‘Minggu Berdarah’ Saat Banyak Nyawa Gugur di Rusia

Bloody Sunday

INFOSULSEL.COM, – Sejarah dunia dipenuhi dengan pertumpahan darah. Setiap negara punya peristiwa besar yang tidak sedikit menumpahkan darah hingga ribuan nyawa jatuh.

Salah satu peristiwa berdarah yang paling diingat oleh warga Rusia (dulu Unisoviet) adalah ‘Bloody Sunday’ atau Minggu berdarah. Peristiwa itu terjadi pada hari Minggu, Januari 1905.

Bacaan Lainnya

Dikutip dari Republika.co.id, Minggu (11/10/2020), pada Januari 1905, ketidakpuasan terhadap rezim Tsar Nicholas II merasuki hampir semua kelas masyarakat di Rusia. Ia, yang naik takhta pada tahun 1894, dikenal korup dan tak segan untuk menindas rakyatnya.

Saat itu rakyat pun tak puas atas kekalahan negaranya dalam peperangan melawan Jepang pada 2 Januari 1905. Kala itu Jepang berhasil menghantam dan menghancurkan angkatan laut Rusia di Port Arthur.

Akibat kungkungan yang kian mencekik, pada 22 Januari 1905, seorang pastor radikal Georgy Apollonovich Gapon memimpin ratusan orang Rusia berdemonstrasi dan menyuarakan protes terhadap Tsar Nicholas II di Istana Musim Dingin di St. Petersburg. Mereka pun mengutarakan beberapa tuntutan terhadap Tsar.

Namun, alih-alih didengarkan, Gapon dan ratusan orang yang terlibat dalam aksi tersebut justru diberondong tembakan oleh pasukan kekaisaran. Sedikitnya 500 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat berondongan tembakan.

Kebiadaban pasukan kekaisaran akhirnya memicu gelombang demonstrasi dan kerusuhan yang kian masif di seluruh Rusia. Rakyat menyatakan kecamannya atas pembantaian di Istana Musim Dingin.

Pada Oktober 1905, Tsar Nicholas II yang digencet dari semua sisi, dipaksa untuk memberikan kebebasan sipil dasar dan badan perwakilan nasional yang anggotanya dipilih oleh hak pilih terbatas.

Namun, badan perwakilan nasional yang dikenal dengan nama Duma ini dibubarkan setelah menentang kewenangan Nicholas. Sisa-sisa gerakan revolusioner pun kemudian secara brutal ditumpas oleh Nicholas. (nw)

Pos terkait