INFOSULSEL.COM, JAKARTA | Karpet merah tidak pernah digelar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) untuk keberangkatan para atletnya ke ibu kota. Namun, di atas ring tinju Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Piala Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), dinginnya sikap birokrasi itu justru dibakar menjadi bahan bakar motivasi. Tiga petinju kakak-beradik—Holy, Bryan, dan Timothy—membuktikan bahwa darah juara tidak butuh validasi anggaran daerah untuk bisa bersinar.
Panggung pembuktian itu tersaji megah di Pluit Village Mall, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Berada di bawah sorot lampu ring, sang kakak tertua, Josua Holy Masihor, langsung menyentak publik tinju nasional.
Turun di kelas 57 kg elite putra, Holy hanya membutuhkan waktu satu menit di ronde pertama untuk melepaskan pukulan mematikan yang merubuhkan perlawanan petinju Papua Pegunungan, Uopdana, dengan status menang KO.
Napas kemenangan Holy belum juga reda saat sang adik, Yosafat Daniel Brayan Masihor, naik ke ring dua. Siswa kelas 1 SMA Negeri 2 Makassar yang turun di kelas 50 kg junior putra ini menunjukkan kematangan mental di atas rata-rata usianya.
Melalui pertarungan taktis sepanjang tiga ronde penuh, Bryan menyudahi perlawanan sengit wakil Sumatera Barat, Zahid Burhan Al Abqori, sekaligus memupus ambisi sang lawan untuk melaju ke babak semifinal.
Dominasi Masihor bersaudara sebenarnya sudah ditabuh sehari sebelumnya oleh si bungsu, Izack Timothy Ricardo Masihor. Menghadapi Dewa Ketri Sianipar, perwakilan Kepulauan Riau yang memiliki keunggulan postur fisik, Timothy tampil spartan. Di pertengahan ronde ketiga, sebuah kombinasi pukulan telak dari Timothy memaksa wasit menghentikan pertandingan atau Referee Stops Contest (RSC) karena lawan dinilai tak lagi mampu melanjutkan laga.
Rentetan hasil impresif ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan genetika prestasi yang mengalir deras. Ketiganya merupakan putra kandung Dufri Masihor, legenda tinju Indonesia legendaris peraih medali emas SEA Games 1997. Di bawah bayang-bayang nama besar sang ayah, trilogi Masihor ini berhasil membangun legasi mereka sendiri dengan rekam jejak yang mentereng di kancah domestik.
Sebelum mengguncang Jakarta, ketiganya sudah lebih dulu menguasai podium tertinggi. Holy merupakan pemegang medali emas PON XXI Acwh-Sumut 2024. Sementara dua adiknya, Bryan dan Timothy, adalah jawara nasional yang mengawinkan medali emas di kelas masing-masing pada Kejurnas Tinju Palu, Sulawesi Tengah, tahun 2025 lalu. Kehadiran mereka di Jakarta menegaskan status Sulsel sebagai salah satu kiblat pencetak petinju berbakat.
Ironisnya, kegemilangan prestasi ini lahir dari rahim kemandirian yang sunyi dari perhatian Pemprov Sulsel. Absennya dukungan finansial dan moral dari Pemprov Sulsel justru memicu ikrar sakral di antara ketiga bersaudara ini sebelum berangkat.
Mereka sepakat menjadikan keterbatasan ini sebagai pembuktian bahwa martabat dan prestasi olahraga Sulael bisa ditegakkan secara mandiri melalui sokongan dana pribadi Ketua Pengprov PERTINA Sulsel Harpen Reza Ali. Bahkan putra tokoh olahraga nasional asal Makassar A Reza Ali ini terus mendampingi atletnya selama di Jakarta.
Langkah berani Masihor bersaudara ini menjadi tulang punggung dari total enam petinju yang diterjunkan oleh Harpen Reza Ali di ajang bergengsi ini. Sang pelatih dan Pengurus PERTINA Sulsel memang harus memutar otak untuk memastikan talenta-talenta terbaik ini tetap bisa bertolak ke Jakarta demi menjaga marwah daerah di level nasional.
Selain trio Masihor, PERTINA Sulsel juga membawa tiga petinju potensial lainnya untuk melengkapi formasi tempur. Mereka adalah Andini yang turun bertarung di kelas 48 kg elite putri, serta Hindriawati Haer, petinju tangguh peraih medali perunggu pada PON XXI Aceh-Sumut yang kali ini mencoba peruntungannya di kelas 60 kg elite putri.
Satu nama lain yang mencuri perhatian adalah Otto Gesler. Seorang prajurit TNI AD aktif yang sehari-hari bertugas di Batalyon Kostrad Kariango. Sebagai pendatang baru di level Kejurnas, Otto langsung mengemban tugas berat dengan turun di kelas paling bergengsi dan penuh risiko, kelas 86 kg elite putra. Ia melengkapi barisan petarung Sulsel yang datang ke Jakarta untuk menang, bukan untuk meratap.(riel)





