Humas PBSI Sulsel Michael Kiky menanggapi dingin target 10 besar Sulsel di PON Papua. ‘’Tidak tahulah bagaimana hitung-hitungannya Satgas PON. Di PON kali ini kita tidak bisa berhitung normal,” sebut Kiky, singkat.
Yang pasti menurut dia, PBSI Sulsel fokus mengejar targetnya. ‘’Minimal lebih baik dari PON sebelumnya. Cabor Bulutangkis di PON Jabar sampai perempat final. Mudah-mudahan di Papua bisa sampai semi final,” harap Kiky.
Hal lain dikatakan Sekretaris Umum Persaudaraan Bela Diri (Perkemi) Sulsel, Bonay Syam. Ia menyebut prestasi tergantung masing-masing atlit.
‘’Kalaupun dananya sedikit kalau atlitnya fokus untuk juara, bisa saja. 10 besar, itu hanya target, kita lihat saja nanti,” katanya singkat.
Recofusing yang Bikin Pusing
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Pemprov) Sulsel Andi Arwien Azis mengakui minimnya anggaran kali ini karena kebijakan recofusing akibat pandemi covid-19. Itulah sehingga semua komponen dibatasi. Ia juga memaklumi keluhan pengurus cabor yang tidak dilibatkan mendampingi atlet di PON Papua.
“Anggaran PON kali ini sangat minim. Jauh berbeda dengan PON Jawa Barat. Kita ingin semua komponen dilibatkan. Namun karena keterbatasan anggaran sehingga hal tersebut sulit untuk diakomodir,” kata A. Arwien usai menghadiri pelepasan enam cabor di Hotel Grand Sayang, Kamis (23/9/2021) malam.
Ia mengakui anggaran hibah KONI, memang terbatas. Berbeda pada PON Jabar 2016. Anggarannya Rp 87 miliar. “Sekarang hanya Rp 20 miliar. Jauh bedanya di banding PON Jawa Barat, Rp 87 miliar. Jadi tidak bisa disamakan fasilitasnya. Harga-harga juga sudah berbeda. Alokasi anggaran beda. Apalagi, pelaksanaan PON di Papua. Semua serba mahal,” keluh dia.
Arwin berharap pengurus cabor bisa memaklumi kondisi ini. Minimnya anggaran akibat recofusing diakui memang cukup merepotkan dan membuat semua pejabat pusing, baik Dispora mapun KONI Sulsel.
“Saya berharap pengurus cabor jangan merasa ditinggalkan atau tidak dilibatkan. Tolong dimaklumi. Apalagi akomodasi di Papua juga terbatas. Pesawat terbatas. Cabor itu mitra strategis pemerintah dalam membina atlet. Tidak mungkin tidak dilibatkan,” sebut Arwin.






