INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Alexa, salah satu tempat refleksi di Jl. Peritis Kemerdekaan terpaksa ditutup oleh Polsek Biringkanayya. Anehnya, penutupan usaha tersebut sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Pengelola Alexa, Harry mengaku bingung dengan keputusan Polsek Biringkanayya. Sebab pasien yang datang memaijat di usaha yang dikelolanya itu meninggal bukan karena faktor kesengajaan.
‘’Bapak itu meninggal bukan karena dianiaya oleh kami. Dia meninggal karena kata keluaragnya, memang ada riwayat penyakitnya. Meninggalnya pun bukan saat dipijat. Koq usaha kami ditutup sampai batas waktu yang tidak jelas,” cetus Harry, Sabtu (23/1/2021).
Ia berharap Polsek Biringkanayya segera mengizinkan usahanya kemba,i beroperasi. Asalan Harry, dia harus membayar gaji karyawan, membayar pajak, listrik, air dan dan biaya-biaya lainnya.
Usaha yang dikelola Harry benar-benar apes. Ibarat kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kenapa tidak. Usahanya itu baru saja beroperasi setelah Pemerintah Kota Makassar melalui Satgas Covid-19 melarang usaha industri pariwisata sejak awal 2020 lalu tutup akibat kebijakan PSBB. Awal 2021, ia coba-coba keberuntungan untuk membuka kembali usahanya. Namu sayang usahanya itu terpaksa ditutup oleh Polsek Biringkanayya akibat musibah yang dialaminya. Salah satu pasien yang baru merasakan sentuhan refleksi tiba-tiba meninggal dunia pada Rabu (21/1/2021).
Lelaki berusia 60 tahun itu terjatuh dan tak sadarkan diri di depan Ruko Daya Indah, Jalan Parumpa, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, sekitar pukul 16.00 WITA. Tak la kemudian pensiunan ASN itu menghebuskan nafas terakhirnya.
Kasatreskrim Polrestabes Makassar Kompol Agus Khaerul menjelaskan korban sempat masuk pijat. Setelah keluar dari kamar, dia sudah mulai sesak. Kemudian, sekitar 10 menit dan saat duduk di depan Ruko, ia kemudian jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri.
“Penyebab meninggalnya korban, untuk sementara diperkirakan mengidap epilepsi dan juga di perkirakan minum obat-obatan,” katanya. Pihak keluarga korban menolak jenazah korban diotopsi. Mereka menerima kematian korban karena alasan takdir.(andi)





