INFOSULSEL.COM, MAKASAR – AnggotaDPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Andi Januar Jaury Dharwis kembali menggelar sosialiasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan.
Sekitar 100 lebih masyarakat hadir pada sosialisasi yang dilaksanakan Kamis (15/8/2019) siang di Cafe Ombak dan Resto Jl Ujungpandang Nomor 6 Makassar. Sebagian besar diantaranya adalah anak muda.
‘’Kenapa dibutuhkan keterlibatan anak-anak muda, karena pariwisata membutuhkan inovasi dan kreativitas masyarakat. Dan itu biasa dilakukan oleh kalangan millenial,” jelas Andi Januar.
Apalagi, lanjut JJ, sapaan politisi Partai Demokrat ini, kegiatan promosi dan pemasaran produk pariwisata saat ini sudah mulai transformasi ke era digital. Keterlibatan masyarakat bersama pemerintah, menurut dia adalah kunci keberhasilan pengembangan kepariwisataan.
‘’Pengguna media sosial saat ini didominasi oleh anak-anak muda. Tanpa disadari saat kita mengupload foto kita di salah satu obyek wisata itu berarti kita sudah terlibat dalam promosi kepariwisataan,” sebut Januar.
Menurut JJ, peluang kepariwisataan akan dapat dimaksimalkan jika pemerintah dan masyarakat saling bersinergi dalam menjaga dan melestarikannya.
“Maka dari itu penting kita saling transparan tentang aturan kepariwisataan,” jelas anggota Komisi D DPRD Sulsel ini.
Di bagian lain politisi yang banyak bergelut di bidang kemaritiman ini mengatakan Perda tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan ini sebagai acuan bagi masyarakat agar lebih memahami potensi pariwisata di Sul-Sel.
Pemerintah, lanjut mantan Kepala Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Sulsel berkewajiban memberikan perlindungan dalam menjaga daya dukung.
“Pariwisata Sulawesi Selatan harus melibatkan banyak pihak karena ini memang multisektor. Tidak mungkin berkembang kalau terkungkung. Harus berkolaborasi dengan unsur-unsur di BPPD,” tegasnya.
Demi percepatan pertumbuhan dan pengembangan promosi pariwisata Sulsel, maka semua pihak harus bekerja sama, kolaboratif dan sungguh-sungguh menyuskseskan Sulawesi Selatan sebagai Jantung Pariwisata Indonesia atau The Heart of Wonderful Indonesia.
Salah satu pertimbangannya adalah posisinya yang merupakan hubungan Indonesia yang seharusnya bisa membuat para pihak lebih kreatif dan inovatif.
Januar mengakui publik lebih tahu Toraja dan Kota Makassar yang menyimpan tempat-tempat historis seperti Fort Rotterdam hingga Benteng Somba Opu. Untuk pariwisata bahari ada Bira dengan pantai pasir putihnya yang memikat di Bulukumba atau mungkin Pulau Kapoposang di Pangkaje’ne Kepulauan.
“Tapi, kita masih kalah jauh dari Bali dan Lombok. Padahal kalau potensi sektor pariwisata bahari Sulsel, saya yakin, kita tidak kalah. Polesan mereka memang lebih berkelas dan didukung sumber daya manusia yang memang jauh berpikir ke depan. Apalagi sejak gencarnya teknologi informasi, social media,” kata Januar.
Ia mengambil contoh Selayar. Meski mempunyai kawasan atol Taka Bonerate yang mempunyai luas hingga 200-an ribu hektar, namun Selayar belum diperhitungkan sebagai salah satu potensi ‘mega tourism’ di Sulawesi Selatan.
“Karena kita masih parsial, sekadar event tahunan, tanpa paket yang bernuansa jangka panjang dan terhubung satu sama lain,” sebut Januar yang beberapa kali mengikuti Taka Bonerate Islands Expedition saban tahun itu. Meski begitu ia masih geregetan mengapa Sulsel atau Selayar belum optimal.
Karena itulah ia menegaskan Perda nomor 1 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan adalah sebuah regulasi yang menjadi dasar Pemporv Sulsel konsen dalam pengengambangan pariwisata.
(Andi/Asriel)





