Abdi adalah sedikit dari sekian banyak wartawan di Indonesia yang punya segudang pengalaman meliput pesta olahraga dunia. Di antaranya piala dunia Amerika Serikat (AS) tahun 1994, Pra Olimpiade 1996 di Hongkong dan Piala Afrika di Afsel tahun 1997.
Selain itu ia juga hadir sebagai wartawan peliput undian Piala Dunia 2002 di Busan Korsel tahun 2001. Abdi bahkan menjadi saksi di pinggir lapangan saat bendera merah putih berkibar setelah Taufik Hidayat sukses meraih medali emas cabor bulutangkis pada Olimpiade Athena tahun 2004.
Menurut wartawan kelahiran 18 Mei 1970 ini, kalau melihat target percabor, di atas kertas terlihat memang ada peluang. ‘’Karate dan dayung bisa dua emas. Tapi, semuanya kan hitungan di atas kertas. Dengan kondisi dan dana yang minim plus sedikitnya uji coba untuk mengukur kekuatan atlet, target 10 besar sangat tidak realistis,” kata mantan wartawan Harian Fajar, tabloid BOLA dan tabloid GO, ini kepada INFOSULSEL.COM, Jumat (24/9/2021).
Apalagi, lanjut Abdi, jika dibandingkan dengan PON Jabar yang anggarannya sanat besar, Rp 87 miliar. Ia menegaskan Sulsel akan sulit bersaing dengan provinsi yang memiliki dana berlimpah. Ia menunjuk DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur, misalnya yang punya dana besar ditunjang atlet-atletnya yang punya banyak kesempatan ujicoba di luar.
‘’Sarana dan fasilitas mereka juga standar nasional dan internasional. Mereka juga beruntung karena memiliki atlet nasional dan berpengalaman. Di Sulsel saya lihat Pemprovnya setengah hati terhadap prestasi olahraga. Buktinya anggarannya sangat-sangat minim. jadi kalau nanti banyak atlet yang pindah ke daerah lain yang masa depannya lebih menjanjikan, saya kira wajar-wajar saja,” cetus Abdi.
Ia juga mencontohkan cabor Hoki yang latihan di lapangan rumput yang tidak rata. Sementara venue di Papua menggunakan lapangan karpet. Sejatinya, menurut Abdi, jika ingin memasang target tinggi Pemprov Sulsel juga harus menyediakan anggaran yang sepadan.






