INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Potensi kemenangan empat kandidat yang bertarung di Pilwali Makassar 2020 masih abu-abu. Ruang merebut kursi nomor 1 di Kota Makassar masih terbuka lebar.
Seluruh tim pemenangan, relawan dan simpatisan diharapkan mampu bekerja ekstra keras. Bahkan, kandidat harus mampu menawarkan program unggulannya yang sesuai dengan kebutuhan rakyat.
Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Sukri Tamma mengatakan, berdasarkan peta kekuatan dari 4 paslon, potensi kemenangan pasangan nomor urut 1, Mohammad Ramdhan Pomanto-Fatmawati Rusdi sejatinya masih unggul dibanding 3 pesaing lainnya.
Sementara Paslon nomor urut 2, Munafri Arifuddin-Abdul Rahman Bando (Appi-Rahman) dan paslon nomor 3 Syamsu Rizal MI-Fadli Ananda (DILAN) diperkirakan masih saling sikut. Mengingat presentase keduanya terbilang cukup dekat.
Berdasarkan survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) presentase ADAMA berada di angka 41,9 persen. Disusul paslon Appi-Rahman 17,8 persen dan DILAN 16,6 persen. Sementara Irman Yasin Limpo-Andi Zunnun Armin, berada di posisi paling bawah dengan 6,8 persen.
“Yang masih unggul survei Paslon ADAMA, kemudian ini mepet ini Appi-Rahman dengan DILAN saling menyusul saya tidak bisa bilang mana nomor 2 mana nomor 3. Itu bergantian, terakhir itu Irman-Zunnun (IMUN). Jadi kalau kita mengacu pada hasil survei ini, maka urutan peta kekuatan seperti itu,” kata Sukri via telepon, Rabu (4/11/2020).
Lebih lanjut, Sukri menambahkan dengan kondisi seperti itu, peta kekuatan paslon Danny-Fatma terbilang masih unggul. Indikatornya kata dia, tak lepas dari peran dan kerja tim ADAMA yang sangat terstruktur dan rapi. Sehingga, kinerja timnya dinilai sangat diapresiasi oleh masyarakat dibanding 3 rivalnya.
“Jika diminta sebagai sebuah hasil kerja tim yang ada maka hasilnya ada diposisi seperti itu. Ini sebenarnya indikator dari hasil kerja timnya jadi peta kekuatan di masyarakat seperti itu,” tambahnya.
Meskipun demikian, Sukri menyebut bahwa dengan peta kekuatan yang mendominasi, bukan berarti ADAMA bisa menang dengan mudah. Dikarenakan masih banyaknya masyarakat yang belum menentukan pilihan, dimana ada sekitar 15 hingga 20 persen. Olehnya, seluruh kandidat dinilai berpeluang memanfaatkan untuk saling menggeser.
“Jadi sebenarnya peta kekuatan belum aman dalam konteks ini belum menjamin. Karena baik (indikator) margin of error maupun undecision voters itu masih cukup tinggi sehingga posisi pergeseran masih sangat mungkin,” paparnya.
Senada, Pengamat Politik Unhas Andi Lukman Irwan berujar, jika mengacu dua lembaga survei CRC dan SMRC baru-baru ini mengunggulkan Danny-Fatma, belum bisa menjadi patokan untuk memutuskan siapa pemenang di kontestasi pilkada Makassar 2020. Swing voters atau pemilih yang belum menentukan pilihan serta margin of error masih berada di angka 20 persen.
“Yang paling banyak masih banyak kategori swing voters dan undecision voters, kalau swing voters belum menentukan pilihan. Kalau undecision voters ini sudah menentukan pilihan, tapi belum yakin dengan pilihannya dan masih mungkin berubah sebelum hari H (9 Desember),” kata Lukman.
Sehingga melihat dari tren survei yang ada, membuat seluruh paslon punya ruang yang besar untuk saling menggusur. Untuk memanfaatkan potensi tersebut, Lukman menambahkan, ada dua faktor penting yang diyakini bakal memenangkan Pilwali Makassar, yakni kemampuan paslon dalam menjual program unggulannya dan finansial Paslon. (ani)





