INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Intoleransi masih menjadi persoalan yang belum berkesudahan. Kasus demi kasus terus meningkat seolah tanpa akhir. Sejak Orde Baru, isu Intoleransi selalu menjadi prioritas berbagai kelompok sosial seperti organisasi politik, NGO, aktivis mahasiswa dan pemuda, serta lain sebagainya.
Intoleransi terjadi akibat banyak faktor mulai dari kelompok mayoritas yang merasa terpinggirkan karena kehadiran segerombolan minoritas, mayoritas selalu merasa superior yang selelau menempatkan minoritas sebagai imperior. Kajian akademis, terus dihadirkan demi memecah akar kebuntuan persoalan intoleransi.
Pelaku intoleransi-pun beragam. Mereka biasanya dari kelompok agama, organisasi, komunitas adat ertentu, dan masih banyak lagi. Padahal kampanye konsensus (kesepakatan) perdamaian selalu hadir di berbagai ruang publik, namun sekali lagi, provokasi yang bernilai intoleran terlihat lebih seksi bagi sebagian orang. Ini makin terasa ruwet di situasi gempuran Pandemo Corona Virus Desease (Covid) 19.
Tema besar ini kemudian menjadi tajuk dalam Dialog akhir tahun yang diselenggarakan oleh Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel di Red Corner Cafe, Makassar, Kamis (17/12/2020) dengan menghadirkan empat narsumber, diantaranya Ketua FKUB Makassar, Prof Dr. h Arifuddin MAg, Peneliti Balai Litbang Agama Makassadz Dr. Syamsurijal Adnan MSi, Sekretaris Kesbangpol Makassar Akhmad Namsum, Pegiat Perdamaian Makassar, Andi Suaib, dan Direktur YPMIC Nur Hidayah.
Dalam pemaparannya, Prof Arifuddin mengungkapkan, mendialogkan masalah intolenransi harus dipercepat pada tahapan pencarian solusi. Kemudian memediasi umat kepada pemerintah terkait kebebasan beragama, seperti pendirian rumah ibadah yang jelas terikat dengan aturan tertentu.
“soal kebebasan beragama ada aturan masing-masing, tapi ada hal yang sifatnya universal yang dianut oleh semua agama misalnya soal kedamaian, toleransi dan lain-lain. Hal mendasar yang ingin saya komentarai pertama, faktanya tidak sedikit penganut agama ini menganggap dirinya yang paling benar dengan mengabaikan kehadiran kelompok lain. Yang kedua kehadiran tokoh agama ini harus mengambil peran, ada yang perannya formal yang disebutkan dalam perundang undangan dan non formal yang tidak tertulis dalam undang-udang,” ungkap Prof Arifuddin.
“Makna toleransi juga harus dibedakan dimana ruang-ruangn yang perlu menunjukan identitas dan dimana ruang yang tidak perlu menunjukan identitas. Yang sekarang ini yang jadi masalah, identitas yang seharusnya tidak dibawa di ruang tertentu malah memantik konflik sosial. Ada tiga aspek dalam membangun kerukunan dan keberagaman, aspek imaniyah, ilmiah dan akhlaqiyah,” sambunnya.
Sementara itu, Syamsurijal Ad’han banyak berbicara soal kebijakan moderasi beragama. Menurutnya, secara kebijakan, moderasi beragama menjadi isu penting dalam 3 tahun terkahir. Dalam RPJMN moderasi beragama menjadi su penting dalam pembangunan bangsa. Salah satu konsen kementrian agama dalam moderasi beragama yaitu generasi muda.
Karena yang paling mudah terpapar paham intoleran, disebutkan Ijhal, yaitu generasi muda. Hasil penelitian Litbang Makassar dan PPIM menunjukan generasi muda sangat mudah terpapar dengan menggunakan banyak pintu. Ia melihat sasaran moderasi beragama yaitu sekolah.
“Pembacaan ulang moderasi beragama, penekanannya cara beragama dan ada 4 poin penting. Dalam konteks Islam makna moderasi beragama yaitu keadilan. Rasulullah pertama datang bukan hanya mengajarkan teologis semata, tapi perombakan struksur sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain sebagainya. Yang terakhir, kita membutuhkan iman kecil dan pikiran yang besar kata mas Sobari,” tutur Ijhal.
Senada datang juga dari Dr. Nur Hidayah. Lebih jauh dilihatnya dari aspek berbeda. Menurut mantan Wakil Dekan di salah satu perguruan tinggi ini menganggap covid 19 ini mereset kembali kehidupan banyak semua orang dengan pembatasan ruang, waktu, dan jarak, tapi ada banyak kegiatan yang bisa kita lakukan bersama anak-anak muda.
Hampir semua wilayah termasuk Makassar, kataNur Hidayah, makasssar menjadi daerah kritis Covid-19. Sehingga, keberagamaan dan kesehatan mental menjadi yang yang peling dekat penting dijaga saat ini. Peran generasi muda juga sangat penting, dalam situasi ini banyak sekali berita hoax,bahkan melemahkan cinta keberagama.
“Saat ini memang aspek agama perlu diimplementasi, bukan dalam hal ritual agama tapi interaksi sosial. Kita sudah lemah dalam ketahanan sosial, tantangan ke depan kita bukan dalam kesehataan tetapi persoalan klamen cience. Tantangan kesehatan kita akan sangat dipengurhi oleh pemanasan global,”
Sedangkan pembicara terakhir, Andi Suaib berpendapat dengan kalimat seberapa penting kebijakan kerukunan dan keberaman dikota makassar. Seperti diketahui, Makassar menjadi salah satu sentral ekonomi Indonesia timur. Pentingnya satu kebijakan dalam menyelaraskan isu. Dalam data BPS angka kemiskinan mengalami penurunan.
“Sebenarnya ada peningkatan yang baik dari tahun ketahun tapi kita akan lihat dalam situasi pandemic ini bagaimana kemudian kebijakan pemerintah kota menyelaraskan isu kerukunan dan ekonomi. Dalam situasi pandemic kasus intoleransi menurut, mungkin karena aktivitas keagamaan dibatasi ruang,” papar Andi Suain.
“Secara keseluruhan, secara kebijakan bagaimana memproteksi kejadian-kejadian yang akan terjadi. Memang potensi toleransi semakin menningkat, memang selama ini kebijakan pemkot belum memberikan perlindungan kerukunan dan keberagamaan. Ada problem tersendiri yaitu tidak adanya konsolidasi masyarakat sipil, pemerintah, swasta. Peluang ditingkat kita yaitu sudah banyak CSO yang menyuarakan isu perdamaian, ini menjadi peluang tersendiri dalam membangun kerukunan dan keberagaman,” imbuhnya.
Diskusi-pun berlanjut ke sesi pertanyaan yang diakhir lagi dengam respon dari semua narasumber yang dihadirkan.





