INFOSULSEL.COM,MAKASSAR — Matahari belum menampakkan sinarnya ketika Una mendorong becaknya. Ia membawa anak semata wayangnya yang baru berusia 5 tahun.
Fitri, begitu nama bocah perempuan ini. Ia duduk di atas becak yang ‘disulap’ menjadi gerobak. Bocah itu terlihat masih ngantuk. Rambutnya yang kemerah-merahan masih acak-acakan tak disisir. Sesekali dia menguap.
Fitri tampaknya baru bangun tidur. Tubuhnya masih dibalut sarung batik. Setiap hari ia menemani ibunya berjalan menyusuri lorong-lorong di kawasan elite di Panakkukang. Tak ada senyum di wajah ibu dan anak ini. Mereka menyusuri lorong demi lorong. Mencari barang bekas yang masih bisa dijual.

Una dan Fitri tinggal di di Lorong 5 Jalan Adyaksa Baru. Ada puluhan warga lainnya tinggal di lorong tersebut. Mereka memilih hidup jadi pemulung.
Tak jauh dari rumah mereka, di sebelah selatan dua hotel berbintang berdiri dengan megahnya. Juga ada Mall Panakkukang yang bergandengan pula dengan hotel mewah berarsitektur Romawi kuno. Di kawasan itu, juga berderet rumah-rumah mewah milik para pengusaha dan para pejabat.
Hari itu, Jumat, tepat tanggal 17 Agustus 2018. Hari dimana bangsa Indonesia merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan negeri ini yang ke 73. Hari dimana seluruh bangsa Indonesia merayakannya. Tapi, tidak bagi Una. Hari kemerdekaan yang seharusnya jadi milik dia juga, berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Ia tetap mengisi hidupnya di jalan. Dari pagi hingga tengah malam. Begitu setiap hari.
Una mengaku pernah merasakan berada di lapangan upacara, saat masih sekolah di bangku SD. “Tapi itu pun hanya sampai kelas tiga SD. Setelah itu saya berhenti sekolah karena tidak ada biaya,” akunya.
Ia hanya tersenyum kecil ketika mengetahui kalau hari ini adalah HUT Kemerdekaan Indonesia. Una terus mendorong gerobak becaknya. Sesekali ia berhenti, memeriksa tong sampah di depan rumah warga.
Suasana di jalanan mulai ramai. Banyak pengendara yang terlihat mengenakan pakaian rapi. Ada yang mengenakan baju upacara. Tapi Una tetap dengan langkahnya. Dengan baju ‘seragamnya’ yang lusuh di hari kemerdekaan itu.
Tak ada hari spesial bagi Una. Jangankan hari kemerdekaan. Di hari kelahirannya pun tak pernah ia rayakan. Semua berlalu tanpa kesan.
‘’Hidup saya seperti ini. Kalau tidak memulung, mau kerja apa lagi. Apalagi suami saya sudah tidak ada,” ungkap wanita asal Kabupaten Jeneponto ini.
Ia tak menjelaskan suaminya sudah meninggal atau bercerai. Saat ditanya Una tak menjawab. Ia terus berjalan.
Ia mengaku hari kemerdekaan RI hanya milik mereka yang berduit. Milik mereka yang punya kemampuan finansial. Milik para pengusaha dan pejabat.
‘’Bukan milik kami orang-orang kecil,” sindir Una dengan tatapan yang sinis.
Una bukanlah satu-satunya warga miskin di Indonesia yang tak merasakan arti sebuah kemerdekaan yang telah diraih sejak 73 tahun lalu. Masih ada jutaan warga miskin lainnya yang merasa masih tertindas dan terjajah oleh para kapitalis.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2018 sebanyak 25,95 juta orang atau 9,82 persen. Jumlahnya menurut BPS sudah turun dibanding tahun 2017 yang jumlahnya 26,58 juta orang pada September 2017 atau 10,12 persen.
Penduduk miskin paling banyak masih didominasi di Pulau Jawa dengan jumlah 13,34 juta jiwa (8,94 persen). Sementara di Pulau Sumatera ada 5,98 juta jiwa (10,39 persen), Sulawesi ada 2,06 juta jiwa (10,64 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara ada 2,05 juta jiwa (14,02 persen), Pulau Maluku dan Papua ada 1,53 juta jiwa (21,20 persen), dan di Pulau Kalimantan ada 980 ribu jiwa (6,09 persen).
BPS mengakui disparitas kemiskinan antara masyarakat di perkotaan dan pedesaan masih tinggi. Pada Maret 2018, persentase penduduk miskin di kota ada 7,02 persen, sementara yang ada di pedesaan besarannya hampir dua kali lipatnya, yakni 13,20 persen.
Beras masih menjadi komoditi yang memberi pengaruh besar terhadap garis kemiskinan. Pada Maret 2018, persentasenya di perkotaan mencapai 20,95 persen, sementara di pedesaan mencapai 26,79 persen. Menyusul setelahnya ada rokok kretek filter, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
Sementara itu di Sulsel sesuai data yang diungkap Kepala BPS, Faharuddin jumlah warga miskin Maret 2018 sebesar 792,63 ribu jiwa. Terjadi penurunan dibanding Maret 2017 sebesar 9,38 persen.
‘’Tetapi secara absolut selama periode Maret 2017 – Maret 2018, penduduk miskin di daerah
perkotaan mengalami kenaikan 14,37 ribu jiwa, sedangkan di daerah perdesaan mengalami
penurunan sebesar 34,81 ribu jiwa. Persentase penduduk miskin di perkotaan naik sebesar 0,13 poin persen, sebaliknya di perdesaan menurun sebesar 0,35 poin persen,” katanya.
Bagi Una, angka-angka penurunan jumlah warga miskin yang dirilis pemerintah melalui BPS hanyalah sekadar angka-angka yang tak mampu merubah nasibnya. Begitu juga dengan perayaan kemerdekaan.
“Mau ada peringatan kemerdekaan atau tidak, mau presidennya siapa pun, angka orang miskin disebut menurun, itu hanya teori. Buktinya hidup saya masih seperti ini. Tetap miskin. Bahkan saya rasa tiga tahun belakangan ini malah hidup makin susah. Intinya bagi saya kalau ndak usaha ya ndak makan,” sebut Una, enteng.
Ia tak mau ambil pusing dengan semua teori yang dipaparkan BPS. Termasuk pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada Kamis (16/8/2018) yang memaparkan keberhasilan pemerintahan empat tahun terakhir ini.
“Harapan saya tidak banyak. Yang penting kita diperhatikan dan harga kebutuhan pokok bisa lebih murah. Itu aja,” ujarnya.
“Sudah 73 tahun merdeka tapi kok masih banyak yang menderita,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Baginya sebagai pemulung, tak jauh berbeda harapannya dengan masyarakat lainnya. Yaitu tersedianya kebutuhan pokok dengan harga murah, sehingga dengan penghasilannya yang pas-pasan, semua kebutuhan hidupnya masih bisa tercukupi.
Ia mengaku menjadi seorang pemulung bukanlah suatu cita-cita yang ia harapkan sejak kecil. Keadaanlah yang memaksa mereka untuk menekuni pekerjaan ini. Modal yang mereka perlukan tidaklah begitu banyak, hanya bermodalkan becak bekas yang disulap menjadi gerobak, karung dan keberanian diri.
Karung dan becak untuk menempatkan hasil barang-barang bekas dan keberanian seorang pemulung sangat di perlukan karena mereka akan banyak menghadapi segala berbagai macam orang-orang yang akan mencibir dan mencemooh.
Penulis : Asri Syahril





