AHAD, 28 juli 2019 stadion angker Mattoangin kembali bergemuruh. Pertarungan Ayam Jantan dari Timur, PSM Makassar di leg Final Piala Indonesia dipastikan seru dan membara. Meskipun kalah 0-1 dari Persija Jakarta di leg pertama Ahad (21/7/2019) di Stadion Gelora Bung Karno (SUGBK) tapi itu bukan akhir dari segalanya, kita lupakan kekalahan.
PSM Makassar kali ini diyakini mampu menunjukkan tajinya, dan bisa menebus kekalahannya di depan publiknya sendiri di Makassar.
Tentu anak-anak PSM harus bekerja extra keras. Wajib menang minimal 2 -0 kalau mau menjadi juara. Oleh karena itu para pemain dituntut total berjuang untuk memenangkan pertandingan.
Meskipun kita kecewa di leg pertama karena kalah, tapi itu bukan halangan untuk menang di leg kedua. Sesungguhnya permainan PSM cukup bagus. Bahkan di beberapa laga terakhir PSM terus menunjukkan perfoma peningkatan permainan.
Lebih khusus pada semangat juangnya. Disini kita tidak lagi berbicara masalah tehnis. Karena itu merupakan tugas pelatih. Tetapi kita berharap semua pemain mampu bermain all out. Bisa menginplementasikan dan menerapkan strategi pelatih.
Pemain harus fokus. Sedikitpun tidak boleh lagi lengah. Sebab, lengah berarti blunder. Ini merupakan laga penentuan. Wajib dimenangkan, meskipun tim Persija merupakan Juara Liga musim lalu. Tetapi tetap bisa dikalahkan. PSM juga di untungkan karena bermain di hadapan pendukung fanatiknya.
Inilah peluang besar PSM untuk kembali mengulang sejarah ketika Bahar Muharram Jefridin dan Mustari Ato cs mengantar PSM meraih juara Perserikatan kasta tertinggi sepakbola tanah air di Istora Senayan Jakarta 27 Pebruari 1992. Di final mereka membungkam PSMS Medan dengan skor 2-1.
Masih teringat segalanya, kenangan dimasa itu, bersama Syamsuddin Umar sang pelatih, dan asisten pelatih trio Baco Ahmad . Ketika itu Ayam jantan dari Timur berkokok setelah 26 tahun bungkam tanpa gelar.
Dengan materi pemain pas pasan, mampu mempersembahkan tropy juara Perserikatan. Itu karena idealisme Siri na Pacce. Lalu delapan delapan tahun kemudian tepatnya 23 Juli 2000 di stadion yang sama GBK, Ansar Abdullah,Syamsuddin Batola Ronni Ririn dan kawan-kawan kembali mengantar PSM Juara Liga Indonesia setelah di final menekuk Pupuk Kaltim (PKT) dengan skor 3 -2.
PSM saat itu diarsiteki duet Hengk Wullem sebagai Direktur Teknik dan sang legenda juku Eja, Syamsuddin Umar.
Kali ini semangat juang itu kembali membara. Para pemain diharapkan tampil garang, segarang arus laut selat Makassar. Tenggelamkan musuh musuhmu di stadion angker Mattoangin. PSM diyakini mampu mempersembahkan kembali Tropy Piala Indonesia sekaligus meraih bonus dan ticket menuju Tournament piala AFC.
Kita semua berharap, semua pemain mampu bermain all out. Semoga tuah stadion angker Mattoangin akan kembali menelan korban. Menusuk dan melukai, menghempaskan Macan Kemayoran menjadi ‘Macan Ompong’.
Inilah harapan seluruh pencinta bola Makassar dan Sulawesi Selatan, termasuk para perantau KKSS yg ada di luar Sulsel.
- Kota Daeng 24 Juli 2019
- Nasruddin Arif.
- Pemerhati sepakbola Berdomisili di Makassar.





