Gegara Gojek ‘Merantau’ ke Malaysia, Indonesia Disebut Negara Miskin

A Go-Jek Indonesia Pt. helmet sits on a motorcycle taxi as riders check their mobile devices in Jakarta, Indonesia on Sunday, March 20, 2016. The Jakarta-based startup has already become a household name in its home country. The startup's app has been downloaded more than 11 million times and it has more than 200,000 motorbikes. Its name is a play on ojek, the Indonesian word for the motorcycle taxis that crisscross Southeast Asia's most populous nation. Photographer: Dimas Ardian/Bloomberg via Getty Images

INFOSULSEL.COM –Rencana ekspansi Gojek ke Malaysia, diwarnai penolakan pengusahan Malaysia. Indonesia pun disebut sebagai negara miskin. Pelakunya, para bebisnis yang terancam kehadiran  perusahaan transportasi berbasis teknologi itu yang akan  melebarkan sayapnya di negeri Jiran.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara, pun berang. Ia menegaskan, pihak Malaysia harus lebih bijak soal rencana Gojek yang ingin beroperasi di sana.

“Punya Malaysia boleh masuk ke Indonesia, masa Indonesia enggak boleh masuk ke Malaysia,” kata Rudiantara di Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Meski demikian, Rudiantara tidak menyebutkan secara spesifik perusahaan atau hal apa yang sudah masuk beroperasi di Indonesia.

Namun kehadiran Gojek dengan layanannya dipandang akan memberikan dampak pada masyarakat di Malaysia. Utamanya dalam menghadirkan pilihan model transportasi publik selain konvensional.

“Harusnya persaingan sehat,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat ini di negara-negara kawasan Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nation (Asean) mengenal istilah satu pasar dalam ekonomi. Sehingga persaingan usaha dan bisnis di kawasan harus adil.

“Masa kita (Indonesia) ditutup (ditolak Malaysia),” imbuhnya.

Menkominfo juga menyoroti pernyataan penhusans sekaligus pemiliki taksi Big Blue Malaysia Datuk Shamsubahrin Ismail yang menyebut Indonesia negara miskin. Rudiantara tak setuju dengan tuduhan tersebut.

“Tanya aja masyarakat Indonesia, miskin apa enggak? Gitu aja,” kata Rudiantara kepada awak media di Jakarta.

Ungkapan ini sebelumnya dilontarkan pemilik taksi Big Blue Malaysia, Datuk Shamsubahrin Ismail ketika menyuarakan penolakan terhadap Go-Jek. Rudiantara menilai, seharusnya Go-Jek tidak ditolak yang punya berkeinginan beroperasi di Malaysia. Namun kehadiran Go-Jek dengan layanannya dipandang akan memberikan dampak pada masyarakat di Malaysia, utamanya dalam menghadirkan pilihan moda transportasi.

Rudiantara berharap pemerintah Malaysia bisa berlaku adil memberikan kesempatan usaha kepada siapapun.

Tak lama berselang Datuk Shamsubahrin pun meminta maaf atas pernyataan dan tuduhan kepada Indonesia. Gojek pun akhirnya mendapat persetujuan dari pemerintah Malaysia untuk beroperasi. Ini  langsung mendapat beragam komentar dari pebisnis Malaysia.

Dalam konferensi pers,(28/8/2019), Shamsubahrin mengaku media sosial hingga WhatsApp-nya dibanjiri pesan bernada kemarahan dan ketidakpuasan dari orang Indonesia. Dia mengaku ucapannya berdasarkan pemberitaan di media massa mengenai kondisi ekonomi yang tengah terjadi di sana, seperti diberitakan Malay Mail.

“Indonesia ada di hati saya. Begitu juga dengan orang-orangnya,” ujarnya.

Dia mengaku berada dalam grup WhatsApp berisi driver Go-jek dan Grab. Dia menuturkan ucapannya yang menyebut Indonesia negara miskin karena keberadaan Gojek. Menurutnya, seharusnya pemerintah Malaysia lebih mengenalkan merek layanan ojek lokal seperti Dego Ride ketimbang mengizinkan Go-jek masuk.

“Jadi, saya meminta maaf atas ucapan saya berdasarkan laporan yang saya baca,” katanya.

(Riel/dbs)

Pos terkait