Air Mata Berbuah Emas Dua Bersaudara untuk Ibu Tercinta yang Terbaring di ICU Pelamonia Makassar

Pewtinju muda Suslel Brayan Masihor (sudut biru) melepaskan pukulan telak ke dagu lawan pada partai final Kejurnas Tinju Piala Menko IPK 2026.(FOTO : SRI SYAHRIL)

Holly, sang sulung, justru lebih banyak diam. Sesekali ia memberi arahan. Lebih sering menunduk menahan sesak. Hati anak mana yang bisa tenang bertarung saat ibu yang melahirkannya sedang berjuang antara hidup dan mati? Ia menelan semua gejolak itu agar adik-adiknya tetap berdiri tegar.

Saat itu ring telah bertransformasi. Ia bukan lagi sekadar tempat adu jotos. Ia menjadi medan spiritual. Timothy dan Bryan tidak hanya melawan lawan di depan mata. Tapi juga melawan badai rindu di dada. Mereka menolak menyerah di atas kanvas. Seolah mengirimkan energi agar sang ibu juga tidak menyerah di ruang ICU.

Bacaan Lainnya

Cinta itu akhirnya memanggil mereka pulang. Tepat Sabtu (24/10/2026) malam pukul 22.00 WIB, setelah memastikan dua emas aman di tangan, ketiga bersaudara Klan Masihor memutuskan meninggalkan Jakarta menuju Makassar. Misi mereka selesai. Kini misi sebagai anak yang harus berada di sisi ibu menanti.

Keputusan berat itu didukung penuh Ketua Pengprov PERTINA Sulsel yang juga Waketum I PP PERTINA, Harpen Reza Ali. Bersama manajer tim Christian, Harpen mengizinkan Holly untuk tidak naik di final elite 57 kg Minggu (25/10/2026) melawan Chandra David Beckham dari Riau. Artinya, Sulsel harus merelakan satu emas potensial demi kemanusiaan.

“Kami dapat info kondisi istri pelatih Dufri dan ibu dari Holy, Bryan dan Timothy sedang dalam penanganan medis serius. Kita doakan agar Ibu Vony segera pulih,” kata Harpen di Aston Pluit Hotel & Residence, Jakarta tempat para atlet, pelatih dan official tim menginap selama mengikuti Kejurnas 2026.

Keluarga ini memang nafasnya adalah tinju. Sang ibu, Vonny Katiandagho, bukan hanya ibu dari para juara, tapi juga Wasit-Hakim berlisensi nasional yang membina puluhan petinju di Makassar. Sang ayah, Dufri Masihor, adalah pelatih berlisensi internasional, mantan prajurit TNI AD dan peraih emas SEA Games 1997 saat Jenderal Agum Gumelar menjabat Pangdam XIV/Hasanuddin. Dari lima anak, empat laki-laki — Josua, Abraham, Bryan dan Timothy — semuanya juara nasional. Hanya Glory, si bungsu perempuan, yang tidak naik ring.

Kemenangan Timothy dan Bryan ini bukan sekadar soal medali emas Kejurnas Tinju 2026. Ini adalah pembuktian paling sporti tentang bagaimana cinta seorang anak bisa mengetuk pintu langit. Di saat Sulsel masih menyimpan asa lewat Andini di kelas 48 kg putri melawan Reyne Paulin (Jabar), Hindriawati di 60 kg melawan Sumiarni Siboro (Riau), dan Otto Gesler Pangkatana di 86 kg melawan Sandyarto Farosa (DKI) pada laga final Minggu (25/10/2026), dua medali emas dari Klan Masihor telah mengajarkan makna juara yang sesungguhnya.(Sri Syahril)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan