Kisah Mengharukan Petinju Sulsel dari Kejurnas Tinju Piala Menko IPK 2026:
INFOSULSEL.COM, JAKARTA | Ring tinju di Pluit Village Mall, Jakarta, Sabtu (24/10/2026) siang itu bukan sekadar arena perebutan medali. Bagi tiga bersaudara Klan Masihor, ring itu berubah menjadi altar doa. Di saat peluit ronde dibunyikan, hati mereka tertinggal 1.400 kilometer jauhnya, di ruang Intensive Care Unit (ICU) RS Pelamonia Makassar, tempat sang ibu tercinta terbaring lemah.
Di atas kanvas itulah dua darah muda Makassar membuktikan kelasnya. Izack Timothy Ricardo Masihor yang turun di kelas junior 44-46 kg putra, tampil kesetanan dan menang mutlak 5-0 atas Satria Yudha dari Kalimantan Selatan.
Tak berselang lama, kakaknya, Yosafat Daniel Bryan Masihor. Siswa jelas 1 SMA Negeri 2 Makassar ini menyusul di partai ke-74 kelas 48-50 kg putra dengan kemenangan telak 5-0 atas Muhammad Obama dari Banten. Dua emas untuk Sulsel, lahir keluarga Masihor di hari yang sama.
Namun kemenangan itu diraih dengan air mata yang ditahan. Sejak Jumat malam, konsentrasi ketiga bersaudara — termasuk sang kakak tertua Josua Holly Masihor — buyar. Kabar mengejutkan datang dari Makassar. Ibu kandung mereka, Sorshin Katiandagho yang akrab disapa Mama Vony, tiba-tiba sakit dan harus menjalani rawat inap serius.
Ujian mental itu paling berat menghantam Josua Holly. Petinju elite 57 kg andalan Sulsel yang sudah menginjakkan kaki di final itu harus menerima kenyataan. Dufri Masihor, pelatih Sulsel yang juga ayah kandung mereka, harus terbang pulang lebih dulu pada Jumat (23/10/2026) malam untuk mendampingi sang istri. Mandat pun beralih.
Dufri menitipkan dua anaknya kepada Holly dan pelatih M Yusri That. Tugasnya tidak ringan: menjadi kakak, menjadi pelatih dadakan, dan menjadi penopang emosi adik-adiknya yang hatinya berkecamuk antara ingin pulang dan kewajiban menuntaskan misi juara.
Di atas ring, Timothy dan Bryan menjawabnya dengan cara paling jantan. Tidak ada ragu di kaki mereka. Tiga ronde penuh mereka dominasi. Jab, straight, dan kombinasi hook mereka mendarat bersih. Mengunci angka 5-0 dari lima hakim di bawah ring.
Tegar di luar, bergejolak di dalam. Setiap pukulan adalah doa yang mereka kirimkan untuk Mama tercinta. Perempuan yang melahirkan mereka ke muka bumi ini. Membesarkan dan merawatnya sejak baby hingga menjadi juara nasional di kelasnya.
Begitu wasit mengangkat tangan Bryan sebagai pemenang, bendungan itu jebol. Tidak ada selebrasi berlebihan. Bryan langsung menepi, air matanya tumpah. Timothy menyusul. Lalu Holly melompat naik. Memeluk keduanya erat di bawah ring yang mendadak hening. Tiga lelaki tangguh itu menangis bersama, memanggil nama ibu mereka.
“Terima kasih Ketua sudah mensupport kami dan mendoakan Mama kami. Terima kasih sudah beri kami kesempatan tampil di Kejurnas. Ini semua kami persembahkan buat Mama,” ucap Bryan dengan suara terbata, di hadapan Ketua Pengprov PERTINA Sulsel Harpen Reza Ali yang setia mendampingi tim.





