FMD Makassar Bekali 13 Kader Barunya Agar Tak Pragmatis Terhadap Persoalan Rakyat

Peserta Pendidkan Demokratik dan Pengurus Front Mahasiswa Demokratik (FMD) Makassar beswafoto setelah kegiatan berakhir di Baruga Paralegal, Makassar. Pendidikan Demokratik digelar selama tiga hari, 10-12 Mei 2019. Foto: Adriyan.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Sebanyak 13 orang mahasiswa dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) resmi bergabung bersama Front Mahasiswa Demokratik (FMD) Makassar setelah mengikuti Pendidikan Demokratik di Baruga Paralegal, Makassar, Jum’at (10/5/2019) hingga Minggu (12/5/2019).

Pendidikan yang mengusung tema “Menciptakan Kader Intelektual Organik, Progresif, dan Revolusioner”, digelar atas dasar semakin elitis dan pragmatisnya gerakan mahasiswa menyikapi persoalan-persoalan kongkrit yang dihadapi rakyat saat ini.

Bacaan Lainnya

“Perlu dibangun kembali tradisi gerakan rakyat melalui pendidikan yang benar-benar menciptakan kesadaran politik bagi mahasiswa untuk menegaskan peran-peran strategis mahasiswa dalam perjuangan demokratik yang sepenuhnya belum tuntas hingga kini,” ungkap Ketua Umum FMD Makassar, Irfan Rahman, Minggu (12/5/2019).

Irfan juga menilai, gerakan mahasiswa khususnya di Makassar semakin menurun sehingga berada pada titik degradasi dan demoralisasi yang dapat diidentifikasi setelah gerakan rakyat dan mahasiswa gagal menuntaskan revolusi demokratik yang terjadi pada 1998.

“Saat ini, kita jarang menemukan mobilisasi gerakan rakyat yang konsisten, terlebih pada gerakan mahasiswa yang semakin nyaman berkutat pada kebuntuan-kebuntuan gerakannya,” tegas mahasiswa UNM ini.

Suasana Pendidikan Demokrtaik yang digelar oleh Front Mahasiswa Demokratik (FMD) Makassar di Baruga Paralegal, Makassar, 10-12 Mei 2019. Foto: Adriyan.

Mahasiswa angkatan 2014 ini pun mengkritik kondisi mahasiswa saat ini yang lebih mengedapankan pola pendidikan untuk menciptakan kader event organizer dibanding menciptakan kader yang mampu mengorganisasi rakyat.

Bahkan menurut Irfan, sebagian besar mahasiswa tidak mampu lagi menjunjung tinggi independensinya dengan menggadaikan idealismenya sehingga terjun terlibat dalam politik praktis disetiap momentum politik.

“Tradisi live in (hidup berjuang bersama rakyat) oleh mahasiswa telah dilupakan, terbukti dengan sedikitnya mahasiswa terlibat dalam advokasi melalui jalur non litigasi mengawal kasus, penggusuran kaum miskin kota, perampasan tanah petani, dan penindasan terhadap Buruh.”

“Serta minimnya mahasiswa menyikapi semakin meningkatnya pemberangusan demokrasi, persolan reklamasi, dan liberalisasi pendidikan yang merupakan isu normatif mahasiswa itu sendiri.”

Adapun ke-13 mahasiswa yang mengikuti Pendidikan Demokratik oleh FMD Makassar dibekali materi-materi bervasriasi seperti Filsafat Materialisme Dialektika Histori, Ekonomi Politik, Sejarah Pendidikan Indonesia, Sejarah Masyarakat Indonesia, Sejarah Gerakan Mahasiswa, Feminisme, Sosialisme Demokrasi Kerakyatan, dan Pengenalan Organisasi dan Manajemen Aksi.(*)

Pos terkait