Pemprov Sulsel Proyeksi 850 Ribu Bibit Kakao Bagi Petani Terdampak Bencana

  • Whatsapp
Kakao, IST

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) menyiapkan 850 ribu bibit kakao pada tahun 2021 bagi petani kakao yang terdampak bencana. Hal ini dilakukan untuk penanaman ulang.

“Kita bisa bantu bibit, supaya kembali bisa menanam,” kata Gubernur Sulsel, Prof HM Nurdin Abdullah, Kamis (25/11/2020).

Muat Lebih

Spal mega proyeksi di sektor pertanian ini, Kadis Perkebunan Sulsel, Andi Ardin Tjatjo, menjelaskan, untuk tahun 2021 dianggarkan 850 ribu bibit kakao, dan akan diberikan kepada petani terdampak.

“Kelompok yang menghadap tadi akan kita ambil datanya, detailnya untuk kita bagikan di tahun 2021. CPCL harus satu tahun sebelum membagikan hibah,” jelasnya.

CPCL adalah Calon Petani dan Calon Lokasi, mereka adalah petani/kelompok tani yang akan menerima bantuan sarana produksi sesuai dengan luas lahan yang diusahakan dalam kelompok hamparan di lokasi yang telah ditetapkan.

Ia mengungkapkan, hampir seluruh Indonesia mengalami penurunan produksi kakao, termasuk di Sulsel. Ini disebabkan karena kemampuan mitigasi dari petani yang masih lemah.

Saat ini, terjadi fenomena perubahan iklim global. Perubahan musim hujan berkepanjangan atau musim kemarau yang berkepanjangan.

“Kita sebut La Nina dan El Nino, peristiwa ini sangat sensitif di penanam kakao, apabila kita tidak melakukan mitigasi dan adaftasi. Pengetahuan ini harus dimiliki oleh petani untuk menghadapi kondisi ini, karena tanaman kakao sangat sensitif pada perubahan iklim,” paparnya.

Fenomena ini membuat tanaman kakao di seluruh Indonesia, sudah tidak mampu hidup dengan syarat tumbuhnya. Karena panas atau hujan yang berkepanjangan. Solusinya adalah penyuluh melakukan mitigasi dan adaptasi hingga ke tingkat petani.

Dinas Perkebunan Sulsel untuk tahun 2020 ini mensupport dengan bantuan pupuk organik dalam upaya intensifikasi pertanian.

Seperti yang disampaikan oleh Ardin, bahwa memasuki musim penghujan ada kesulitan yang pasti akan dialami oleh para petani dan pekebun.

Hal ini yang juga menjadi perhatian dari Kementerian Pertanian RI untuk memberikan strategi penanganan kakao dalam menghadapi organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan perubahan iklim yang bisa berdampak pada areal perkebunan.(rs)

Pos terkait