INFOSULSEL.COM, MAKASSAR— Pemilihan legislatif (Pileg) 2019 kini tak hanya diikuti politisi kader parpol, tapi juga diikuti mamtan birokrat.
Sebut saja, mantan Sekda Makassar Ibrahim Saleh yang maju lewat Partai NasDem, mantan Kadisdik Makassar Ismunandar lewat Partai Golkar
Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan, ada beberapa strategi untuk mendapatkan suara maksimal dalam pemilihan legislatif mendatang. Di antaranya adalah dengan merekrut mantan pejabat atau birokrat. Hal ini lantaran partai politik melihat peluang mantan birokrat untuk terpilih jadi anggota dewan cukup besar.
Alasannya, sejak menjadi birokrat sudah membangun relasi-relasi di masyarakat begitupun dari segi popularitasnya.
“Masyarakat sudah mengenal
track recordnya pernah menempati jabatan stratefgis dibidangnya. Bisa saja dengan modal seperti itu,” terangnya, Kamis (11/10/2018).
Firdaus melihat jika paran mantan birokrat terpilih di Pileg sudah siap secara potensi dan kompetensi.
Karena sesungguhnya kerja-kerja legislatif, eksekutif dan yudikatif itu memang mengadah pada birokratis yang artinya secara potensi dan kompetensi yang dimiliki birokrat siap melakukan kerja-kerja.
“Pengalamannya di eksekutif bisa jadi modal untuk bekerja di legislatif,” urainya.
Kendati demikian lanjut dia, kendalanya mantan birokrat minim pengalaman politik. Baik dari bagaimana bergabung di partai, mendapatkan kursi di partai, beradaptasi di partai dan bagaimana bersosialisasi di masyarakat.
“Realitas yang dihadapi oleh mantan birokrat jika maju caleg adalah memasuki dunia politik praktis yang sesungguhnya tidak pernah mereka sentuh. Sehingga mereka mesti memulai untuk membranding diri, bersosialisasi di masyarakat, dan mendapatkan suara. Saya kira itu adalah proses politik. Tapi sudah siap untuk kerja,” tandasnya. (*/yud)
Editor: Yudhi





