Sekilah Tentang Gereja Katedral
Gereja Katedral Makassar dibangun tahun 1898. Lokasinya berada di jantung Kota Makassar. Di belakang kompleks gereja berdiri Kantor Balaikota Makassar. Tak begitu jauh berdiri Markas Polrestabes Makassar. Gereja bernama Gereja Hati Yesus yang Maha Kudus, ini merupakan gereja tertua di Kota Makassar.
Awal mula gereja ini didirikan sekitar tahun 1525, tak lepas dari peran Raja Gowa yang pertama kali memeluk Islam, yaitu Sultan Alauddin (1591–1638). Lalu pada tahun 1633, Raja Gowa memberi kebebasan kepada umat sejumlah misionaris Katolik dari Portugal untuk beribadah, termasuk mendirikan gereja. Namun, gejolak politik antara VOC dan orang-orang Portugis semakain memanas membuat para rohaniawan terpaksa angkat kaki dari Makassar.
Lalu setelah ditandatangninya perjanjian Batavia pada 19 Agustus 1660, seluruh warga Portugis harus keluar dari Makassar. Sejak itu, selama 225 tahun, tidak ada pastor yang menetap di Makassar untuk melayani ibadah para umat.
Hingga akhirnya pada pada 1892, Pastor Aselbergs, SJ dari Larantuka, NTT, ditugaskan menjadi Pastor Stasi Makassar pada 7 September 1892. Saat itu Pastor Aselbergs tinggal di sebuah rumah di Heerenweg (kini Jalan Hasanuddin).
Lalu pada 1895, setelah membeli sebidang tanah dan rumah di Komedistraat (kini Jl. Kajaolalido), mulailah dibangun Gereja Katedral di Makassar. Gereja tersebut sempat direnovasi dan diperluas pada tahun 1939 dan selesai pada 1941 dengan bentuk seperti saat ini.
Dilansir dari situs www.kemdikbud.go.id, bangunan Gereja Katolik Katedral berdiri di area 8006 meter persegi. Bangunan di dalam Gereja Katedral Makassar terdiri dari bangunan utama (ruang ibadah utama) dan menara pada bagian depan (timur).
Lingkungan gereja dibatasi oleh pagar keliling dan beragam vegetasi seperti pohon palem, cemara dan jenis tanaman perkarangan. Posisi gereja yang berada tepat di sudut jalan Kajaolalido dan Jalan Kartini, memudahkan akses masuk dari kedua jalan tersebut.
Sebagai informasi, pada 13 April 1937 wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma. Sebagai penanggung jawab, Sri Paus di Vatikan Roma, menunjuk para misionaris CICM, dengan Mgr. Martens sebagai prefek. Lalu, pada tanggal 13 Mei 1948 status wilayah menjadi Vikariat Apostolik Makassar, dan tanggal 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar.
Saat kejadian bom bunuh diri di pintu masuk gereja ini, Minggu (28/3/2021) pagi tak ada bangunan gereka yang mengalami kerusakan.(dbs-riel)






