INFOSULSEL.COM, MAKASSAR | Di atas ring tinju, seorang atlet tahu siapa lawan yang mereka hadapi. Namun, bagi ratusan petinju amatir di Sulawesi Selatan (Sulsel) lawan terberat mereka menjelang Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XVIII 2026 ternyata bukan lawan tanding di sudut merah atau biru, melainkan dinginnya tembok birokrasi dan minimnya kepedulian dari otoritas olahraga daerah.
Di tengah jeratan keterbatasan anggaran dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan ketidakpedulian KONI Sulsel, Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Indonesia Sulawesi Selatan (Pengprov Pertina Sulsel) menolak untuk lempar handuk. Mereka memilih tetap tegak berdiri. Menantang kemustahilan demi memastikan Kejuaraan Tinju Amatir PORPROV XVIII tetap bergulir pada 7 hingga 12 November 2026 di Lapangan Merdeka, Kota Sengkang, Kabupaten Wajo.
Lampu ring akan tetap menyala untuk 160 petinju dari 18 kabupaten dan kota di Sulsel. Sebanyak 20 medali emas—terdiri dari 11 kelas putra dan 9 kelas putri—menanti untuk diperebutkan. Namun di balik gemerlap medali tersebut, ada keringat pengurus yang bercucuran. Mencari dana talangan yabgbtidak sedikit.
Menolak Mengorbankan Keringat Atlet
Sekretaris Pengprov Pertina Sulsel yang juga bertindak sebagai Technical Delegate (TD) Cabor Tinju, Sri Syahril, mengungkapkan keputusan untuk tetap menggelar ajang empat tahunan ini murni demi menghargai darah dan air mata para atlet. Pertina Sulsel terpaksa memutar otak mencari dana tambahan sekitar Rp 300 juta untuk menutupi defisit anggaran yang menganga.
“Apa boleh buat. Kami terpaksa mencari tambahan anggaran demi menghargai jerih payah para atlet dan pelatih yang telah bersusah payah berlatih demi membawa nama harum daerah mereka,” ujar Sri Syahril dengan nada getir.
Bagi Pertina, berharap pada ketukan hati KONI Sulsel saat ini adalah sebuah kesia-siaan dan keniscayaan. Sri menilai, jika KONI Sulsel serius membangun prestasi, ruang diskusi sejak awal pasti sudah dibuka. Bukan justru memilih bungkam di saat genting.
“Percuma berharap KONI Sulsel. Buang-buang waktu saja. Kalau mereka serius, seharusnya sejak awal mereka mengajak Pengprov Cabor berdiskusi mencari solusi. Bukan malah diam,” cetusnya.





