Kisah Pilu Daeng Simbung,  Tergolek Lemah Karena tak Punya Biaya

Karena tidak punya uang Daeng Simbung tak mampu berobat di rumah sakit. Ia kini tergolek lemah di rumahnya karena sakit.

INFOSULSEL.COM,MAKASSAR— Miris. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan nasib Daeng Simbung. Warga miskin itu kini tergolek lemah di rumahnya di Desa Bululoe, Kec. Turatea, Kab. Jeneponto karena sakit. Ia menderita gondok dan strok yang sudah menahun.

Karena kondisinya itu  Simbung kini tak bisa lagi mencari nafkah. Jangankan untuk menghidupi keluarganya, untuk bergerak pun sudah tak mampu.

Untunglah sekelompok anak muda yang tergabung dalam Jaringan Kemanusiaan (JK) mau peduli. Penggalangan dengan cara sederhana mereka dilakukan  di Jalan A.P. Pettarani. Termasuk juga  melakukan bazar kemanusiaan di Warkop Lasugi Coffee, Jalan Daeng Tata Raya, Kompleks Ruko Puri Permata Mutiara pada 17 November 2017 lalu.

Namun upaya yang dilakuan JK tampaknya belum cukup untuk mengumpulkan dana demi membiayai Daeng Simbung.  Menurut rencana JK kembali akan melakukan penggalanagan dana dengan cara lainnya demi mengumpulkan dana dari para donatur.

Nasib Daeng Simbung memang cukup memprihatinkan. Di tengah keterbatasan ekonomi, dan sakit yang dideritanya memkasa keluarganya harus meminta makan di tetangga rumahnya.

Yang lebih miris lagi Pemerintah Kabupaten Jeneponto seakan menutup mata. Sibuk dengan agenda politik mengejar tampuh kekuasaan yang sebentar lagi akan berakhir.  Di sisi lain ada warganya yang tengah bertaruh nyawa karena tak punya biaya.

Sejak sakit, Daeng Simbung sama sekali belum pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jeneponto.

Kondisi Daeng Simbung diketahui pertama kali saat volunteer JK mengunjungi rumahnya sekitar pukul 02,00 WITA. Saat itu lelaki renta ini meringis kesakitan dan kelaparan karena seharian belum makan sama sekali.

‘’Padahal waktu itu sudah jam 2 dinihari. Kami terpaksa meminta makan seadanaya di tetangga rumahnya,” ungkap Ketua JK, Junaedi, Minggu (19/11/2017).

Menurut Junaedi, Daeng Simbung sebenarnya pernah berobat di Rumah Sakit Lanto Dg Pasewang. Tapi, karena tidak memiliki biaya, Simbung tidak dilayani dengan baik. Ia terpaksa dipulangkan ke rumahnya dan tidak melanjutkan pengobatan.

‘’Terpaksa keluarganya membawa pulang dan dirawat seadanya di rumahnya,” ujar Yudha Jaya, Penanggung Jawab JK.

Daeng Simbung hanya bisa pasrah. Ia kini tergolek lemah akibat sakit yang dideritanya. Badannya kurus. Benjolan sebesar kepalan tangan di lehernya membuatnya tak mampu berbuat apa-apa.

Ironis memang. Padahal ada program Kesehatan Mappakasunggu yang launching awal Maret 2017 oleh Pemkab Jeneponto.  Janji Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar saat itu yang tidak mau lagi mendengar ada masyarakat yang terkendala masalah kesehatan, hanyalah janji-janji kosong.

Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Sulsel pun tak kalah hebatnya. Dengan program kesehatannya. Berbagai penghargaan kesehatan mereka dapat. Dengan bangganya penghargaan itu diekspos. Namun ernyata masih ada warga miskin yang tergolek lemas tak merasakan pelayanan kesehatan dengan baik.

Sebuah ironi juga. Sebab program Nusantara Sehat yang dicanangkan oleh Kementrian Kesehatan RI ternyata hanyalah isapan jempol belaka. Mengapa tidak. Seorang Daeng Simbung pun tak mampu ditangani. Bagaimana mau mengejar target 148 kabupaten di Indonesia dengan program Nusantara Sehatnya.

 

 Penulis : Satriawan

Editor : Sri Syahril

Pos terkait