INFOSULSEL.COM, MAKASAR – Satu dari tiga prajurit TNI yang gugur dalam kontak senjata dengan kelompok kriminal bersenjata (KB) di Nduga, Papua, Kamis (7/3/2019) adalah Sersan Satu (Sertu) Anumerta Yusdin. Dia putra Bugis, lahir di Desa Pongko, Walenrang Utara, Kabupaten Luwu
Sertu Yusdin, salah satu anggota Kopassus yang tergabung dalam dalam satgas Nanggala. Ia merupakan tulang punggung keluarga. Yusdin pula yang membiaya tiga adiknya yang masih bersekolah.
Kedua orang tua almarhum, Sanatan dan Enni serta ketiga adiknya tidak kuasa menahan tangis. Foto almarhum berpakaian Kopassus, tidak henti-hentinya dipeluk. Meski begitu, keduanya pasrah. Mereka bangga karena anaknya gugur dalam keadaan tugas negara.
Di kalangan keluarga, Yusdin dikenal sebagai sosok peramah dan suka menolong. Sejak menjadi anggota TNI tahun 2016, Yusdin aktif mengirimkan uang sekolah untuk ketiga adik-adiknya.
“Dia (Yusdian) semuami kasian yang bantu biaya sekolah adiknya,” tutur Enni seperti dikutip palopotoday.id.
Enni bersama suaminya merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Terlebih sosok Yusdin merupakan kebanggaan keluarga yang sangat sayang kepada adik-adiknya.
Sebelum tugas ke Papua bersama tim satuan tugas Nanggala, prajurit yang taat beribadah ini menyempatkan diri kembali ke kampung halamannya. Ia meminta doa dan restu kedua orang tuanya.
Kepada adiknya, Nurhaeni yang kini tengah menyelesaikan kulaihnya di salah satu perguruan tinggi Yusdin berpesan agar senantiasa membantu orang tua serta tekun belajar agar apa yang dicita-citakan dapat terwujud.
“Dia (Yusdin) minta agar rajin belajar biar seperti dia yang telah berhasil menggapai cita-citanya,” kata Nurhaeni.
Dari keterangan Kepala Penerangan Kodam XVII/Cendrawasih Kolonel Muhammad Aidi, ketiga anggota TNI yang gugur sedang bertugas bersama pasukan Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) yang melakukan pengamanan proses pergeseran pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena-Mumugu di Kabupaten Nduga.
Satgas Gakkum yang berjumlah 25 personel tiba-tiba mendapat serangan dari anggota KKSB pimpinan Egianus Kogoya di Distrik Mugi yang berjumlah sekitar 50 hingga 70 orang, sekitar pukul 08.00 WIT, Kamis kemarin. Anggota KKSB diketahui menggunakan senjata standar militer dan senjata tradisional seperti tombak dan panah.
Keluarga besar Serda Yusdin di Desa Pongko, Kecamatan Walenrang, Kab. Luwu, menanti pemulangan jenazah Serda Yusdin untuk dimakamkan di kampung halamannya.
Kekasih Serda Yusdin, Atik Candrawaty, menulis curahan hati atas kepergian pria yang dicintainya di akun facebook dengan logat Ternate. Atik menyebutkan Serda Yusdin sebelumnya pamit untuk tugas hanya sepuluh hari dan berjanji akan pulang. Atik juga memiliki firasat kalau kekasih hatinya itu akan pergi untuk selamanya.
Di laman Facebook Serda Yusdin, dengan akun Setan Merah Asia, ia juga memamerkan foto-foto keakraban pasangan kekasih ini. Di status Facebook-nya juga, Serda Yusdin menulis status hubungannya sudah bertunangan dengan Atik Candrawaty.
Penulis : Asril/dbs





