Dana Minim Sejak Pra PON 2019
Keluhan pengurus cabor sesungguhnya dirasakan sejak Pra kualifikasi PON pada 2019. Saat itu anggaran yang disiapkan oleh Dispora Sulsel juga sangat minim. Cabor tinju, misalnya. Anggaran yang diberikan oleh Dispora Sulsel sangat terbatas dengan alasan rasionalisasi anggaran.
Padahal tinju masuk dalam cabor prioritas 1. Sebab pada PON XIX 2016 di Jawa Barat, tinju salah satu dari 12 cabor penyumbang medali emas. Pengprov Pertina Sulsel di Pra PON pertama wilayah Timur dan Tengah di Ternate, Maluku Utara hanya mengirim 12 atlet dan tiga pelatih. Padahal ada 17 kelas yang dipertandingkan. Lima kelas lainnya tidak diikuti karena persoalan dana. Padahal lima atlet ini telah lolos seleksi.
‘’Kami terpaksa mengirim 12 atlet saja. Sementara yang dibiayai Dispora Sulsel hanya 6 atlet dan satu pelatih. Selebihnya, ditanggung secara pribadi oleh pengurus Pertina Sulsel. Sebab dana yang disiapkan oleh Pemprov Sulsel sangat-sangat minim. Untuk biaya makan atlet saja tidak cukup. Sungguh tragis memang,” ketus Ketua Pengprov Pertina Sulsel, Adi Rasyid Ali, beberapa waktu lalu.
Ia kemudian membandingkan dengan anggaran KONI Makassar dan Dispora Kota Makassar yang jauh lebih banyak dibanding anggaran KONI Sulsel yang dianggarkan oleh Pemprov Sulsel. Sebagai ketua pengurus cabor, ARA mengaku harus merogoh kantung pribadi dalam-dalam demi membiayai atlet binananya.
Hal senada dikatakan Muhammad Tawing. Ketua Pengkot Pertina Makassar yang ditunjuk menjadi manajer tim tinju Sulsel ini menyesalkan sikap para penentu kebijakan yang seakan tidak punya hati nurani memikirkan nasib para atlet.
‘’Atlet dan pengurus cabor dituntut berprestasi. Tapi Pemprov Sulsel tidak menyiapkan anggaran yang cukup. Yang ironisnya lagi wakil rakyat yang diharap bisa memperjuangkan aspirasi rakyat yang memilih mereka jadi anggota DPRD malah seperti buta dan tuli,” pekik Tawing.
Ia berharap kedepannya peran KONI Sulsel dikembalikan dalam mengelolah anggaran prestasi olahraga. ‘’Atlet itu bertarung demi membawa nama baik Sulsel di level nasional. Bahkan di dunia internasional. Mereka membawa nama harum bangsa Indonesia. Koq keringat dan prestasi mereka tidak dihargai,” cetus Tawing.
Kebijakan pemerintah mengalihkan anggaran prestasi olahraga dari KONI Sulsel ke Dispora menurutnya adalah sebuah kekeliruan besar.






