INFOSULSEL.COM, MAKASSAR – Politisi Partai Demokrat kota Makassar Abdi Asmara tidak tinggal diam melihat warga yang tertimpa musibah kebanjiran. Di bawah guyuran hujan deras Ketua komisi A DPRD Makassar ini langsung turun ke lokasi banjir membawa bantuan sembako dan mie instan, Kamis (21/12/2017).
Dibantu kerabatanya Abdi yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat ini menuju lokasi banjir di Kelurahan Katimbang, dan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya.

Data yang diperoleh dari Badan SAR Nasional (Basarnas) Makassar menyebutkan lokasi ini salah satu titik banjir yang paling parah di Makassar. Tinggi air mencapai 1 meter menggenangi ratusan rumah yang dihuni sekitar 2.000-an warga.
‘’Bantuan ini sekadara untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” kata Abdi Asmara.
Legislator berusia 44 tahun ini memang dikenal ramah dan peduli dengan sesamanya. Menurut Abdi, kader Partai Demokrat wajib berbagi jika dalam kondisi seperti ini demi kepentingan masyarakat.

‘’Ini juga sesuai arahan Ketua Umum Partai Demokrat, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Seluruh kader wajib untuk selalu berada di garis terdepan jika terjadi musibah seperti ini,” ujar politisi kelahiran 12 Oktober 1973 ini.
Politisi berusia 44 tahun ini mengatakan, penanggulangan dan pencegahan banjir saat ini merupakan tanggung jawab semua warga Makassar. Menurutnya, curah hujan yang turun beberapa hari terakhir di Makassar memang cukup tinggi. Ini menyebabkan sejumlah titik di Makassar tergenang.
“Tanggung jawab ini berada di pundak kita seluruh warga masyarakat. Kita tidak bisa menyalahkan Pemerintah Kota semata. Karena itu saya mengajak warga Makassar khususnya di Kelurahan Paccerakkang untuk bersama-sama memelihara lingkungan. Kita mulai dari lingkungan sekitar kita dulu dengan tidak membuang sampah sembarangan,” kata sosok legislator yang dikenal sangat bersahabat, dan ramah kepada koleganya itu.
Di Makassar ada sejumlah titik yang terendam banjir. Selain di Paccerakkang, hal serupa juga terjadi di Swadaya, Ballaparang, Barabaya, Kelapa Tiga, Abdullah Daeng Sirua, Romang Tangaya, Antang, dan Borong.
Penulis : Asri Syahril





