Mewah dan Termurah di Dunia, Stadion Barombong Bakal Jadi Ikon Baru Sulsel

Kadispora Sulsel Sri Endang Sukarsih didampingi DR Mukhlis Mallajareng, Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Sulsel bersama tim putri Galanita Sulsel di Stadion Barombong, usai melakoni laga uji coba di Stadion Barombong(FOTO: SRI SYAHRIL)

INFOSULSEL.COM,MAKASSAR — Libur nasional di penghujung tahun 2018 dijadikan moment bagi Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Sulsel menggelar acara syukuran  atas selesainya pekerjaan konstruksi fisik dan pemasangan atap Stadion Barombong tahun anggaran (TA) 2018.

Acara kumpul-kumpul yang digelar Ahad (23/12/2018) pagi ini berlangsung sederhana di pelataran bagian barat stadion yang digagas Syahrul Yasin Limpo ini. Tak ada acara seremoni.

Bacaan Lainnya
DR Mukhlis Mallajareng, Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Sulsel. (FOTO: SRI SYAHRIL)
‘’Ini kumpul-kumpul biasaji. Kita mensyukuri nikmat Allah yang telah memberikan kita kesempatan untuk menyelesaikan satu tahapan lagi yakni pembangunan fisik atap Stadion Barombong,” jelas Kadispora Sulsel, Sri Endang Sukarsih, kepada INFOSULSEL.COM, Ahad pagi.

Rasa kekeluargaan di acara syukuran ini sangat terasa.  Sejumlah pejabat Dispora berbaur dengan warga sambil menikmati ikan bakar, cobe-cobe, racca mangga dan  sayur asem.

Mukhlis Mallajareng, diantara pejabat Dispora Sulsel yang hadir. Ia adalah Kepala Bidang (Kabid) Peningkatan Prestasi Olahraga Dispora Sulsel.  Hadir pula mantan Kadispora Sulsel, Syamsudin Umar dan sejumlah legenda PSM  serta dedengkot suporter PSM.

Rangkaian acara syukuran diisi pertandingan persahabatan sekaligus uji coba lapangan Stadion Barombonn. Hadir sejumlah tim. Diantaranya all star alumni Smansa yang dihuni sejumlah mantan pemain PSM, dua tim PPLP (Smanko), tim kesebelasan perempuan Galanita  yang diarsiteki Dadang Talani dan tim kerukunan Ketua RT/RW se kelurahan Barombong.

Syamsuddin Umar adalah sosok yang paling berbahagia melihat progres pembangunan stadion yang terletak di bibir pantai ini. Mengapa tidak. Ia adalah mantan Kadispora Sulsel yang juga mantan pemain dan pelatih PSM, tim kebanggan masyarakat Sulsel.
Mantan Kadispora yang juga mantan pemain dan pelatih PSM serta mantan pelatih timnas Indonesia, Syamsuddin Umar di Stadion Barombong.

Senyumnya terus merekah. Beberapa kali ia membuka smartphonenya lalu diperlihatkan kepada Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Kadir Halid. Juga  kesejumlah pejabat yang hadir atas respon tokoh-tokoh sepakbola dan tokoh olahraga  nasional terhadap progres pembangunan Stadion Barombong.

‘’Hanya beberapa detik saya memposting foto,  orang di seluruh dunia langsung komentar positif terhadap pembangunan Stadion Barombong,” sebut SU sapaannya kepada Kadir Halid sembari memperlihatkan sejumlah pesan di beberapa grup WhatsApp (WA) melalui smartphonenya.

Pelatih yang membawa PSM juara musim kompetisi 1999-2000, betul-betul merasa sangat bahagia. Ia berharap pembangunan stadion ini bisa segera selesai dan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Sulsel. Ia juga berharap segera bisa uji coba lapangan bersama all star PSM dan skuad PSM, kelak.

‘’Semoga Stadion Barombong segera dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Sulsel. Mari kita support. Ewako PSM,’’ tegas pelatih yang pernah menjadi asisten Peter White dan Ivan Kolev di Timnas Indonesia itu.

Sebagai mantan pemain dan pelatih PSM yang pernah berguru sepakbola sampai ke negeri Samba, Brasil ini yang ada dalam pikirannya bagaimana tim kebanggan masyarakat Sulsel memiliki stadion megah bertaraf internasional. Stadion Barombong menjadi satu-satunya harapan Syasuddin Umar.

‘’Hanya PSM di pikiran saya, dan di pikiran kita semua. PSM di hati kita, PSM kebanggaan kita, PSM harga diri kita dan PSM ikon kita semua. Ayooooo mari kita selesaikan Stadion Barombong,”  tegas kakek tujuh cucu ini sembari menatap ke atap stadion Barombong yang barui saja rampung. Ini mengingatkan SU dengan stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan Jakarta.
Salah satu pemain dari skuad Galanita Sulsel berusaha merebut bola dari pemain all star Smansa di lapangan Stadion Barombong, Ahad (23/12/2018).(FOTO: SRI SYAHRIL)

Hingga akhir tahun 2018, pembangunan Stadion Barombong terus dilakukan. Tahun ini telah selesai 100 persen untuk empat item yakni atap, arsitektur dalam stadion, jalanan di seputar stadion serta pintu depan. Anggaran yang telah dihabiskan baru Rp 226 milyar. Melihat anggaran yang telah dihabiskan dengan penyelesaian fisik,  untuk ukuran sebuah stadion sekelas Stadion Barombong, Rp 226 miliar adalah angka yang terlalu sedikit.

‘’Bandingkan berapa banyak anggaran yang dihabiskan untuk Stadion Batakan, Stadion Pakan Sari atau stadion lainnya di luar sana. Ini baru Rp 226 miliar,  tapi koq banyak orang ributkan. Padahal kita sudah melihat wujud sebuah stadion megah bertaraf internasional akan hadir di Makassar hanya dengan uang kurang dari Rp 300 miliar,” cetus Karaeng Iskandar, dedengkot Suporter Hasanuddin.

Progres pembangunan stadion ini terus dilakukan. Tiang penyangga atap stadion juga sudah mulai dilepas satu persatu.  Sayangnya,  proses penyelesaian stadion ini kurang direspon oleh pemerintahan provinsi Sulsel yang baru, Nurdin Abdullah-Sudriman Sulaiman. Buktinya, hanya Rp 5 miliar anggaran digelontorkan untuk melanjutkan pembangunan Stadion Barombong TA 2019.

‘’Kalau Rp 5  miliar, mana cukup. Terus terang saya kecewa. Kalau mau cepat selesai, semua pihak harus serius. Coba bandingkan berapa besar anggaran pembangunan stadion di provinsi lain. Rata-rata di atas Rp 1 triliun. Stadion Barombong baru Rp 226 miliar, orang pada ribut,” sindir Sri Endang, beberapa waktu lalu.

‘’Kalau mau belajar buat stadion murah, megah dan bertaraf internasional, bergurulah ke Dispora Sulsel. Hanya Rp 226 miliar, kita sudah melihat sebuah stadion mewah berdiri kokoh di Makassar,” timpal Muchlis Mallajareng.

SU yang bertindak sebagai Staf Ahli Bidang Keolahragaan Dispora Sulsel menambahkan, pembangunan Stadion Barombong harus betul-betul sesuai standar internasional. Ini, sesuai komitmen awal perencanaan pembangunannya.

Memenuhi standar internasioal sebuah stadion dilihat dari berbagai hal, mulai dari tempat duduknya yang single sit, lapangan harus standar mulai dari rumput, sistem drainase yang baik sehingga bisa tetap digunakan meski hujan, begitu pula dengan ruang ganti serta lainnya.

“Stadion Mattoangin sudah tidak memenuhi standar. Stadion Barombong diharapkan menjadi penggantinya. Karena akan berstandar internasional,  stadion ini tentu akan menjadi ikon baru Sulsel. Bukan hanya menjadi tempat olahraga, tetapi juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat,” timpal Syam, sapaannya.

 

Penulis : Sri Syahril

 

Pos terkait