Bagus Mana, Proporsional Terbuka atau Tertutup, Ini Kata Pengamat

Plus Minus Sistem Proporsional Terbuka dan Tutup

Bagi Fahri, sistem proporsional tertutup mampu melahirkan negarawan sejati. Dia merujuk pada pemilu pertama tahun 1955 hingga tahun 1999. ‘’Sistem proporsional tertutup dapat menghasilkan pemerintahan yang produktif. Sedangkan sistem proporsional terbuka sejak diberlakukan pada pemilu 2004 hingga 2019 menghasilkan kemerosotan produktifitas di pemerintahan,” ungkap dia.

Bacaan Lainnya

Sistem proporsional terbuka, menurut dia, rentan terjadinya “money politic”. ‘’Ini hanya menguntungkan pemilik modal. Artinya, potensi politik uang di internal partai sangat terbuka,” katanya.

Ia mencontohkan pada 2004 sampai 2019. Dalam catatan sejarah sesungguhnya dalam menerapkan sistem proporsional terbuka, politik uang menjadi kesempatan terjadinya transaksional di dalam masyarakat.

‘’Kelemahan sistem proporsional tebuka, biaya politik tinggi dan rawan terjadi benturan persaingan antara caleg dan parpol,’’ ujarnya.

Sistem proporsional tertutup, pun demikian. Kata Fahri, potensi benturan persaingan juga sangat terbuka. ‘’Kursi parlemen dapat diperjual-belikan,. Bahkan dimanfaatkan oleh orang-orang yang dekat dengan pimpinan parpol,’’ sebut Fahri.

Dr. Phil Sukri Tamma, juga punya pandangan lain. Ia menilai sistem proporsional terbuka dan tertutup punya nilai plus minus. Sistem proporsional terbuka, kata dia, dapat melahirkan persaingan di dalam dan di luar internal partai peserta pemilu.

‘’Bahkan terkesan sulit untuk dikontrol. Sebaliknya dengan sistem proporsional tertutup, terkesan simpel. Partai mudah mengontrol kadernya,” ujar Sukri.

Ia mengajak masyarakat melihat konteks yang komperhensif, baik sistem proporsional terbuka atau tertutup. ‘’Kita harus obyektif. Kita harus mengambil langkah aksiologis dalam langkah praktis. Tapi apapun yang diputuskan nantinya,  kita jangan saling menyalahkan. Masing-masing pasti punya justifikasi,” katanya.(riel)

Dr. Sukri Tamma.(FOTO: RIEL)

Pos terkait