Pantai Makassar Tercemar Tumpahan Minyak, Reza Ali : Pertamina Harus Bertanggungjawab

Petugas melakukan upaya pembersihan menggunakan cairan dispersan kimiawi di bibir pantai dekat Cafe Ombak Makassar, Kamis (21/5/2020).(FOTO: SRI SYAHRIL)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR— Bibir pantai di bagian selatan dermaga Pabuhan Makassar hingga ke bagian barat sekitar Pulau Lae-lae, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel)  tercemar oleh tumpahan minyak milik Pertamina. Akibatnya, air di sepanjang bibir pantai dan tembok pembatas berubah warna menjadi hitam pekat. Begitu juga pasir yang mengelilingi Pulau Lae-lae tak lagi putih. Kini berbuha warna menjadi hitam kecoklatan.

Air laut di sekitar bibir pantai mengental akibat tumpahan minyak (oil spill) dari sambungan pipa yang bocor di depot pengisian instalasi Pertamina di Jl. Satando ke Motor Tanker  (MT) Arimbi yang akan star bunker pada Rabu (20/5/2020) sekitar pukul 06.25 WITA.

Bacaan Lainnya

‘’Tiba-tiba sambungan pipa dan selang menuju kapal MT Arimbi bocor dan  minyak tumpah ke laut,” ungkap sebuah sumber.

Kawasan yang paling terdampak akibat tumpahan minyak ini berada pada bagian barat dua restoran yakni restoran Kampoeng Popsa dan Cafe & Resto Ombak milik politisi senior A Reza Ali. Minyak yang sudah mengental mengambang di bibir pantai dan melengket di tembok pembatas.

Petugas melakukan pembersihan tumpahan minyak menggunakan cairan dispersan kimiawi .(FOTO: SRI SYAHRIL)

Tumpahan minyak tersebut mulai terlihat sejak Rabu pagi. Baunya sangat menyengat. Masyarakat yang setiap hari memanfaatkan kawasan ini untuk berenang, terpaksa membatalkan niatnya. Begitu juga dengan konsumen Cafe Ombak milik anggota DPR RI periode 2009 2014,  A Reza Ali.

Banyak yang terpaksa batal menikmati buka puasa. Mereka meninggalkan restoran tersebut lantaran mencium aroma tak sedap. Termasuk sejumlah pelanggan membatalkan reservasinya pada Rabu sore. Tidak hanya itu. Sejumlah dinding kapal dan speedboat yang terparkir di Popsa,  dermaga Pulau Kayangan dan cafe Ombak, menjadi hitam.  Reza Ali menyesalkan sikap pihak Pertamina yang dinilainya sangat teledor.

”Ini tidak bisa ditoleransi. Saya lihat Pertamina juga sangat lambat menangani masalah ini. Jangan anggap sepela masalah ini. Ini soal lingkungan hidup. Terlalu banyak masyarakat Makassar yang dirugikan. Pertamina harus bertanggungjawab atas insiden ini. Jangan hanya mencari untung semata,” tegas mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel ini saat ditemui INFOSULSEL.COM, Rabu (20/5/2020) sore.

Menurut dia, sejengkal pun pantai harus dijaga dari pencemaran lingkungan. Apalagi ini minyak. Seliter pun tumpah di laut, tidak boleh apalagi ini begitu banyak.

‘’Pantai ini harus kita jaga bersama-sama. Apalagi pantai di sini sehari-hari dimanfaatkan masyarakat untuk berenang. Termasuk tempat nelayan pantai mencari nafkah,” kata mantan Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulsel ini.

Ia memperkirakan paling cepat 1 atau 2 minggu air di pantai bisa kembali normal. Itupun kalau Pertamina serius menangani masalah pencemaran ini. Meski begitu ia mengakui sudah ada upaya pembersihan. Hanya saja cara yang dilakukan masih manual dan menggunakan alat seadanya.

”Kasihan nelayan pantai yang sehari hari mencari ikan. Mereka terpaksa istirahat karena air tercemar,” cetus mantan Ketua Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP Pertina) ini.

Reza menyebut kejadian ini baru terjadi lagi setelah 30-an tahun.  Bagi dia, ini sangat berbahaya. Apalagi kalau minyak tersebut sampai ke Pantai Gusung,  salah satu tempat masyarakat Makassar tiap hari berenang.

Ketua Badan Lingkungan Hidup (BLH) MPW Pemuda Pancasila Sulsel, Achmad Yusran juga menyayangkan terjadinya tumpahan minyak di wilayah kerja PT Pelindo IV Makassar, itu. Hasil pantauan kader ormas loreng oranye hitam ini menyebut pencemaran ini dapat merusak ekosistem pesisir pantai, khususnya di belakang dermaga Pulau Kayangan, Cafe Ombak dan Popsa.

“Meski telah ada proses perbaikan oleh pihak Pertamina hingga terbawa arus ke sisi selatan terminal peti kemas, namun kejadian ini sangat kami sesalkan. Karena spot area pantai yang digenangi minyak hitam sering digunakan warga untuk berenang,”kata Yusran.

Ia mengaku tumpahan minyak tersebut sudah mencemari ekosistem laut, dan harus dilakukan upaya pemulihan. ‘’Kami berharap agar pihak pemerintah khususnya pengawas lingkungan hidup tidak tinggal diam,” tegas Yusran.

Menurut Yusran, Pertamina bisa dijerat Undang-undang (UU) Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Ia merujuk pada pasal 97-123. Juga pada pasal 59 dan 103 yang mengatur ancaman pidananya pqling singkat satu tahun dan paling lama tiga tahun. Juga denda paling sedikit Rp1 miliar dan  paling banyak Rp3 miliar.

“Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 apalagi abai maka siap-siaplah berhadapan dengan proses hukum. Kami akan laporkan hal ini ke pihak berwajib. Kami juga meminta hasil uji baku mutu cemaran minyak tersebut kepada pihak berwenang,” ujar alumni UNM Makassar ini.

Manager Communication & CSR Pertamina MOR VII Sulawesi, Hatim Ilwan mengakui telah terjadi kebocoran sambungan pipa Pertamina. Minyak yang tertumpa diklaim Hatim hanya 11 liter. Hanya saja karena jenis bahan bakar dasar mesin kapal yang yang tumpah ke laut itu sifatnya berat sehingga penyebarannya cepat meluas karena kena air.

”Tapi sejak kejadian itu operasional  langsung kami tutup sehingga tidak banyak tumpahan ke laut. Itupun hanya 11 liter. Hanya secara kebetulan jenis bahan bakar yang tumpah itu bahan bakar dasar mesin kapal yang sifatnya berat. Kalau kena air penyebarannya cepat meluas. Ditambah arus cukup deras akibat pergantian pasang surut. Tapi kami langsung bergerak sesuai SOP untuk menyelesaikan masalah ini,” jelas Hatim melalui sambungan telepon seluler, Kamis (21/5/2020) malam.

Ia mengakui sejak tim turun melakukan sterilisasi kondisinya sudah berangsur membaik.  Hanya saja karena hujan turun sore harinya sehingga tim tidak melanjutkan proses sterilisasi demi keselamatan tim.

”Memamg masih ada sisa yang muncul. Tapi volumenya mulai berkurang dan cenderung clear. Yang pasti kami tetap tanggungjawab dan segera menyelesaikan,” ujar Hatim.

Hatim mengakui saat pengisian bahan bakar di MT Arimbi  kapal tanker tersebut lagi star bunker.  Namun terjadi insiden kebocoran pada sambungan pipa. ”Yang pasti kami akan terus berupaya mengumpulkan minyak dan  melakukan perbaikan pipa yang bocor,” katanya. (riel)

Pos terkait