Renungan 20 Tahun Reformasi, Pilkada di Antara Kepongahan dan Keserakahan Kaum Kapitalis

ILUSTRASI.

SEBUAH IRONI 

SEBUAH diskusi ringan hari ini  sangat menarik di beberapa grup WhatsApp (WA).  Banyak hal yang dibahas. Diskusi makin menarik karena disuguhi berbagai argumantasi yang bervariatif dari berbagai masalah yang terjadi di era kekinian.

Perbincangan mulai menu sahur, telat bangun, canda-candaan janjian di warkop jam 1 siang, rencana buka bersama  sampai pembahasan yang sangat serius, soal Pilkada serentak di 12 kabupaten kota plus Pilgub 2018.

Diskusi non warung kopi itu,  makin hangat karena bertepatan dengan 20 tahun reformasi. Masa dimana saat itu saya berusia 32 tahun.  Sebagai seorang jurnalist sejak 1988, saya menjadi salah satu saksi sejarah menyaksikan para aktivis di era Orde Baru. Berdiri dengan gagahnya berorasi di tengah jalan. Di atas mimbar dadakan yang dibuat apa adanya.

Berorasi bak singa lapar. Di atas mimbar jalanan. Aksi moral tanpa proposal. Bukan aksi pesanan  dari pengusaha, penguasa atau dari para politisi. Taka ada segelas air mineral di sana. Apalagi nasi bungkus yang siap dibagi-bagi. Semua murni karena gerakan moral, bukan gerakan tidak bermoral seperti aksi yang banyak terjadi saat ini.

20 tahun telah berlalu sejak peristiwa 21 Mei 1998. Tokoh-tokoh di masa itu kini banyak yang telah menjadi ‘orang’.  Ada yang sudah menjadi Ketua DPRD, jadi Bupati, Wakil Bupati, pejabat, Walikota, Politisi, Jendral dan pengusaha. Tapi tak sedikit yang hidup serba pas-pasan. Bahkan ada yang hidup dibawah garis kemiskinan. Yang menggiriskan,  ada yang jadi pengguna dan pengedar narkoba dengan alasan klasik, demi menyambung hidup.

Mereka dulu bak singa lapar di atas podium. Berteriak lantang menyuarakan hati nurani rakyat yang tertindas. Berteriak di antara terik matahari. Di atas aspal panas. Berteriak di balik microphone tua yang suaranya mulai terputus-putus. Di kelilingi aparat dengan bayonet di ujung moncong senjata laras panjang.  Wajahnya garang. Tak ada senyum. Mereka bak singa lapar yang siap menerkam.

Para aktivis bereriak hingga leher kering kerontang. Taka ada rasa gentar. Berteriak di antara lemparan bom asap gas air mata.  Di antara sabetan samurai aktivis lainnya. Bahkan di antara desingan peluru, karet dan peluru tajam dari moncong senjata aparat.

Di antara teriakan  lantang, Hapuskan Dwi Fungsi ABRI……… !!!!, tema aksi yang kala itu bakal berujung penangkapan aparat berbaju preman. Bila nasib apes, bisa berujung tangkap, senyap, lalu  lenyap.

*****

SEBUAH ironi terjadi di depan mata. Ternyata setelah mereka duduk di singgasana. Apa yang mereka suarakan ketia it.  Apa yang mereka harap untuk sebuah reformasi. Ternyata justru mereka, kini menjadi penghianat reformasi. Mereka yang dulu dijuluki ‘singa podium’, aktivis bermoral,  dan julukan hebat lainnya, jutru merekalah yang kini menjadi penjahat demokrasi. Mereka ternyata tak ubahnya ‘Srigala Berbulu Domba’.

Seperti nyamuk, ketika di luar kelambu. Nyamuk ‘berteriak-teriak’, membisingkan telinga kita yang hendak tidur. Ternyata itu hanyalah akal bulus. Karena nyamuk belum menemukan mangsa. Belum dapat kesempatan. Menghisap darah dari moncong jarumnya yang tajam dan siap menghisap darah manusia.

Ketika nyamuk sudah masuk dalam kelambu. Mencari tempat mendarat yang tepat, cepat dan aman, lalu menghisap darah. Nyamuk akan terdiam  di atas tubuh manusia. Diam sambil menghisap darah hingga perutnya membuncit, menggelembung, kekenyangan dan akhirnya mati  sendiri oleh karakusannya.

*****

Seperti itulah kondisi kita kini.  20 tahun kini telah lewat. Masa di mana telah terjadi peristiwa besar yang kala itu, selama 32 tahun, demo anti pemerintahan begitu sangat sakral. Begitu sangat ditakuti. Begitu dihindari. Namun peristiwa Mei 1998 akhirnya terjadi juga.

Sebuah akumulasi kemarahan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Meroke. Yang selama 32 tahun terkungkung oleh demokrasi yang semu.  Dan, Soeharto yang berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa itu, akhirnya lengser.

Mengingat zaman itu, dan merasakan era kekinian rasanya saya tergelitik. Bukan karna membaca dialog  teman-teman pada diskusi pagi sampai siang hari di beberapa grup WA yang saya huni. Tapi tergelitik dengan situasi kekinian. Kondisi  di Pilkada kota ini. Situasi di mana semua dipaksakan karena sebuah ambisi. Karena kerakusan, dan kepongahan.

‘’Semua dipaksakan menjadi pemimpin kota berpenduduk 1,7 juta jiwa ini. Mereka memaksa dan dipaksa dengan cara-cara kotor. Memaksa mereka yang  belum matang untuk menjadi pemimpin. Akan kemana kota ini nanti jika dipimpin oleh mereka yang tak tahu apa-apa,” begitu kata Rino, seorang penghuni sebuah grup.

Benar kata Rino. Ibarat buah yang masih mudah dikarbit untuk bisa cepat matang. tentu akan terasa hambar. Seperti itulah bakal pemimpin yang hadir karena dikarbit. pemimpin yang hadir secara instan.

“Kondisi ini sesunguhnya terjadi karena ambisi seorang kaket tua bangka yang sudah bau tanah. Kakek tua  yang sudah menghitung hari menemui ajalnya. Ia kemudian menemukan pasasangan  untuk berkalaborasi. Seorang maling kelas kakap. Narapidana korupsi yang kini jadi penghuni sebuah lapas bernama Sukamiskin. Dialah yang  berperan besar dalam mendoktrin otak sang kakek,” timpal akun bernama Upping.

Saat menjabat dua periode sang koruptor mampu menjalankan perannya. Tidak hanya sebagai pemimpin sebuah kota besar, tetapi ia mampu berperan sebagai Manusia bak Srigala Berbulu Domba.

Ia mampu meyakinkan rakyat di kota itu.  Bahkan nyaris semua orang kalau dia pemimpin mampu memperlihatkan sikap bijak dan peramah. Tetapi sesungguhnya itu hanyalah topeng. Sebuah pencitraan untuk menarik simpati masyarakat demi menutupi kejahatan yang dilakukannya, termasuk kejahatan politik.

Tapi, ibarat kata pepatah lama, ‘Sepandai-pandainya tupai meloncat, suatu saat akhirnya jatuh juga’. Pepatah lain juga menegaskan,  ‘Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.’

Dua pepatah ini terbukti. Pemimpin yang dikenal peramah itu ternyata Maling besar. Ia akhirnya terciduk lalu dipenjarakan oleh Lembaga Anti Rasuah. Ia terbukti korupsi.  Bukan ratusan juta tapi milyaran.

Ya, sebuah pencitraan selama 10 tahun mampu menghipnotis kita semua. Menghipnotis warga kota itu dengan senyum khasnya. Menghipnotis nyaris seluruh masyarakat sebuah daerah berpenghasil beras. Sesungguhnya dia manusia yang haus dan lapar akan kekuasaan. Bahkan sesunguhnya ia sangat kejam karena memakan uang rakyat.  Dia kejam meski memang tak sekejam Firaun di masa zaman Nabi Musa.

Banyak asset pemerintah dijual untuk memperkaya dirinya dan kelompoknya . Sebuah klub sepakbola dilego seenak perutnya. Asset yang sangat bersejarah bagi masyarakat di kota itu, sebuah lapangan yang di atasnya bisa terbentang enam buah lapangan sepakbola, pun  kini tergadai. ‘Berpindah tangan’ ke seorang pengusaha. Tidak jelas sistem persewahannya. Wakil rakyat yang diharap berpihak ke rakyat, pun terdiam karena ikut bermain di dalamnya. Itu belum termasuk asset-asset rakyat lainnya yang sudah tergadai.

*****

Di masa proses Pilkada kini,  banyak hal aneh terjadi. Banyak ‘Dewa’ entah  turun dari langit ke berapa. Tiba-tiba saya terbelalak membaca sebuah beberapa berita dari sebuah media yang di dalamnya dikelola kawan-kawan lama saya.

Kawan saya yang dulunya begitu angkuh menjunjung tinggi idealismenya. Begitu sangarnya saat memberitakan kezoliman dan ketidakadilan dari seorang pengusaha atau penguasa. Kini justru terbalik 180 derajat.

Mereka larut dalam kesewenang-wenangan. Mereka terbawa arus para kapitalis yang selalu merasa lapar akan kekayaan duniawi.  Kawan saya ini bahkan menjadi pelopor berita HOAX. Bahkan berita trial by press.

Tertawa membaca sebuah berita  di media yang dipimpin oleh sang calon dan dikelola oleh kawan-kawan lama saya. Mereka  mengutip statemen bodoh seorang mantan Menteri bernama Hammidun, yang pongah, sombong dan sok pintar itu.

Sang mantan menteri ini seenak perutnya berujar dengan mulut moncongnya,  ‘Tinggalkan negara ini jika masih mau persoalkan putusan penyelenggara pemilu’. Begitu kira-kira  judul berita itu.

Hammidun, tiba-tiba muncul bak seorang pahlawan. Pahlawan kesiangan. Ia lupa seperti apa bobroknya saat ia memimpin sebuah kementrian di masanya.

Lalu, ada lagi seorang praktisi hukum yang merasa pintar segala-galanya. Ia menyoal mereka  yang mengkampanyekan kolom kosong akan terancam pidana.

Pertanyaan saya, apa iya???? Tapi praktisi itu tak mengurai, sesuai isi berita di sebuah portal salah satu anak perusahaan yang didirikan oleh mertua salah satu kandidat.

Pasal-pasal apa yang dilanggar jika seseorang  atau sekelompok orang mengkampanyekan kolom kosong dalam sebuah Pilkada di negeri ini. Seperti apa norma hukumnya dan berapa lama ancaman hukumannya. Semua tidak jelas. Judul berita yang mengutip statemen   sang praktisi ini begitu provokatif dan intimidatif.

*****

Ya, 20 tahun telah berlalu.  Sebuah peristiwa besar menuju reformasi telah kita lalui. Namun ternyata kita masih hidup bak di negara Anta Beranta.  Atau seperti hidup di hutan belantara. Dimana hukum rimba menjadi sangat hakiki. Mereka yang kuat menjadi pemenangnya.

Ya, ilustrasi itu nyaris terjadi di kota ini. Kota yang penduduk sekitar 1 juta tercatat di DPT alias Daftar Pemilih Tetap. Dimana campur tangan penguasa di atas sana dan pengusaha yang mengandalkan duit ‘haramnya’ bisa membeli apa saja. Termasuk membeli hukum. Memindahkan dan menempatkan pemimpin sebuah institusi penegak hukum di posisi-posisi strategis demi mengamankan proses kriminalisasi terhadap lawan politiknya.

Kepada mereka yang tidak patuh dan tidak tunduk kepadanya, bakal terancam non job dan tak lagi mendapatkan job ‘basah’. Permainan kotor mereka peragakan secara demonstratif. Karena mereka menganggap semua bisa dibeli dengan uang, uang, dan uang. Apalagi ada dukungan dan sokongan dari penguasa di atas sana.

Mereka, yang merasa berkuasa di negeri ini, berkuasa karena jabatannya, berkuasa karena harta yang mereka peroleh secara haram,  kini mereka lupa rasa malu. Wajah mereka tebal bak tembok panjang di negeri Cina. negeri yang mereka sering datangi. Mereka berimpovisasi hingga membuat kegaduhan politik sampai ke tingkat dewa 19 setengah.

Mereka membuat marwah demokrasi dalam posisi seperti lautan yang bertepi. Belayar tanpa tujuan. Nahkodanya tak lagi menggunakan petunjuk dan peta perjalanan. Kompas yang mereka gunakan, menjadi seperti  logika terbalik.

Ya, semua karena cara berpikir telah terbalik. Mata mereka telah buta, telinga mereka telah tuli. Kulit mereka tak lagi berasa. Semua karena keserakahan. Mereka lupa akan murka Tuhan yang pasti akan datang. Hari ini atau esok lusa.

  • Makassar, 21 Mei 2018
  • Asri SY

Pos terkait