INFOSULSEL.COM,MAKASSAR – Lapak-lapak kuliner berjejer rapi di dua sisi di pasar takjil di Jalan Mappanyukki. Ratusan pedagang takjil menawarkan aneka macam menu. Pasar dadakan yang hanya ada di bulan Ramadhan ini panjangnya sekitar 100-an meter. membentang dari Jalan Ujung Jalan H Bau di Utara dan perbatasan perempatan Jalan Merapi -Mappanyukki di sebelah setalan.
Setiap tahun, pasar takjil Ramadhan ini selalu ramai dikunjungi warga jelang waktu buka puasa. Ratusan pedagang mulai membuka lapaknya pada pukul 15.00. Setiap sore kawasan ini ramai didatangi orang-orang. Namun, pemandangan ini hanya dapat kita saksikan pada bulan Ramadan. Selama satu bulan penuh para pedagang dan masyarakat Makassar selalu menanti kehadirannya.
Ya, pasar ini begitu spesial. Karena hanya digelar pada saat bulan Ramadan. Di sini banyak masyarakat Makassar mencari takjil untuk berbuka puasa. Bagi para pedagang, pasar sore ini menjadi ladang rezeki yang melimpah dan selalu dinanti setiap tahun.

Kegiatan ini sudah berlangsung belasan tahun. Awalnya pasar takjil dadakan ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah pasar. Dulu penjualnya hanya dua sampai tiga orang. Kemudian setap tahun jumlahnya bertambah. Hingga akhirnya masayarakat setempat menyewakan lapak-lapak beratap tenda.
“Awalnya warga berjalan sendiri-sendiri untuk berjualan. Ibu-ibu memasang lapaknya sendiri. Kami tidak tega melihat ibu-ibu memasang tenda untuk berjualan. Maka kami berinisiatif untuk mengelolanya secara lebih baik,” ujar Cawi.
Seiring berjalannya waktu, pasar yang tadinya diisi oleh warga setempat semakin banyak dihadiri oleh para penjaja makanan. Mereka memilih membuka lapak di sana karena memang selalu ramai pembeli.
Pasar sore takjil dikelola oleh warga setempat. Setiap tahun kurang lebih 100 pedagang yang membuka lapak di sini. Karena hanya digelar pada bulan Ramadan, para pedagang tidak perlu repot-repot membangun lapak, memasang tenda dan menggelar meja. Panitia setempat sudah menyiapkan.
Makanan yang dijual pun beragam. Mulai makanan ringan dan makanan tradisional seperti jalangkota, pisang goreng, bakwan, barongko, pallu butung, kola pisang, cendol dan kolak, dan beberapa penganan tradisional cukup menggoda selera. Tak ketinggalan pula sajian takjil modern seperti sop buah dan salad yang juga berderet manis di barisan takjil yang siap melepas dahaga.
Hj Masita salah satu pedagang di pasar ramadhan Mappanyukki mengaku telah berjualan selama tujuh tahun. Ia menjajakan berbagai kue tradisional, gorengan dan sajian menu es buah.
Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau. Mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Sementara untuk kue dan gorengan mulai Rp 2 ribu hingga rp 5 ribu per biji.
Menurut Masita, kawasan ini sudah belasan tahun jadi pasar Ramadhan. Pasar Ramadhan ini awalnya dicetuskan oleh Ande Abdul Latief, seorang pengusaha yang mengelola jasa perusahaan jasa travel ibadah umroh dan haji. Puang Ande, adalah tokoh masyarakat di Kelurahan Kunjung Mae, kecamatan Mariso.
‘’Saya menjual di tempat ini karena sudah banyak dikenal masyarakat sebagai pusat jajanan tiap Ramadhan,” aku Syamsiah yang menjual aneka menu takjil.
Penulis : Asril





