INFOSULSEL.COM, MAKASSAR —– SEPASANG suami-istri menjalani rumah tangga yang suram. Sehari-hari mereka hidup di dalam rasa bersalah.
Sang istri mengalami goncangan berat oleh kematian anaknya yang masih bayi. Dalam perjalanan rumah tangga mereka, seorang sahabat diundang ke rumahnya agar ikut merasakan penderitaan yang dialaminya.
Sang sahabat terkejut menyaksikan istri sahabatnya kerap mengalami halusinasi. Mendengar suara ketukan pintu dan tangisan bayinya yang sudah setahun meninggal. Belum lagi sebuah teror datang hampir setiap saat. Ini makin membuat hidupnya dalam ketakutan. Di hari itu ada dosa yang harus segera dituntaskan melalui pengakuan baik oleh sang istri, suami, juga sang sahabat.
Kisah drama di atas berjudul Tamareng. Tamareng, berasal dari bahasa Bugis yang berarti Kerasukan. Merupakan naskah drama hasil adaptasi oleh Kaamila (Mido) dari drama popular Suara-Suara Mati karya Manuel Van Logem.
Tamareng, akan dipentaskan oleh Komunitas Seni Adab (KisSA), pada Festival Teater Mahasiswa Indonesia (FTMI) XV di Gedung Serbaguna IAIN Jl Agatis Balandai Palopo, 23 Oktober sampai 1 November 2019.
Kisahnya dikemas dalam nuansa keluarga bugis. Drama ini diperankan oleh lima mahasiswa adab dan humaniora jurusan SKI/sejarah kebudayaan islam UINAM. Mereka adalah Teguh Esa Bangsawan DJ, Sudarmono GS, ST Kiran, ST Zakia, dan M Ikhsan.
Crew KisSA telah dilepas oleh Dekan FAH UINAM, Dr Hasyim Haddade, Selasa (22/10/2019) mengikuti kegiatan kemahasiswaan tersebut. Acara pelepasan dihadiri Wakil Dekan 1 Dr Andi Ibrahim, Wakil Dekan 2 Dr Firdaus, dan Wakil Dekan Muh Nur Akbar Rasyid.
“Mereka anak-anak muda yang sangat berbakat dan telah mengharumkan nama Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar,” kata Hasyim Haddade.
“Drama Tamareng mengandung pesan moral yang bisa diambil dan dipetik hikmahnya. Kisah ini menjadi peringatan kepada kaum remaja terkhusus mahasiswa untuk senantiasa menjaga nilai dan adab dalam kehidupan sehari-hari,” kata Teguh.
Menurut putra sulung aktivis antikorupsi, Djusman AR, itu, Tamareng menunjukkan bahwa kejujuran sangat penting dalam kehidupan.
“Bagaimana menjaga kejujuran dan tanggung jawab terhadap diri, amanah orang tua, di manapun berada, apalagi di lingkungan kampus dan rumah tangga,” jelas Teguh.
Putra sulung Djusman ini menambahkan drama ini juga memuat pesan yang lebih terkhusus untuk yang telah berumah tangga bahwa tanamkanlah kejujuran dalam mengarungi bahteranya terhadap pasangan, sepahit apapun karena sesuatu yang disembunyikan akan menyiksa diri dan menjadi suara suara mati yang senantiasa menghantui sebagaimana dalam scrip yang ia perankan.
“Kejujuran adalah modal dalam menjalani kehidupan ini, jika terus menyembunyikan kejujuran maka semakin tersiksa dan dapat menjadi suara suara mati yang akan menghantui kehidupan kita,” katanya.
(Riel)





