Kerap Merasa Benar Sendiri, Danny Pomanto Ditinggal Timnya Beralih ke Appi-Rahman

  • Whatsapp
Calon Walikota Makassar Munafri Arifuddin disambut antusias warga pulau.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Mukhtar Masri adalah salah satu pendukung Danny-Pomanto saat berpasangan Syamsu Rizal yang kini secara terang-terangan mengalihkan dukungan kepada pasangan Appi-Rahman di Pilwakot Makassar.

Eks anggota tim Program Percepatan Pembangunan Kota Makassar era Wali Kota Danny Pomanto itu mengungkapkan sejumlah alasan memilih Paslon nomor urut 2.

Muat Lebih

“Appi-Rahman saya kira ini pasangan yang bagus, ini paket yang menurut saya bagus, satu birokrat satunya pengusaha, jadi satu yang urus pemerintahan, satu yang mengurus investasi. Makassar ini butuh investasi kalau untuk APBD semua saya kira Makassar tidak akan terbangun dengan APBD kita karena cukup kecil,” ucapnya.

“Melihat programnya (Appi-Rahman) ini cukup banyak menyentuh masyarakat, jadi memang harus ada investor dan Pak Appi saya kira punya modal dan kemampuan untuk menghadirkan itu,” sambungnya.

Ketua RW 02 Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, ini mengungkapkan dirinya mengalihkan dukungan atas beberapa pertimbangan.

“Sebenarnya saya masuk di tim program percepatan kota Makassar, saya ada 20 orang itu mendampingi beliau untuk mengawal program-program, tetapi beliau tidak memperhatikan apa yang kadang kita usulkan, jadi kadang beliau bekerja sendiri,” ungkapnya.

“Berakhirnya Pak Danny 2018 saya sudah tidak sama beliau lagi, saya pikir saya ingin pembaharuan,” katanya.

Baginya kota Makassar ini membutuhkan pemimpin yang mau mendengar dan bekerjasama dalam merancang sebuah program.

“Sementara kita ada sebagai pendamping, nah itu salah satu yang membuat saya tidak mendukung lagi, karena tidak mendengarkan apa yang kita berikan saran,” sambungnya.

Menurutnya sikap enggan mendengar masukan atau bekerjasama dengan bawahan ini tidak tepat sebagai pemimpin untuk kota sebesar Makassar.

Mukhtar Masri mencontohkan, program wali kota sebelumnya pun dikerjakan secara instan sehingga menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Cukup banyak program yang tidak terealisasi karena sifatnya instan, beliau memang saya akui cerdas tapi setelah itu kita buat programnya terputus sampai disitu tidak berkelanjutan, sementara kita ingin ini berkelanjutan. Kadang tidak diterima oleh masyarakat, perencanaan tidak matang kesannya terburu-buru seperti gendang dua kemarin, kenapa ada gendang dua, kenapa ada mobil tangkasa,” ungkapnya.

Seluruh program yang disampaikan di atas kemudian menurutnya tidak berjalan lantaran tidak disosialisasikan secara baik, melainkan bersifat instan.

“Ini tidak connect, gendang dua diperuntukan untuk sampah mobil, akhirnya muncul masalah karena masyarakat tidak paham, gendang dua itu sebenarnya bukan diperuntukan untuk sampah rumah tangga tapi sampah pengendara mobil atau pejalan kaki yang punya botol, punya kertas, itu ditaruh di situ,” paparnya. (andi)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan