WALHI dituding Provokasi Warga Pulau Kodingareng, Ibu-ibu Nelayan Bantah

  • Whatsapp
Aksi Potres Nelayan dan ASP menolak tambang pasir di perairan Sangkarrang dan meminta stop deskriminasi terhadap Nelayan.

INFOSULSEL.COM, MAKASSSAR – Kisruh praktik penambangan pasir laut yang dilakukan oleh kapal Queen of The Netherlands milik PT Royal Boskalis Westminster N.V di Perairan Sangkarrang, Kota Makassar terus berlanjut.

Terbaru, WALHI Sulsel dituding melakukan provokasi penolakan tambang pasir laut terhadap warga di Pulau Kodingareng Lompo.

Muat Lebih

Menanggapi itu, kelompok ibu-ibu nelayan Pulau Kodingereng Lompo angkat bicara ihwal pernyataan Sampara, tokoh masyarakat yang menuding WALHI sebagai biang provokasi.

Sitti Ebong, Istri Nelayan Kodingareng, mengatakan pernyataan Sampara keliru menuding WALHI Sulsel. Justru, kata dia, dirinya bersyukur dengan adanya pendampingan dari WALHI Sulsel dan Aliansi Selamatkan pesisir (ASP) di Pulau Kodingareng.

“Karena kehadiran mereka, apa yang saat ini terjadi di Pulau Kodingareng bisa diketahui oleh banyak orang. Pemerintah tidak pernah merespons dan membantu kami, mulai dari ketua RT sampai pak gubernur,” kata Siiti, Kamis (17/9/2020).

Sitti mengatakan bila Sampara tidak mau membantu kami di pulau lebih baik diam saja dan tidak usah banyak bicara.

“Jangan melumpuhkan semangat kami. Biarkan kami berjuang bersama adek-adek aliansi selamatkan pesisir dan Walhi untuk mempertahankan laut dan pulau kami,” lanjut Sitti.

Ia menegaskan, WALHI dan aliansi tak pernah memprovokasi warga apalagi mengajak melakukan demo anarkis. Justru, kata dia, WALHI dan aliansi selalu melarang untuk tidak melakukan demo anarkis.

“Kalau ada kejadian yang anarkis, itu bentuk kemarahan kami kepada penambang yang merusak kehidupan kami,” ungkapnya.

Sitti bercerita bahwa warga sudah beberapa kali melakukan aksi damai di depan kapal Boskalis dan kantor gubernur. Namun, kata dia, tidak ada yang peduli dengan keluhan warga.

“Justru tindakan kriminalisasi, intimidasi dan teror yang kami dapatkan,” kata dia.

Tidak hanya ibu-ibu nelayan, Juru bicara aliansi selamatkan pesisir (ASP), Muhaimin Arsenio pun menanggapi hal tersebut.

“Justru aktivitas penambangan pasir laut oleh kapal Boskalis telah menimbulkan dampak sosial-ekologi yang buruk bagi kehidupan nelayan di Pulau Kodingareng seperti menurunnya hasil tangkapan nelayan yang sangat drastis,” pekik dia.

Menurut Juru Bicara Aliansi Selamatkan Pesisir, sangat wajar jika Sampara Sarif mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Ia beralasan Sampara tidak pernah melihat secara langsung bagaimana kondisi di wilayah tangkap nelayan yang kini di tambang oleh kapal milik Boskalis.

Sebelumnya, Sampara Sarif, Tokoh masyarakat Kodingareng meminta WALHI Sulsel tidak menjadikan warga sebagai korban hingga ikut dalam peristiwa pengrusakan Kapal Queen of Nederland, beberapa waktu lalu, yang berujung penangkapan sejumlah warga.

Menurut Sampara, sikap WALHI yang kerap memprovokasi warga sehingga berbuat anarkis sangat tidak diinginkan. Hal itu, kata dia, tidak masuk dalam rencana menimbulkan sejumlah masalah ke beberapa pihak.

“Biarkan kami yang selesaikan masalah yang kami hadapi, tidak perlu ada intervensi dari pihak manapun termasuk WALHI. Masyarakat Kodingngareng hanya ingin kembali hidup normal tanpa ada saling memusuhi karena provokasi WALHI Sulsel,” ungkapnya. (andi)

Pos terkait