INFOSULSEL.COM, BANTAENG– Indonesia telah merdeka selama 72 tahun lamanya. Namun perilaku diskriminasi atau penjajahan masih terus ada hingga saat ini. Seperti yang dikemukakan pria yang sudah berusia 45 tahun ini, Musakkir. Musakkir mengaku belum merasakan sepenuhnya kemerdekaan itu.
Musakkir yang terlahir kedunia ini dalam kondisi kaki kanannya lumpuh total namun tidak membatasi ruang geraknya, dia tetap menjalankan propesinya sebagai nelayan dan budidaya rumput laut demi kebutuhan keluarga yakni, Nurhayani (35) dan Aan (2) masing – masing istri dan anak. ” sebagai nelayan terkadang biaya untuk makan saja itu sulit,”ujarnya.
Mirisnya lagi, selama ini tidak perna dilirik oleh pemerintah setempat untuk diberikan bantuan baik berupa alat pancing atau perahu. “Biasa ada bantuan perahu atau alat pancing tapi saya tidak pernah dapat padahal saya ini paling layak, bahkan bantuan umumnya seperti beras raskin tidak pernah ada apalagi seperti kartu nelayan dan jaminan lainnya,” keluhnya.
Di tempat tinggalnya, di Kampung Lasepang, Kelurahan Lamalaka Kabupaten Kantaeng sebanrmya rutin ada bantuan dari pemerintah berupa perahu dan perlatan bagi nelayan. tai bantuan itu hanya diberikan oleh segelintir orang, yaitu orang tertentu, bahkan sakin buruknya pembagian terkadang pegawai yang menerima.
“Pernah ada perahu bantuan yang turun disini, namun dikasi hanya seorang pengawai atas nama Bakri yang sedang bekerja di dinas perikanan. Dan Bakri yang menyewakan ke saya selama dua tahun, biaya sewanya tergantung hasil yang saya dapat perharinya,”ungkapnya.
Hal itu dinilai oleh Musakkir sebagai bentuk penjajahan, diskriminasi dari pemerintah. Bahkan untuk mencegah perilaku diskrimasi itu, dia tidak segan-segan mendatangi kantor Dinas Perikanan untuk memohon bantuan, namun hingga saat ini, upaya yang dilakukan itu belum ada respon dari dinas terkait.
Dengan penghasilannya yang tidak jelas dalam setiap hari, dia berharap agar pemerintah setempat maupun pemerintah daerah memperhatikan masyarakatnya. Bahkan dengan mata yang berkaca-kaca menyebut nama Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah untuk mengunjungi masyarakat yang susah. “pak bupati jalan-jalanki ke masyarakatta supaya kita tahu mana yang layak di berikan bantuan mana yang tidak layak, Kaya saya ini orang serba kekurangan tidak pernah di sambangi oleh pemerintah,” pintanya pada sang Profesor.
Dia meyakini jika ketimpangan itu diluar sepengatahuan Nurdin Abdullah, melainkan orang-orang yang belum bersyukur atas limpahan rahmat yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “bupati itu orangnya dermawan, suka membantu, sehingga saya yakin perilaku bawahannya ini diluar sepengetahuannya,”tuturnya.
Salah seorang kerabat Musakkir, Herman membenarkannya. Herman mengatakan ada selama ini Musakkir hanya dilihat saja oleh pemerintah setempat tapi tidak perna dilirik pun, jangankan memberikan secercah bantuan, mempertanyakan kabar saja tidak perna.
“dengan mementum 17 Agustus saya berharap Pemda Kabupaten Bantaen terbuka dan memeliki perasaan hibah melihat nasib Musakkir , karna sudah berapa metode di lakukan untuk bermohong kepada pemerintah untuk berikan bantuan sampai sekarang ini belum ada,” jelasnya.
Penulis : Vina
Editor : Anwar





