MUI Sosialisasi Keberagaman Dalam Perspektif Islam

  • Whatsapp

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Komisi Kerukunan Antar Ummat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menghelat Dialog yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Buku Kerukunan antar Umat Beragama Perspektif Islam secara daring dan luring, Rabu (18/11/2020).

Kegiatan yang dipusatkan di Hotel Swissbell, Jalan Boulevard, Makassar, ini diikuti oleh perwakilan MUI se-Indonesia bagian timur dan barat, Ormas Islam, Organisasi Pemuda Islam, dan Delegasi Pesantren, hingga perwakilan perguruan tinggi.

Muat Lebih

Diskusi dan sosialisasi buku yang menghadirkan keynote Spekaer Kapolda Sulsel Irjen Pol Drs Merdisyam MSi ini dihadiri, Sekretaris Umum Prof Dr Muh Ghalib, Bendahara Umum Ir H Andi Thaswin MSi, Wakil Bendahara , Hj Nurjannah Abna, Ketua Infokom MUI Sulsel Dr. H Waspada Santing, Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Sulsel Prof Dr Sukardi Weda.

Ketua Panitia kegiatan Dr H Mafri Amir MA, melaporkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk menghimpun problematika yang mengganggu kerukunan beragama dalam perspektif Islam di tengah masyarakat. Sebab katanya, radikalisme berawal dari sikap yang tidak toleran terhadap sesama dikarenakan perbedaan pendapat.

Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Pusat, KH Abdul Manan Ghani, Pusat mengatakan bahwa Indonesia terdiri dari beribu pulau dengan beragam suku bangsa, bahasa, adat istiadat, dan Sumpah Pemuda telah menyatukan kita dalam bingkai NKRI.

“Di negara lain, satu pulau hanya terdiri dari beberapa suku bangsa, tetapi mereka berperang tiada henti,” ujarnya.

Dalam Pemaparannya, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Merdisyam menjelaskan bahwa Idnonesia memiliki banyak keragaman suku, adat, dan agama harus dikelola dengan baik. Semua ini menjadi peluang perpecehan jika tidak dikelola dengan baik.
“karena adanya perbedaan-perbedaan kepentingan.MUI Diharapkan menjadi pemersatu bangsa. MUI dituntut memberikan pencerahan umat untuk saling membantu, meskipun berbeda agama atau keyakinan,” tutur Merdisyam

“MUI perlu mengambil peran untuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat. Ajaran ajaran damai ini telah lama tertuang dalam filosofi dan pesan-pesan kearifan lokal, khususnya Bugis Makassar seperti macca, warani, dan magetteng,” sambung Merdisyam.

Pos terkait