Kisah Pilu Buruh Lendir di Jalan Nusantara (2)
LISA, begitu namanya. Sudah dua tahun nama itu melekat pada dirinya sejak ia pertama kali ‘terjun di lembah hitam’. Aslinya, jangan ditanya. ‘’Itu rahasia,’’ katanya manja.
Wajahnya lumayan cantik. Ia mirip seorang Fitri Ayu, pemeran karakter Yuli dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Pantas saja kalau Lisa tak pernah kekurangan pelanggan. Gadis asal Blimbing, Malang, Jawa Timur ini bisa melayani 5 sampai 7 pelanggan. Itu saat jam kerja antara pukul 20.00 sampai pukul 02.00 dinihari. Belum termasuk jam bookingan luar alias BL yang biasanya nginap di hotel sampai pukul 12 siang.
Dari usianya, Lisa masih terbilang belia. Anak kedua dari empat bersaudara ini masih belum agenap 19 tahun. Ketika pertama kali terjebak oleh seorang lelaki di Terminal Bungorasih, Surabaya, Jawa Timur, usia Lisa belum genap 17 tahun.
Dua tahun sudah ia menekuni profesinya itu. Baginya, tak adalagi rasa penyesalan. Apalagi, profesi yang dilakoninya tak menuntut pendidikan formal seperti profesi lainnya.
‘’Yang penting servisnya kan, ‘’ katanya manja.
Lisa memang cukup dikenal di kalangan penikat hiburan di Kawasan Nusantara. Wajah cukup cantik didukung kulit putih bersih. Dagunya panjang. Di kedua pipinya dihiasi lesung pipi. Rambut hitam lurus terurai. Panjang sepinggang. Kemolekan tubuhnya itu membuat mata lelaki hidung belang jadi melotot sambil menelan air liur.
Kesempurnaan tubuh dan wajahnya serta tutur katanya yang lembut semakin menambah daya tarik gadis manja ini. Sayangnya, Lisa tak memiliki pendidikan yang cukup memadai. Ia hanya mengenyam pendidikan sampai SD.
‘’Itu pun tidak tamat,’’ akunya polos.
Tapi, Lisa kini bukan lagi Lisa dua tahun atau tiga tahun lalu yang mudah untuk dibodohi. Karena pergaulannya sehari-hari dengan para kliennya membuat ia semakin matang dalam berpikir. Kedewasaan janda korban pernikahan dini ini mulai tampak. Malah, ia tampak lebih dewasa dari usianya.
Tidak hanya Lisa. Masih ada Lisa-Lisa lainnya yang siap di ajak kencan kilat di sepanjang Jalan Nusantara. Lisa, hanyalah satu contoh dari ratusan, bahkan ribuan gadis desa yang dijebak oleh para ‘hunter’– istilah bagi mereka yang berprofesi sebagai penjual calon pekerja seks komersial (PSK).
Biasanya ‘hunter-hunter’ ini mencari mangsa di terminal atau di mall-mall di kota-kota besar. Malah ada ‘hunter’ yang sengaja keliling kampung demi mencari calon PSK. Di Makassar, gadis asal Jawa Timur mendominasi Tempat Hiburan Malam (THM) di Makassar.
Awalnya, mereka menawarkan jasa untuk mencarikan kerja, baik sebagai pembantu atau baby sitter. Namun kenyataannya, seperti pengakuan beberapa PSK, mereka tidak dipasok ke THM. Tidak hanya di Makassar. Di kota-kota lain pun terjadi modus serupa dalam menggaet calon PSK.
Tapi, tidak semua PSK di Makassar di supley oleh para ‘hunter’. Ada juga yang diajak oleh teman sekampungnya yang sudah lebih awal menekuni profesinya sebagai teman tidur sesaat.
Cara-cara yang dilakukan oleh PSK ini dalam merekrut calon PSK baru lebih beradab. Mereka berterus terang kalau nantinya mereka akan diajak bekerja sebagai ‘lonte’.
‘’Biasanya kami mengajak kawan sekampung yang memang berlatar belakang ekonomi yang pas-pasan,’’ ungkap Mila, bukan nama sebenarnya.
Faktor ekonomi, merupakan salah satu penyebab banyaknya gadis-gadis desa terjerumus ke profesi tertua di dunia ini. Tidak hanya para calo yang menawarkan mereka ke para germo di seantero Nusantara. Yang lebih meggiriskan lagi, ada orang tua yang – karena kebutuhan ekonomi – dengan terpaksa harus menjual anaknya demi sesuap nasi.
Tidak hanya ibu atau ayah. Ada juga yang tega menitip adik kandungnya bekerja menjadi kupu-kupu malam. Atau karena sang kakak lebih dulu menekuni profesi itu, sang adik yang berada di kampung turut diajak mengikuti jejak sang kakak. Jadi, tidak semua PSK melakoni profesinya karena ditipu atau tertipu. Inilah realita hidup di negeri ini. (Bersabung)
Penulis : Asri Syahril





