SBY Perintahkan DPC Demokrat Makassar Kawal Suara Kolom Kosong

Ketua dan Sekretaris DPC Partai Demokrat Makassar Adi Rasyid Ali, dan Abdi Asmara didampingi sejulha anggota DPRD Makassar dari Fraksi Demokrat serta 15 Ketua PAC se kota Makassar pada jumpa media di Makassar.(FOTO: SRI SYAHRIL)

INFOSULSEL.COM, MAKASSAR — Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPD) Partai Demokrat kota Makassar Adi Rasyid Ali menegaskan, fenomena kemenangan Kolom Kosong (KOKO) baik melalui quick count maupun real count pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota (Pilwalkot Makassar, menjadi perhatian nasional.

Karena itu Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, kata ARA, sapaannya memerintahkan jajaran pengurus DPC Partai Demokrat Makassar untuk mengawal suara KOKO.

Bacaan Lainnya

Bukan tanpa sebab Presiden RI-6 yang dikenal santun dan tegas itu memerintahkan pengurus DPC Demokrat mengawal suara KOKO. Alasannya karena banyaknya kejadian kecurangan diantaranya dugaan kecurangan dengan melakukan manipulasi data hasil perhitungan suara yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

“DPP Demokrat, Bapak SBY bersama Sekjen (sekretaris jendral) Hinca Panjaitan meminta DPC Makassar mengawal ketat dan mengikuti proses perhitungan di kota Makassar, dan mengikuti rekapitulasi suara pada Pilwali ota Makassar ini,” ujar ARA di depan puluhan awak media di Makassar, Ahad (1/7/2018).

Menurut ARA, perhatian yang diberikan SBY ia yakini juga berlaku untuk para elit Partai Politik (Parpol) penguasa di pusat. Atas imbauan tersebut ARA memastikan akan melaksanakan instruksi yang diminta DPP. Hal itu untuk menghindari adanya

Demokrat mengimbau KPU agar benar-benar menjalankan amanah ini secara profesional, tidak berpihak ke salah satu Paslon (Pasangan Calon). Baik Appi – Cicu (Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi), maupun Koko.

“Dari awal, kami sampaiakan kepada semua pihak terkait agar bekerja secara profesional. Kami tidak ingin demokrasi di Makassar kiamat. Karena itu kami meminta KPU selaku penyelenggara Pemilu di kota Makassar bekerja secara profesional dan tidak memihak kepada paslon tertentu,” ujar Wakil Ketua DPRD kota Makassar ini.

Selain menggerakkan struktur partai, Demokrat juga mengajak masyarakat untuk mengawasi jalannya proses rekapitulasi pemilihan bertahap. Apalagi, jika merujuk pada data real count internal, suara paslon dan Koko sangat tipis.

“Perolehan suara paslon tunggal dan KOKO beda tipis. Ini bisa saja tiba-tiba berubah. Apalagi, ada kondisi dimana server sempat down. Yang kami hawatirkan bisa saja terjadi kalau tidak diawasi,” kata adik kandung mantan Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel yang juga mantan anggota DPRRI Reza Ali ini.

Ia mengungkapkan data yang dimiliki  DPC Partai Demokrat hasil quick count dan real count, KOKO memenabgkan Pilwali Makassar di angka 52.98 persen. Sedangkan Appi – Cicu 47.01 persen. Rinciannya, paslon tunggal memperoleh  237.616 sedangakn KOK,  267.759 suara. Surat suara tidak sah  berjumlah 10.578 dan suara sah  505.441.

Kalau perolehan suara tersebut tidak berubah sampai pada keputusan resmi KPU kota Makassar, dan Pilwalkot Makassar diulang pada periode 2020 nanti, Demokrat kata ARA akan tetap mensupport Moh Ramdhan Pomanto untuk maju kembali  sebagai Walikota Makassar.

“Jika diulang 2020 Demokrat akan tetap mensupport Danny sebaga calon wali kota Makassar. Kami sampaikan bahwa, Demokrat sejak 2013 adalah pengusung Danny bersama Syamsu Rizal. Demokrat teap konsisten mendukung Danny pada  pencalonan walikota 2018 – 2023. Posisi demokrat konsisten bersama rakyat,” tegas ARA, lagi.

 

Penulis : Asri Syahril

Pos terkait