Diza Ali: Tinggalkan Paradigma Premanisme
INFOSULSEL.COM, MAKASSAR | Rizal Bahri resmi dilantik sebagai Ketua Komando Inti Mahatidana (KOTI) Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Sulawesi Selatan periode 2026-2031.
Pelantikan dilakukan langsung Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulsel, ST Diza Rasyid Ali, di halaman Monumen Mandala, Makassar, Sabtu sore, 29 Agustus 2026.
Prosesi pelantikan dihadiri ratusan kader Pemuda Pancasila, khususnya jajaran MPC KOTI dari 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan.
Usai dilantik, Rizal Bahri menegaskan komitmennya untuk menjaga soliditas organisasi sesuai amanah Ketua MPW.
“Yang berat akan ringan, yang sulit akan mudah. KOTI adalah wadah himpunan kader terbaik Pemuda Pancasila. Mari sama-sama kerja memberikan yang terbaik untuk organisasi, masyarakat, bangsa dan negara,” tegas Rizal.
Rizal juga mengingatkan seluruh kader untuk meninggalkan stigma lama tentang Pemuda Pancasila. Ia menekankan paradigma baru yakni 3 O: Omong, Otak, dan terakhir Otot.
“Kader PP satu yang dicubit, semua harus merasakan sakitnya. Jangan takut berbuat kebenaran. Mari kita kawal program-program Pemuda Pancasila. Mulai program nasional, wilayah hingga ke tingkat PAC,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MPW PP Sulsel ST Diza Rasyid Ali menegaskan, KOTI harus menjadi eksekutor program, bukan lagi mengedepankan otot.
“Di MPW PP Sulsel ada 15 badan dan lembaga sebagai eksekutor program. Ada program baru ayam petelur di setiap kabupaten hingga MPC, termasuk koperasi. Tinggalkan gaya lama yang mengandalkan otot, sekarang kita pakai otak,” tegas Diza.
Menurut Diza, eksistensi Pemuda Pancasila yang bertahan hingga 8 periode presiden menjadi bukti organisasi mampu memperbaiki diri dan semakin dibutuhkan negara.
Ia juga mengingatkan kader agar tidak mudah terprovokasi dan asal turun aksi demonstrasi.
“Dikit-dikit turun demo. Kalau mau protes harus tahu dulu masalahnya dan harus ada solusinya. Jangan mau diadu domba,” kata Diza.
Diza menegaskan dirinya sebagai Ketua Wilayah telah berkomitmen tidak bermain proyek di Sulsel demi menjaga marwah organisasi.
“Saya sudah korbankan diri tidak pernah mau main proyek di Sulsel. Karena saya tidak mau kepala Pemuda Pancasila dijadikan jaminan, apalagi mau disetir,” pungkasnya.(riel)





