INFOSULSEL.COM, MAKASSAR–Kordinator penyelenggara Musyawarah wilayah (Muswil) Lingkar mahasiswa filsafat Indonesia (Limfisa). HMJ Aqidah Filsafat Islam (AFI) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar angkat isu kepemimpinan melalui seminar yang bertajuk “Pemimpin Dalam Kacamata Filsafat,” pada Jumat (22/06/2018).
Kegiatan yang berlangsung di Lecture Theater (LT) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat yang dihadiri oleh tiga narasumber, yaitu Muhaemin sekaligus membuka kegiatan musyawarah, Prof Qasim Mathar dan Wahyuddin Halim, dengan ulasan yang berbeda.
Dalam sambutannya, Muhaemin berharap dengan kegiatan musyawarah yang akan digelar ini, para mahasiswa fakultas Ushuluddin khususnya jurusan akidah filsafat dapat memberikan solusi dalam berpolitik.
“Kita berharap mahasiswa fakultas Ushuluddin dapat memberikan solusi dalam berpoliti,” terang Muhaemin, melalui rilis yang diterima Infosulsel.com, pada Sabtu (23/6/2018)
Sementara, Wahyuddin Halim dalam ulasannya menyatakan bahwa masyarakat adalah point penting dalam memilih pemimpin, maka ada enam langkah yang disarankan agar masyarakat sadar akan politik masa kini.
“Meningkatkan kualitas literasi politik, pemahaman tentang konstitusi dan regulasi, kemampuan menyampaikan aspirasi lewat orasi atau demonstrasi, partisipasi dalam pesta demokrasi, konstribusi dalam proses legislasi, dan yang terakhir aktif mengevaluasi kinerja kekuasaan,” urainya.
Lebih lanjut, dengan pernyataan bahwa pemimpin adalah cerminan masyarakatnya sendiri, yang baik akan memilih yang baik.
“Jangan menyalahkan jika ada satu politik yang membangkang, karena pihak yang memilihnya lah yang salah, dan sudah pasti masyarakat yang baik akan memilih pemimpin yang baik.” tambah kepala Pukistek UIN Alauddin .
Sementara itu, Guru besar Pemikiran Islam UIN Alauddin Makassar Prof Qasim Mathar dalam materinya ia membahas tentang sentralistis diskursus filsafat dan politik.
Menurutnya perhatian filsafat adalah kebutuhan yang primer dan inti, jika hal tersebut diketahui oleh orang-orang maka hidup akan mudah begitu pula dengan kepemimpinan. Pemimpin itu kompleks harus sehat secara luas dan tidak mesti beragama mayoritas.
“Pemimpin itu harus sehat, sehat pikiran, kuat, pintar, suka terhadap ilmu pengetahuan, dan suka pada keadilan. Itu syarat pemimpin dan pemimpin tidak harus beragama islam, begitulah pandangan filsafat,” tandas dia.(*)
Editor: admin





