AHY Sosok Pemuda yang Cerdas, Berwibawa dan Kesatria

INFOSULSEL.COM — Pemilihan Presiden (Pilpres)  masih dua tahun lagi. Namun pembicaraan siapa kandidat Presiden dan Wakil Presiden sudah mulai terasa. Tidak hanya  sebatas di elit politik,  tapi sudah melebar ke warung-warung kopi bahkan  media sosial.

Berdekatan dengan tiga tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dua lembaga riset Polmark dan Roda Tiga Konsultan (RTK) mengeluarkan hasil survey. Salah satu titik fokusnya adalah elektabilitas Capres dan Cawapres.

Bacaan Lainnya

Polmark melakukan survei terhadap 2.250 responden yang tersebar di 32 provinsi. Survei ini dilakukan pada 9-20 September 2017 dengan metode multi stage random sampling dengan margin of error +/- 2,1 %. Hasilnya Jokowi masih teratas diikuti Prabowo.

Ada kejutan yang terjadi. Ternyata nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menempati posisi ketiga. Anak muda ini mengalahkan nama-nama kondang lainnya, seperti Zulkifli Hasan, Megawati, Hari Tanoe, Gatot Nurmantyo dan Anies Baswedan.

Hasil tidak jauh berbeda yang dilansir RTK. Survei yang digelar pada 15-29 September 2017 dengan 2.600 responden menggunakan metode Stratified systemic random sampling dalam survei ini, serta Margin of error survei 2,0% dan quality control sebesar 20%. Jokowi, Prabowo dan AHY menempati posisi tiga besar. Namun dari sisi angka antara Jokowi dengan Prabowo tidak terlalu besar seperti yang disampaikan Polmark.

Menurut Muhammad Rafiuddin Zamzami, seorang penulis dan pengamat politik, jika di Polmark selisih antara Jokowi dan Prabowo mencapai 20 persen, sedangkan di RTK hanya berkisar 12 persen. ‘’Kesamaan dari keduanya adalah posisi AHY di posisi ketiga, dan berhasil mencuri panggung para jawara politik tanah air,” ujar Muhammad Rafiuddin dalam sebuah tulisannya.

Jika merunut kepada ucapan Mendagri Tjahjo Kumolo beberapa waktu lalu tentang kemungkinan adanya tiga pasangan calon di Pilpres 2019, maka kita bisa berandai-andai kandidat yang bertarung adalah diposisi tiga besar, yaitu Jokowi, Prabowo dan AHY.

Menarik jika ini terjadi. Karena bagi Jokowi Pilpres 2019 adalah kesempatan kedua. Jika menang maka itu terakhirbaginya. Bagi Prabowo Pilpres 2019 kemungkinan bakal pencalonanya yang terakhir pula. Karena faktor usia.  Prabowo telah dua kali kalah di kompetisi resmi, pada 2009 kalah bersama Megawati, dan 2014 kalah dengan Jokowi.

Sedangkan bagi AHY ini adalah kesempatan pertama bertarung dilevel tertinggi. Meski baru hitungan satu tahun terjun ke dunia politik, putra sulung Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudonoyo ini telah menjadi magnet baru dan menyedot perhatian masyarakat Indonesia.

“Dengan usia yang baru menginjak 40 pada tahun 2019, AHY punya kesempatan panjang mengabdi didunia politik. AHY diprediksi bisa jadi penentu di Pilpres 2019,” katanya.

Dalam survei yang dilaksanakan RTK juga menyertakan kemungkinan siapa kandidat Cawapres dua kandidat terkuat. Dari beberapa komposisi yang diberikan, masyarakat ternyata memberikan respon yang cukup variatif. Dari sekian nama yang disodorkan, ternyata ada kandidat Cawapres yang memberikan paling besar keuntungan penambahan pemilih bagi Capresnya.

Nama itu ternyata lagi-lagi adalah AHY. Jika dia dipasangkan dengan Jokowi, angka keterpilihan mereka mencapai 37 persen, sedangkan dengan Prabowo mencapai 29 persen. Dibandingkan kandidat Cawapres lain seperti Gatot, Puan, Anies, nama AHY lebih memberikan dampak lebih besar.

Belajar dari pengalaman pada tahun 2014, posisi Cawapres sangat menentukan kemenangan. Lihat bagaimana JK memberikan keuntungan besar untuk Jokowi dengan kemenangan telak di Indonesia bagian timur. Hal serupa sepertinya berlaku ditahun 2019 mendatang. Salah dalam menentukan posisi Cawapres, maka peluang untuk tumbang juga bakal besar.

Muncul nama AHY dalam pertarungan menuju Pilpres 2019 baik itu sebagai Capres ataupun Cawapres, menunjukkan putra SBY ini akan jadi penentu.

Menurut Ketua DPRD Makassar, Adi Rasyid Ali,  Sosok AHY akan menjadi opsi untuk Pilpres kedepan bagi rakyat Indonesia. Disamping sebagai refresentasi dari kalangan muda di mata ARA, sapaan AHY cukup punya pengalaman yang mumpuni baik di dunia militer maupun politik.

”AHY baru saja mengikuti pilkada DKI. Sekalipun belum berhasil namun AHY mampu menjadi magnet.  Ditambah lagi ayahnya adalah mantan presiden RI dua periode. Tentu banyak pelajaran yang bisa didapatkan AHY dari sosok SBY, yang mampu menata Indonesia menjadi lebih berwibawa di mata dunia,” ujar ARA yang juga Ketua Pertina Sulsel ini, Senin (23/10/2017).

Lalu apa yang membuat masyarakat mulai melirik sosok AHY. Bukankah dia masih baru dalam dunia politik, dan mengalami kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta? Merujuk kepada ucapan budayawan Jaya Suprana yang mengatakan AHY wajib kalah di DKI karena jabatan itu terlalu rendah bagi dirinya. Pendiri MURI itu mengatakan sikap kenegawaran yang dimiliki AHY lebih cocok mengabdi dilevel nasional.

Karena kalah di DKI Jakarta, masyarakat menjadi mengetahui bagaimana sikap seorang AHY sebenarnya. Secara kesatria dia menerima kekalahannya. “Dan itu dibuktikan secara tindakan bukan hanya omongan. Lihat bagaimana AHY merajut kembali silaturahmi dengan Anies Baswedan sebagai pemenang, dan Ahok yang tengah menjalani hukuman,’’ sebut Rafiuddin.

Menurutnya, AHY dinilai bakal jadi penentu karena dia punya beberapa keuntungan. Rafiuddin menyebut AHY cerdas. Hal ini terbukti dari banyaknya prestasi yang ditorehkan suami Anissa Pohan itu baik dalam negeri maupun luar negeri.

Kedua kecintaaanya terhadap NKRI. “Dengan menjadi seorang prajurit AHY tidak perlu diragukan lagi tentang kecintaannya terhadap republik ini,” katanya.

Ketiga basis daerah pemilih, AHY memiliki keterikatan dengan banyak daerah. Orangtuanya berasal dari Jatim, lahir di Jabar, tinggal di Jakarta. Daerah-daerah itu merupakan basis suara terbesar di Indonesia.

Keempat mewakili pemilih pemuda. Dengan tingginya angka pemilih yang berusia muda saat ini, memberikan keuntungan bagi AHY sebagai perwakilan dari pemuda. Karena kecenderungan pemuda untuk memilih dirinya juga akan semakin besar.

Banyak faktor lain yang membuat AHY menjadi sosok yang menentukan. Menarik untuk ditunggu, apakah AHY bakal menjadi kandidat ketiga diantara Jokowi dan Prabowo. Atau AHY akan menjadi Cawapres yang memberikan keuntungan bagi siapapun kandidat Presiden pada Pilpres 2019 yang akan datang.

Dalam waktu dekat AHY akan berkunjung ke Makassar. Ayah satu anak itu  akan menghadiri sebuah acar di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). “Selamat datang AHY di Makassar jangan lupa mencicipi wisata kuliner kota Daeng,” kata ARA.

Penulis : Aril/dbs

Pos terkait