INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo terlihat sangat senang saat mencoba permainan tradisional tojang (ayunan) raksasa setinggi 15 meter.
SYL ikut bermain bersama ratusan siswa yang mencoba permainan rakyat mattojang di Lapangan Upacara di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel Rabu pagi(18/10).
Permainan rakyat ini dihadirkan di rujab sebagai salah satu bagian dari rangkaian HUT ke-348 Sulawesi Selatan. Selain sebagai sebuah tradisi, permainan adat tradisional ini dihadirkan dalam perayaan pesta panen, syukuran, pernikahan, dan menyambut kelahiran bayi.
SYL merasa senang dengan hadirnya permainan seperti ini, bahkan dia mengaku sering memainkan dulu dan tidak banyak provinsi yang punya tradisi mattojang. “Kegiatan ini untuk melihat tradisi dan budaya yang dimiliki Sulsel. Tidak banyak provinsi yang punya seperti ini,” kata SYL.
Penanggung jawab kegiatan, Kadis Peternakan Sulsel Abdul Azis menyebutkan mattojang merupakan sebuah ritual uji nyali dan keberanian lelaki bugis. “Tradisi ini intinya adalah ritual ajang uji nyali dan keberanian Suku Bugis dan ajang silaturahmi,” jelasnya.
Selain permainan mattojang juga ditampilkan ritual pesta panen padi Mappadendang yang dibawakan oleh kelompok seni dan budaya dari kabupaten Sidrap.
Apa itu Mattojang?
Mattojang merupakan bagian dari rangkaian upacara adat Sao Raja, upacara pencucian benda-benda pusaka peninggalan Arung Kulo, di jalan dulu.
Namun seiring perkembangan zaman, Mattojang tidak lagi diselenggarakan ketika upacara Sao Raja. Ini menjadi permainan adat rakyat Bugis. Biasa juga dilaksanakan untuk memeriahkan perayaan pesta panen, pernikahan atau kelahiran bayi.
Mattojang berasal dari kata Tojang, berarti ayunan. Ada juga yang menyebut Mattojang dengan Mappare. Mappare berasal dari kata Pare, artinya sama dengan Tojang yaitu ayunan. Dibalik permainan rakyat ini, ada mitologi yang melandasinya.
Menurut mitologi Bugis, Mattojang merupakan proses turunnya manusia pertama, yaitu Batara Guru dari Botting Langi (turunnya Batara Guru dari Negeri Kahyangan ke Bumi). Batara Guru adalah ayah dari La Galigo, tokoh mitologi Bugis yang melahirkan kitab La Galigo. Konon, proses turunnya Batara Guru ini menggunakan Tojang Pulaweng, artinya ayunan emas.
Untuk memainkan Mattojang, diperlukan empat batang kelapa atau bambu betung. Tingginya antara 10 sampai 15 meter. Setiap dua batang dipasang menyilang dengan mempertemukan kedua ujung bagian atasnya. Lalu batang bambu atau batang kelapa yang panjangnya sekitar enam meter sampai delapan meter dipasang melintang di atas bambu yang berdiri sebagai tempat penyanggah tali ayunan.
Dulu tali ayunan biasanya menggunakan kulit kerbau yang telah dikeringkan dan dianyam membentuk tali. Tapi sekarang, banyak yang sudah menggunakan rantai besi sebagai tali ayunan.
Setelah tiang penyangga dan tali ayunan selesai disiapkan dan dipasang, dibuatlah dudukan yang disebut Tudangeng. Dudukan ini terbuat dari papan kayu. Berikutnya, dipasang tali penarik yang disebut Peppa.
Ketika acara Mattojang berlangsung, orang yang mau naik ke Tudangeng dan memainkan Mattojang harus memakai baju bodo. Lalu, dua orang laki-laki atau perempuan menarik Peppanya sehingga Mattojang berayun-ayun. Proses pengayunan ini disebut Pedere.
Selain sebagai permainan tradisional, Mattojang juga menjadi ritual proses penyembuhan penyakit non-medis. Mereka yang ditengarai terkena penyakit non-medis terlebih dahulu harus menjalani proses ritual tertentu. Setelah melalui proses tersebut, orang yang sakit itu kemudian di Tojang.
Dengan mengayun-ayunkan tubuh di udara, diyakini penyakit keluar dan melayang ke angkasa. Secara psikologis, orang yang berayun-ayun dalam ketinggian puluhan meter dapat mengalami semacam trance kekosongan pikiran,
Mattojang secara filosofis bermakna penenangan jiwa. Orang yang melakukan Mattojang akan tenang jiwanya seperti bayi yang tertidur di atas ayunan, tanpa beban pikiran.
Penulis : Herman
Editor : Aril





