DPC KEPMI Bone Sepakat Kongres DPP KEPMI Bone Inkonstitusional

InfoSulsel.com, Makassar – Setelah beberapa kali tertunda, Kongres Kesatuan Pelajar Mahasiswa (KEPMI) Bone ke XIX akhirnya usai dengan menetapkan Andi Raihand Amry sebagai formatur Ketua Umum terpilih di Aula Kantor P3MD, Makassar.

Namun, menurut salah satu peserta kongres yang tidak ingin disebutkan namanya yang mewakili seluruh Dewan Pengurus Komisariat KEPMI Bone, menyebut terpilihnya Andi Raihand Amry tidak sesuai konstitusi (inkonstitusional).

Bacaan Lainnya

Ia juga menyebut kongres yang berlangsung sepekan tersebut merupakan yang terlama dan paling alot dalam sejarah Dewan Pengurus Pusat (DPP) KEPMI Bone.

“Proses kongres yang berlangsung lama ini sangat mencederai sistem dan proses berlembaga akibat dari keberpihakan steering committee,” ungkapnya, Jum’at (21/12/2018).

Steering committee dinilai telah lalai saat pendaftaran bakal calon kandidat Ketua Umum dan juga sering diundur.

Kelalaian itu juga berlanjut pada proses seleksi dan verifikasi berkas awal yang banyak terdapat kejanggalan terbukti dengan lolosnya berkas bakal calon kandidat yang dinilai tidak transparan.

“Keberpihakan steering committee masih berlanjut saat forum kongres dengan menetapkan bakal calon yang kami nilai tidak transparan tersebut,” tuturnya.

“Ini sudah mencederai konstitusi KEPMI Bone atau inkonstitusional. Harusnya bakal calon kandidat Ketua Umum merupakan kader asli KEPMI Bone baik ditingkat DPC ataupun DPK serta pernah menjadi pengurus DPP KEPMI Bone,” tambahnya.

Tidak sampai disitu, steering committee juga dinilai ambigu dengan meniadakan Uji Kriteria Penetapan Bakal Calon Ketua Umum yang harusnya diadakan seperti pada kongres-kongres sebelumnya.

“Hal ini sangat mencederai sistem dan dinamika yang terjadi di KEPMI Bone. Di mana proses mahasiswa Bone yang dimulai dari DPC/DPK hanya jadi angin lalu di kongres,” ucapnya.

Terakhir, Ia hanya berpesan agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada kongres selanjutnya.

“Banyak pembelajaran penting, bukan persoalan siapa yang pantas, layak, dan mampu. Apalah arti proses dari tingkatan bawah jika hanya untuk jadi penonton dalam pertarungan intelektualitas,” tutupnya(*)

Penulis: Rhenno | Editor: Adriyan

Pos terkait