INFOSULSEL.COM, TANJUNG SELOR | JIKA ada yang lebih jauh dari jarak Makassar ke Tarakan, itu adalah rindu antar alumni. Kamis, 3 September 2026, rindu itu lunas.
Rombongan Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) mendarat di Bandara Juwata Tarakan dengan napas yang masih tersengal oleh perjalanan panjang. Dipimpin Ketua Rombongan Murat Abdullah, mereka datang untuk satu panggilan: Turnamen Minisoccer Antar-IKA Unhas Wilayah se-Indonesia.
Turnamen ini adalah jantung dari perayaan Dies Natalis ke-70 Unhas. Tapi di Kalimantan Utara. Maknanya melampaui seremoni. Lapangan minisoccer diubah menjadi ruang tamu raksasa tempat alumni dari seluruh penjuru Nusantara kembali duduk sebagai keluarga.
Sambutan itu terasa sejak roda pesawat berhenti. Koordinator Acara dan Pertandingan, Andi Surya Cipta, berdiri paling depan di pintu kedatangan. Tidak ada formalitas yang kaku. Yang ada hanya jabat erat dan tawa khas alumni.
Perjalanan belum selesai. Dari bandara, rombongan bergerak ke Pelabuhan Malundung. Di sinilah keistimewaan itu terjadi. Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal Arifin Paliwang, SH, M.Hum, hadir sendiri. Seorang gubernur, menunggu di dermaga untuk menyambut rombongan alumni.
Tanpa sekat, gubernur ikut naik ke KM Kaltara 1. Kapal itu kemudian membelah alur laut dan sungai Kaltara. Membawa dua kebanggaan — tuan rumah dan tamu — menuju Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, yang menjadi tuan rumah turnamen.
Di atas kapal itulah Wakil Ketua Rombongan IKA Unhas Sulsel, Syaiful, bicara jujur.
“Rangkaian perjalanan memang cukup melelahkan, namun sambutan penuh penghormatan yang kami terima menjadi suntikan energi luar biasa. Ini membuktikan betapa kokohnya tali persaudaraan di antara sesama alumni Unhas,” katanya.
Kalimat itu merangkum semuanya. Bahwa IKA Unhas Sulsel datang ke Kaltara tidak sedang memburu trofi semata. Mereka membawa misi yang lebih besar dari sekadar menang-kalah di lapangan.
Selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 4-6 September 2026, Tanjung Selor akan menjadi kawah candradimuka persaudaraan. Di lapangan yang sama, para alumni yang sehari-harinya adalah pejabat, pengusaha, dan akademisi akan saling beradu taktik, namun tetap dalam satu ikatan almamater.
Bagi Sulsel, minisoccer adalah bahasa yang paling jujur untuk merawat kebersamaan. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap menjunjung tinggi sportivitas, integritas, dan rasa hormat kepada lawan. Itu adalah cerminan karakter alumni Unhas yang ingin mereka jaga: disiplin, solid, dan bermartabat.
Itulah mengapa motto mereka begitu sederhana namun dalam: datang untuk bersilaturahmi, bertanding dengan sportif, dan pulang membawa persaudaraan.
Lebih dari 90 menit pertandingan, yang mereka cari adalah ruang kolaborasi setelah peluit panjang dibunyikan. Satu pertemuan di pinggir lapangan bisa menjadi pintu bagi sinergi pembangunan daerah, jejaring usaha, hingga gerakan sosial bersama antar wilayah IKA Unhas.
Inilah cara IKA Unhas Sulsel memaknai Dies Natalis ke-70. Bukan dengan pidato seremonial di auditorium, melainkan dengan menempuh ribuan kilometer, berkeringat bersama, dan memastikan api kebersamaan almamater tetap menyala dari Makassar hingga ke Tanjung Selor.
Perjalanan ini bukan lagi sekadar agenda olahraga. Ini adalah perjalanan nilai, tentang bagaimana pulang ke keluarga besar bernama Universitas Hasanuddin.(Sri Syahril)





