Bupati Meninggal, Warga Morowali Utara Jalani Tes Cepat

Bupati Morowali Utara, Aptripel Tumimor, meninggal dunia Kamis (2/4/2020) malam di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, karena sakit.

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Bupati Morowali Utara, Aptripel Tumimor, meninggal dunia Kamis (2/4/2020) malam sekitar pukul 22.30 Wita di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, karena sakit. Pemakaman almarhum dilakukan dengan mengikuti protokol penanganan jenazah pasien Corona di Kabupaten Gowa, Jumat (3/4/2020) dini hari. Proses pemakaman telah mendapat persetujuan dari pihaak keluarga almarhum.

Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, kemudian mengimbau masyarakat yang pernah berinteraksi dengan almarhum bupati Morowali Utara dalam 10 hari terakhir untuk mengisolasi diri secara mandiri.

Aptripel Tumimomor adalah pengusaha yang terpilih menjadi bupati definitif hasil pilkada pertama di Kabupaten Morut pada Februari 2016, dan sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti pilkada serentak 2020.

Pria yang lahir di Kolonodale pada 3 April 1966 itu sampai akhir hayatnya masih tercatat sebagai dosen UKIP (Universitas Kristen Indonesia Petra) Makassar. Dia meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.

Wakil Bupati Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Asrar Abdul Samad Sabtu pagi (4/4/2020) mengatakan pihaknya terus bekerja untuk menelusuri orang-orang yang pernah berinteraksi dengan almarhum Atripel Tumimomor.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, warga sejak Jumat (3/4/2020) sudah diimbau untuk melapor bila pernah melakukan kontak dekat dengan Tumimomor. Sejauh ini sudah 50 orang yang terdata.  Mereka diimbau untuk melakukan isolasi mandiri, serta segera memeriksakan kesehatan ke Rumah Sakit Kolonodale, bila merasakan gangguan kesehatan.

Menurut Asrar, pihaknya baru menerima informasi terkait status almarhum Aptripel Tumimomor yang ternyata positif corona pada Jumat malam (3/4/2020).

“Kita menelusuri semua masyarakat yang pernah terkontaminasi beliau (almarhum) dan kami sudah menyampaikan secara langsung dengan kesadaran diri yang sudah pernah terkontaminasi untuk mengisolasi diri. Nah ini kemarin sudah melaporkan ada sekitar 50 orang. Ada PNS, jurnalis dan masyarakat,” ungkap Asrar.

Ditambahkannya, langkah antisipasi juga dilakukan dengan menyemprot disinfektan di tempat-tempat di mana almarhum bupati Morowali Utara itu pernah beraktivitas. Selain itu penyemprotan juga dilakukan di sejumlah lokasi strategis lain di kota Kolonodale, Ibu Kota Kabupaten Morowali Utara.

Kepala Dinas Kesehatan Morowali Utara Denan Lauende mengatakan hingga Jumat setidaknya sudah 55 orang warga yang mengikuti kegiatan pemeriksaan tes cepat (rapid test) dengan hasil negatif. Pengecekan pada semua orang yang pernah berkontak dekat dengan almarhum bupati Morowali Utara itu masih dilakukan hingga beberapa hari mendatang.

“Kemarin waktu beliau dalam posisi di Rumah Sakit Kolonodale dan ketika akan dirujuk menggunakan ambulance memang banyak sekali orang yang hadir membesuk. Jadi kayaknya ini kami harus ekstra pengawasan,” katanya.

Denan Launde mengatakan hingga hari Sabtu (4/4) ketersediaan alat rapid test masih tersisa 50 buah. Jumlah itu diharapkan dapat bertambah dengan pengiriman 100 buah lainnya dari Palu. Dua ratus alat rapid test juga diharapkan sampai pada hari itu yang sudah sejak lama di pesan.

Pihaknya juga membutuhkan pasokan alat perlindungan diri (APD) untuk petugas medis.

“Semenjak kami merawat PDP di Rumah Sakit Kolonodale itu, baru 200 APD, yang ada itu 150 bantuan dari kementerian dari pusat, melalui Dinas Kesehatan Provinsi. Yang 50 lembar dari kami di Dinas kesehatan yang sempat kami order dan baru itu yang tersedia,” katanya.

Diperkirakan APD yang tersedia ini hanya cukup untuk empat hari ke depan. RS Kolonodale memiliki satu ruangan isolasi dengan kapasitas 20 pasien. (riel)

Pos terkait