Momentum Musprov ini sekaligus menandai akhir masa kepengurusan pertama Harpen Reza Ali, resmi selesai pada 30 November 2026. Selama empat tahun menakhodai Pertina Sulsel, putra tokoh olahraga nasional A. Reza Ali ini menorehkan tinta emas yang mengubah peta kekuatan tinju nasional.
“Di bawah komando Harpen Reza Ali, Pertina Sulsel mencetak sejarah baru dengan meloloskan 12 atlet ke PON XXI Aceh-Sumut 2024. Saya kira sebuah kuota kelulusan terbesar sepanjang sejarah partisipasi daerah ini. Prestasi tersebut bukan sekadar angka. Tim tinju Sulsel sukses membawa pulang enam medali. Termasuk medali emas kelas 54 kg yang disabet oleh Josua Holy Masihor.
Dominasi ring tinju di era Harpen bahkan menembus level internasional. Pada Kejuaraan Tinju Asia 2025 di Negeri Sembilan, Malaysia, Josua Holy Masihor kembali mengibarkan merah putih di podium tertinggi setelah menumbangkan petinju tuan rumah.
Lebih dari itu, pembinaan yang konsisten berhasil mengantarkan delegasi tinju Sulsel dua kali mewakili Indonesia di panggung dunia, yakni pada kejuaraan dunia di Uzbekistan (2023) dan Dubai (2025). Sebuah pembuktian bahwa talenta lokal mampu berbicara banyak di level global.
Namun, di balik gemerlap prestasi tersebut, tersimpan cerita ironis tentang perjuangan mandiri. Seluruh pencapaian fantastis ini, termasuk saat Sulsel sukses menjadi tuan rumah Pra-PON 2023 dan serangkaian Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), diraih tanpa kucuran bantuan sepeser pun dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel.
Ibarat menakhodai kapal di tengah badai, Harpen harus berjuang sendirian di depan kemudi demi memastikan atlet dan pelatih sampai di dermaga prestasi. Dedikasi pemuda berusia 32 tahun ini diuji lewat pengorbanan finansial yang fantastis. Termasuk harus merogoh kocek pribadi hingga miliar rupiah untuk membangun sebuah Gedung Olahraga (GOR) di atas lahan 3.000 meter persegi di Jl. AP Pettarani.
Menanggapi nihilnya atensi pemerintah, Sri Syahril melontarkan kritik pedas. Menurutnya, berharap pada sokongan Pemprov Sulsel saat ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Sebuah kemustahilan yang sangat disayangkan di tengah lesunya perhatian anggaran terhadap prestasi olahraga daerah selama lima tahun terakhir.
Oleh karena itu, kriteria tinggi ditetapkan bagi calon pengganti. Selain syarat administratif seperti KTP Sulsel, visi-misi yang jelas, serta dukungan minimal dari 10 Pengkab/Pengkot, figur masa depan Pertina Sulsel diwajibkan memiliki ketahanan finansial serta ketulusan untuk berkorban waktu dan tenaga demi menjaga marwah tinju Sulsel.(riel)






