya tertunduk mencium tangan lelaki di depannya.

‘”Salamakki Pak. Ku doakan banyak rejekita,” katanya dengan logat bahasa Makassar yang kental.

Berapa warga yang melihat sikap spontan ARA, mengaku kagum dengan sikap santun politisi muda ini.

‘’Banyak angota dewan yang saya kenal, tapi baru kali ini saya lihat ada anggota dewan yang mau makan di pinggir jalan, berbaur sama orang biasa dan ngobrol dengan pemulung. Subuhanallah,” kata Dahlia yang diamini suaminya, Mustakim, pedagang  K-5 yang sedang membongkar lapak jualannya.

Terkait aksi spontanitas yang dilakukan kepada dua pemulung, ARA tak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu kembali duduk di bangku dan kembali berbincang dengan sejumlah koleganya yang baru saja melakuakn olahraga di Ahad pagi itu.

“Ya, seperti itulah Pak ARA. Dari dulu, sebelum jadi anggota dewan hingga sekarang tetap bersahaja. Tidak pilih-pilih tempat. Di pinggir jalan juga oke,” ujar Bahar, salah satu koleganya yang diditemani ngobrol Ahad pagi itu.

 

Penulis : Asri Syahril

News Feed