Ditantang Petinju NTT, Petinju Sulsel Holy Masihor Optimis Menang

Ketua Pengprov PERTINA Sulsel Harpen Reza Ali menyerahkan medali emas kepada petinju Sulsel Josua Holy Masihor peraih medali emas kelas 51-54 Kg pada PON XXI Aceh-Sumut di GOR Universitas HKBP Nommensen, Pematangsiantar, Sumut.(FOTO: SRI SYAHRIL)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR | Josua Holy Masihor akan memulai debutnya pada kejuaraan tinju Piala Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora)  Seleksi Nasional (Seleknas) SEA Games 2025, Selasa (22/7/2025) di Hall Basket Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Lawan yang dihadapi adalah petinju NTT, Flanuari Yerikho Daud.

Josua Holy Masihor adalah salah satu dari tiga petinju andalan Pengurus Provinsi Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pengprov Pertina) Sulawesi Selatan (Sulsel) di ajang Seleknas dalam rangka pembentukan Timnas Tinju Indonesia untuk SEA Games Thailand 2025.

Bacaan Lainnya

Selain Josua Holy Masihor, dua petinju Sulsel lainnya yakni Andini dan Muh Ricky Pratama Syam. Pada pertandingan sebelumnya, Andini yang turun di kelas 48 Kg, satu-satunya petinju putri Sulsel, menang telak 5-0 atas petinju Angkatan Udara (AU), Mutya Adelia. Sementara Muh Ricky, peraih medali perunggu kelas 63,5 Kg PON Aceh-Sumut 2024 ini kembali akan naik ring pada Rabu (23/7/2025) pada partai semifinal.

Bagi Holy dan Flanuari, keduanya  terakhir kali bertarung di partai semi final Pekan Olahraga Nasional (PON) XI Aceh-Sumut di GOR Universitas HKBP Nommensen, Pematang Siantar, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (18/9/2024). Pertandingan tiga ronde dimenangkan Holy Josua Masihor dengan kemenangan telak 5-0.

Atas kekalahan itu, Flanuari berhak atas medali perunggu. Sementara Holy, melaju ke partai final. Di PON 2024 Sulsel meloloskan 12 petinjunya. Enam di antaranya meraih prestasi dan pulang membawa medali. Sayangnya, prestasi atlet Sulsel di PON kurang diapresiasi oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel.

Petinju andalan Sulsel yang mewakili Indonesia di Kejuaran Tinju Dunia di Uzbekistan 2023 lalu (sudut biru) saat menghadapi petinju Hungaria, Roland Veres. (DOK)

Pos terkait