INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan kalender Islam. Tahun ini jatuh pada tanggal 29 Oktober. Di Indonesia sendiri, perayaan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Nabi dilakukan dengan banyak ragam.
Salah satunya, menggelar Shalawatan bersama keluarga, teman sejawat, ataupun dalam lingkup formal. Terkhusus pada adat Bugis-Makassar sendiri, shalawatan dikenal dengan istilah ‘Mabbarasanji’ (Barzanji) di hadapan para hadirin dengan sajian telur hias dan ‘kaddo minyak’ (nasi ketan) tergeletak di depan penyair.
Merujuk pada sejarah, Mabbarasanji merupakan tradisi perpaduan agama Islam dengan kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar yang bertahan hingga sekarang. Pembacaan syair yang berisikan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dilantunkan dengan nada-nada tertentu sebagai pemeriah acara.
Biasanya, Mabbarasanji dilakukan ketika diadakan perayaan Maulid Nabi. Seiring berjalannya waktu, ini menjadi adat tersendiri dimana masyarakat Bugis-Makassar melakukan pembacaan syair ini sebagai pembuka acara adaat, semisal ‘Mappaccing’, ‘Aqiqah, ‘Antama Balla’, dan lain-lain.
Namun, bagaimana tradisi ini dimata ‘Pabbarasanji’ (Pembaca Syair) itu sendiri?
Pada Kamis, (29/10/2020), tim redaksi Narasibaru.com berkunjung ke rumah Muh. Tajuddin Nur (53) di Kelurahan Maccini Sombala, Makassar. Ia terlihat mengenakan seutelan gamis warna coklat yang menjulur hingga ke mata kaki. Nampaknya, ia sedang bersiap-siap untuk bergegas ke tempat acara untuk membacakan Barzanji.
Sebelum berangkat, Tajuddin menyempatkan untuk menceritakan pengalamannya sebagai Pabbarasanji. Rupanya ia cukup populer bagi masyarakat Makassar karena sering memakai jasanya. Profesi sebagai Pabbarasanji ia telah jalani selama 2 dekade atau 20 tahun lebih.
“Deh lama sekalima ini, mungkin sekitar tahun ’94 saya mulai belajar-belajar. Akhirnya dikenalma sampai sekarang,” ujar Guru sapaan akrab Tajuddin.
Sambil menghisap rokok ia menjelaskan singkat bahwa Barzanji itu merupakan kisah-kisah hidup Nabi Muhammad Saw. Inilah syair-syair yang ditulis sebagai wujud kecintaan pada Nabi Muhammad Saw.
“Seluruh isinya membahas mengenai riwayat hidup Nabi. Mulai dia lahir, diangkat jadi Rasul, Beristrikan Khadijah RA, sampai dia meninggal. Ada semua itu di teksnya,” katanya.
Ini sebenarnya tradisi islam yang dipadukan dengan adat Bugis-Makassar. Menurut orang tua dulu, ia melanjutkan, ketika diadakan Barzanji, itu untuk membuka ruang hati bagi yang mengadakan lawatan. Biasanya tuan rumah menyediakan kaddo minyak, telur, serta buah pisang sebagai syarat pelengkap.
“Biar besar-besar hatinya kasihan. Apalagi kalau mau kawin, masuk rumah, yah begitu. Saat Maulid intinya paling seringmi dilakukan,” pungkasnya.
Terdapat perbedaan khusus untuk daerah Bugis-Makassar dalam pembacaan syair ini. Ada kalimat tertentu yang menandakan acara telah dimulai. Semisal pertanda dimulainya ‘mappacing’ atau tradisi rampas telur maulid.
Asaraka al badarongon alaa ahaina aipatopangatamele ogo lobodo ohore”, Sepotong kalimat syair yang dibaca serentak oleh para penyair. Kata Tajuddin, sembari ini dibaca lantas semua anggota pabbarasanji berdiri. Beda versi jikalau Barzanji umum, biasanya diucap, “ya Habib salam alaika, ya Rasul salam alaika”.
Tradisi ini mengandung nilai-nilai falsafah sendiri bagi masyarakat. Semisal untuk acara pernikahan, Barzanji dimaksudkan agar kiranya dalam berumah tangga, dapat menumbuhkan keluarga bahagia seperti Nabi Muhammad Saw.
“Nantinya, kau akan menjadi suami yang baik, seperti teladan Nabi Muhammad Saw,” ujar Guru.
Menjalani Profesi Sebagai Pabbarasanji
Melakoni profesi sebagai Pabbarasanji, awalnya ia hanya ikut belajar dengan Imam Desa dan Pabbarasanji senior lain. Tajuddin yang diketahui terangkat sebagai Imam Kelurahan setempat pada 2016 ini, mengatakan bahwa ia diajak ikut ini karena sejak muda pintar mengaji dengan lantunan lagu yang cukup indah.
“Tahun 94 mulaima belajar-belajar sendiri. Ikut-ikut. Tapi secara profesional mulai (tahun) 97,” ungkapnya sembari tertawa.
Ia kemudian mengambil kitab Barzanji dari dalam lemarinya dengan sampul berwarna yang terlihat cukup tebal. Melanjut ceritanya, ia mendidik anggota sekitar rumahnya untuk ikut ketika ada panggilan Barzanji.
“Dari anak-anak muda sampai orang tua umur 60 tahun juga biasa ikut. Lumayan toh kalau ada orderan, daripada duduk kosong. Paling sedikit itu 5 orang dipanggil kalau ada acara, pernah diminta sampai 12. Tergantung tuan rumah juga.” kata Tajuddin.
Tajuddin mengaku tradisi Mabbarasanji masih eksis sampai sekarang. Terbukti ia masih kebanjiran orderan setiap harinya.
“Samaji sebenarnya dari dulu sampai sekarang. Melekatmi memang ini tradisi kalau di masyarakat. Biasa kalau lagi rame-ramenya pengantin bisa dapat orderan sampai 5 kali sehari. Alhamdulillah,” imbuhnya.
Sementara itu Dean Catra (24) mengatakan ia sering ikut bersama Tajuddin sebagai pembaca syair. Ia mengaku sering dipanggil sejak tahun 2016.
“Sudah 5 tahunma kayaknya ini ikut. Tapi kalau sibukka kerja adaji juga anak-anak yang lain. Lumayan tambah-tambah pembeli rokok. Selesaiki baca Barzanji dikasihki amplop sama makanan. Nda adaji patokan harga, seikhlasnyaji. Biasa Rp20-50 ribu isinya,” ungkap Dean.
Dean mengaku setiap malam jumat sudah ada jadwal rutin di salah satu rumah daerah Sungguminasa Gowa. Mabbarasanji dilakukan setelah yasinan.
Penulis: Ihsan Ismail





