Jumlah Penduduk Miskin Sulsel Meningkat, SYL Tidak Percaya

foto ilustrasi
foto ilustrasi

INFOSULSEL.com, MAKASSAR– Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel merilis data jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 16,26 ribu jiwa. Hingga Maret 2017, jumlah penduduk miskin di Sulsel mencapai 813,07 ribu jiwa dari yang sebelumnya pada September 2016 berjumlah 796,81 jiwa.

“Secara relatif presentase penduduk miskin daerah perkotaan meningkat 0,01 poin persen selama periode September 2016-Maret 2017. Sedangkan di pedesaan presentase penduduk miskin bertambah sebesar 0,29 persen,” kata Kepala BPS Sulsel Nursam Salam, Selasa (18/7/2017).

Bacaan Lainnya

Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di daerah perkotaan adalah beras, rokok, telur ayam ras, mie instan, bandeng, dan tongkol tuna cakalang. Sedangkan, di daerah pedesaan adalah komoditas rokok, beras, bandeng, gula pasir, mie instan, dan telur ayam ras.

Untuk komoditas bukan makanan, kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan adalah biaya perumahan, listrik, pendidikan, bensin, dan angkutan baik di daerah perkotaan maupun di daerah pedesaan.

Menanggapi hal itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengaku akan segera mengecek data tersebut. Sebab menurutnya, data yang dirilis seringkali berbeda dengan laporan BPS yang ia terima.

“Misalnya ini bulan, tim media dikatakan bahwa ada delapan komoditas yang turun untuk ekspor, padahal total ekspor kita secara akseleratif justru lebih bagus dari pada tahun lalu,” kata Syahrul.

Syahrul meyakini angka kemiskinan takkan mungkin melonjak jika income per kapita naik, PDRB naik dan angka pengangguran menurun.

“Angka pengangguran kita dari 5,6 persen turun menjadi 4,2 persen. Berarti lapangan kerja makin terbuka luas. Income pertumbuhan ekonomi kita naik bagus dari 7,42 menjadi 7,46, berarti naik kan. IPM kita juga naik. Kok tiba-tiba kita dapatkan lagi rilis kalau ada 16.000 penambahan angka kemiskinan. Nah ini tentu saya tidak berapologi ya,” terang Syahrul

Syahrul juga mengaku bingung dengan apa yang dirilis oleh BPS. Syahrul menyebut variabel yang mempengaruhi angka kemiskinan seperti, ikan bolu, beras, dan lainnya terlalu verbal.

“Kita kan penghasil padi, penghasil ikan bolu. Makanya, kalau itu yang menjadi variabel angka kemiskinan, itu menjadi tanda tanya juga untuk saya. Secara logika matriknya itu dimana, karena kita penghasilnya,” pungkas Syahrul.

 

 

Penulis : Sabri

Editor : Anwar

Pos terkait