Sampah, Masalah yang Tak Pernah Tuntas

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Rismayani Madjid.(FOTO: ASRI SYAHRIL)

INFOSULSEL COM, MAKASSAR — Sampah. Permasalahan ini terus bergelut. Seperti di kota-kota besar lainnya. Di Makassar sampah juga jadi problem utama. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Antang kecamatan Tamangapa juga luasnya tidak seberapa. Hanya sekitar 16,8 Hektar (Ha). Jika tidak ditambah hanya bisa menampung sampai 2020.

‘’Perlu terus ada inovasi baru. Pelibatan seluruh komponen masyarakat sangat dibutuhkan agar produksi sampah bisa dikurangi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KLH) kota Makassar Rismayani Madjid pada acara dialog ‘Sabtu Bersih’ yang digelar Humas Pemkot Makassar di salah satu cafe di Jalan Amanaggapa, Senin (24/6/2019) pagi.
Pemulung di atas puncak ‘gunung’ tumpukan sampah di TPA Antang Makassar, Sulawesi Selatan. Luas TPA Antang sekitar 16,8 Ha yang telah digunakan sejak tahun 1993. Masyarakat Makassar setiap hari memproduksi 1200 ton sampah. (FOTO: ANTARA).

TPA Antang yang sejak 1993 dimanfaatkan jadi penampungan sampah tampaknya sudah ‘minta ampun’. Sampah pun sudah membumbung tinggi.  Bahkan sampai 8 meter. Aromanya cukup menyengat. Maklum, tiap hari truk  mondar-mandir dari pagi  sampai pagi mengangkut 1.200 ton sampah. Ini hasil yang diproduksi oleh hampir 2 juta jiwa penduduk kota Daeng setiap hari. Atau 0,7 gram perhari perorang. Produksi ini meningkat dibanding Maret 2019 yang hanya 900 ton perhari.

Bacaan Lainnya

Namun menurut Maya, sapaan mantan Kadis Pariwisata, angka tersebut masih ideal. Tapi lanjut dia, akan makin ideal lagi jika bisa turun sampai 30 persen. Itupun jika areal tidak diperluas TPA yang sudah lebih 20 tahun ini hanya bisa menampung sampah sampai 2020.  Sumber-sumber sampah diantarnya berasal dari masyarakat, pasar, sekolah juga pabrik.

Sampah bertebaran di pinggir jalan. Dibuang di tempat yang bukan pada tempatnya. Masyarakat diminta untuk sadar akan kebersihann lingkungan.(DOK)

Produksi sampah terbesar adalah sampah organik, 58 persen.  Sisanya, 42 persen sampah nonorganik,  yakni sampah berbahan plastik.

Rismayani  mengakui produksi sampah nonorganik di Makassar masih cukup tinggi. ‘’Masyarakat harus merubah pola pikir. Hindari menggunakan minuman botol berbahan plastik. Juga  kantong plastik,” jelas mantan Kadis Periwisata kota Makassar ini.

Mengurai sampah memang dibutuhkan waktu bertahun-tahun, khususnya sampah plastik. Sampah plastik ini merupakan sampah yang bersifat anorganik. Sulit terurai menjadi satu dengan tanah. Berbeda dengan sampah organik, yang tergolong mudah untuk terdekomposisi menjadi pupuk.

Sampah bertebaran di luar bak sampah. Kesadaran masyarakat sangat diperlukan demi kebersihan lingkungan.(DOK)

Perilaku masyarakat yang sering membuang sampah di sembarang tempat, termasuk di kanal berdampak negatif ke lingkungan. Mulai dari banjir sampai timbulnya masalah-masalah penyakit.

Kesadaran dan perilaku, menurut Maya, merupakan dua hal yang sangat sulit untuk diubah. Untuk mengubah perilaku manusia, diperlukan strategi dan tahapan-tahapan tertentu. Ia berharap keterlibatan masyarakat mulai dari RT dan RW, jajaran SKPD, sekolah mulai dari TK sampai pada Perguruan Tinggi dan pihak swasta.

‘’Bagaimana meningkatkan kembali kegiatan di masyarakat dengan gotong royong. Ajak masyarakat dan pihak swasta. Ini harus ada tindak lanjut,” katanya.

Ia juga mengingatkan khusunya kepada pengelola pasar untuk tidak masa bodoh dengan sampah.

‘’PD Pasar jangan hanya mengambil keuntungan semata. Sampah juga perlu diperhatikan dengan baik. Sebab produksi sampah tradisional cukup besar,” cetus Maya.
Sampah anorganik masih menjadi salah satu sampah yang banyak diproduksi oleh masyarakat. Dibutuhkan kreativitas agar sampah plastik ini bisa bernilai ekonomis.(DOK)

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina.  Produksi sampah Indonesia tahun 2019 diperkirakan mencapai 68 juta ton perhari. Ini sudah termasuk Makassar, 1200 ton.

Bandingkan dengan Jakarta yang jumlah penduduknya sekitar 11 juta orang. Sampah yang diproduksi  hanya mencapai 6.000 — 6.500 ton per hari. Diperkirakan total jumlah sampah Indonesia di tahun 2019 akan mencapai 68 juta ton.

Proses terjadinya sampah sangat didominasi oleh kegiatan manusia. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dengan pola hidup yang semakin konsumtif.  Kuantitas sampah yang semakin hari semakin bertambah berimplikasi terhadap semakin tingginya gundukan-gundukan di TPA Antang.

Pemerintah Kota Makassar (Pemkot) Makassar kembali akan membebaskan 1,7 Ha untuk menambah luas kawasan TPA di Antang menjadi 18,5 Ha.  Namun bagi Rismayana, seluas apapun kawasan TPA jika masyarakatnya masa bodoh tetap tidak akan cukup.

‘’Masyarakat harus bisa menyulap sampah organik menjadi pupuk dan bernilai ekonomi untuk sampah nonorganik,” kata perempuan kelahiran 5 Maret 1965 itu.
Sampah di kanal salah satu penyebab banjir.(DOK)

Sebenarnya, ada beberapa peraturan di Indonesia yang berkaitan dengan persampahan. Diantaranya UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga dan Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar nomor 4 tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah.

Disitu disebutkan pemerintah berkewajiban memfasilitasi, memanfaatkan, mengembangkan upaya pengurangan dan penanganan sampah. Begitu juga masyarakat berkewajiban memelihara kebersihan di lingkungannya, mengurangi dan menangani sampah dan membuang sampah pada tempatnya. Termasuk diatur sanksi-sanksinya.

Sayangnya, peraturan tersebut baik UU maupun Perda hanya ibarat gincu. Disisi lain tim Penegakan Hukum dan Peraturan Daerah (TPHP) dan SKPD terkait  saling lepas tangungjawab. Begitu juga pihak swasta. Action hanya dilakukan sewaktu-waktu. Itu pun jika Pemkot Makassar kembali mendapat sorotan. Peran warga yang masih banyak bersikap masa bodoh, juga berpengaruh terhadap produksi sampah di Makassar.

Menurut Maya, masalah sampah tidak akan ada habisnya jika tidak dimulai dari kesadaran dan perilaku diri kita sendiri.

‘’Pentingnya membuang sampah pada tempat yang disediakan. Bukan membuang sembarangan karena ini bisa saja menyebabkan pencemaran lingkungan. Jika lingkungan kita sudah tercemar, yakinlah kualitas hidup kita akan menurun,” tegas Maya.

Gerakan Sabtu Bersih yang digagas Penjabat Walikota Makassar M Iqbal S Suhaeb pekan lalu menjadi moment yang tepat untuk kembali  memulai hidup bersih. Maya berharap gerakan ini bisa merubah prilaku masyarakat dan lebih sadar akan pentingnya arti kebersihan yang akan menjadi pangkal kesehatan.

Masyarakat diharapkan mampu untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

‘’Sebab hidup sehat merupakan standar hidup yang ingin dicapai oleh semua orang. Karena di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Dengan begitu, hidup kita juga pasti akan sejahtera,” sebut Maya. (Asri Syahril)

 

Pos terkait