BKPRS Dorong Sulawesi jadi Penyangga Pangan Nasional

INFOSULSEL.COM,MAKASSAR — Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) gencar mendorong terlaksananya program pembangunan di wilayah Sulawesi melalui ajang diskusi ilmiah.

Bertempat di Hotel The Rinra, Jalan HM Daeng Patompo, Kota Makassar, Senin (14/5/2018), BKPRS kembali menggelar seminar bertema “Memantapkan Sulawesi sebagai Penyangga Pangan Nasional”.

Hadir di seminar ini Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Benny Rachman; Kepala Bidang Perencanaan Infrastruktur II Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah, DR Ir Maulidya Indah Junica dan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Ambo Ala.

Pelaksana tugas Sekretaris Jenderal BKPRS Prof Aminuddin Ilmar yang bertindak sebagai moderatir mengatakan tujuan seminar ini sebagai implementasi program kerja BKPRS periode 2016-2019, yakni mendorong pengembangan sektor pertanian guna mewujudkan Sulawesi sebagai lumbung pangan nasional.

“Ini juga merupakan misi BKPRS yaitu menjalin kerjasama dalam memelihara dan menempatkan keunggulan lokal masing-masing wilayah untuk melahirkan keunggulan regional dan juga berperan sebagai perekat perekonomian kawasan timur Indonesia sebagai perekat ketahanan ekonomi nasional,” ujarnya.

Dalam pemaparannya Benny menyampaikan sejumlah hal yang meliputi grand design Indonesia lumbung pangan dunia 2045, kondisi ketersediaan pangan nasional Sulawesi, serta terobosan dan inovasi pertanian modern.

Dia menyebut, perkembangan penduduk Indonesia pada 2014-2018 sebesar 12,8 juta jiwa dengan tingkat kebutuhan tambahan pangan sebanyak 1,7 juta ton beras.

Benny menjelaskan, surplus padi tahun lalu di enam provinsi di wilayah Sulawesi. Sulsel dengan tingkat ketersediaan 3,63 juta ton, dan tingkat konsumsi sebesar 995.000 ton. Sultra, tingkat ketersediaan 460.000 ton, dan tingkat konsumsi sebesar 298.000 ton.

Adapun Maulidyah Indah Junica, menguraikan struktur ketahanan pangan mandiri dan berkelanjutan, swasembada karbohidrat dan protein, hingga tingkat kesejahteraan petani.

Dimulai dari pengembangan infrastruktur pertanian, pembangunan SDM yang cerdas dan unggul, pemenuhan produk pertanian berstandar internasional, modernisasi industri pertanian, dan peningkatan daya saing global produk pangan pertanian.

Lain halnya dengan Prof Ambo Ala. Dia mengatakan, boleh saja menunda pembangunan kecuali pembangunan ketahanan pangan karena pangan adalah kebutuhan manusia, serta ketahanan pangan adalah benteng terakhir ketahanan nasional.

“Kepedulian terhadap pangan meliputi kedaulatan pangan, infrastruktur, pengadaan sarana produksi pertanian. Kedaulatan pangan adalah hak setiap orang terhadap makanan sehat dan sesuai budaya yang dihasilkan melalui metode berkelanjutan yang ramah lingkungan dan ekologis, dan hak mereka untuk menentukan sistem pangan dan pertaniannya sendiri,” jelas Prof Ambo Ala.

 

Penulis : Adriyan/C

Editor : Asri Syahril

Pos terkait