INFOSULSEL.COM, MAKASSAR—Leg kedua Final Piala Indonesia 2018 pada Ahad (28/7/2019) sempat ditunda oleh PSSI. Padahal saat itu Stadion Mattoanging sudah memerah. Penuh sesak oleh belasan ribu suporter dan pecinta PSM Makassar.
Panitia juga sudah bekerja ekstra menyiapkan segala sesuatunya. Begitu juga dengan aparat keamanan. Polda Sulsel menjamin keamanan. Seluruh pintu masuk dijaga ketat. Baik yang di dalam maupun di luar stadion.

Sekitar 4000-an personil TNI-Polri dikerahkan. Namun tiba-tiba kabar dari PSSI bak petir menyambar di siang bolong. Mereka menunda leg kedua final piala Indonesia. Persija Jakarta pun dibiarkan ngacir terbang ke Jakarta tanpa alasan yang jelas.
Ironisnya, kabar penundaan itu diumumkan lewat laman resmi PSSI. Hanya beberapa menit, akun media sosaial sang Sekjen, Ratu Tisha yang menandatangani surat penundaan itu, pun dibuli. Wanita lajang itu dicaci dan dimaki oleh ribuan pecinta sepakbola di tanah air.

Tudingan anak Papa yang tengah mengisi hari-harinya di balik jeruji besi karena terlibat mafia sepakbola Indonesia dan anak manja yang tengah berlindung di ketiak Mama, membahana di seantero nusantara.
CEO PSM Munafri Arifuddin sebenarnya juga sempat dibuat geram dengan keputusan sang Ratu. Tapi Appi tak pernah menunjukkan sikapnya yang berlebihan.
Appi, sapaan anak menantu founder Bosowa Corporation, Aksa Mahmud ini mencoba tetap bersabar. Berkali-kali ia menarik napas panjang saat mengumumkan penundaan itu di tengah lapangan Stadion Mattoanging yang panas oleh terik matahari.
Begitu juga dengan pelatih PSM, Darije Kalezic. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum kecut mendengar kebijakan yang tidak populer yang diputuskan oleh Ratu Tisha dan kawan-kawan.
Hingga akhirnya ada kabar baru dari PSSI. Laga tunda itu ditetapkan 6 Agustus 2019. Tempatnya di Stadion Mattoanging dengan situasi yang sama, tetap degan penonton.
Kabar ini disambut gembira seluruh suporter dan pecinta PSM sejagat raya. Tim berlatih keras. Suporter menanti kerja keras M Rahmat dan kawan-kawan. Di sisi lain aparat keamanan terus berkoordinasi dengan panitia pelaksana dan para suporter untuk menunjukan sikap simpati.
Waktu yang ditunggu 6 Agustus 2019, tiba. Stadion Mattoanging penuh sesak. Tak ada kursi yang tersisa. Baik di tribun terbuka utara, timur dan selatan. Di tribun tertutup mulai VIP utara, selatan hingga VIP utama juga penuh sesak. Ribuan personil bersenjata lengkap juga memadati sisi lapangan. Bahkan ada 10 ekor anjing pelacak dari Polda Sulsel siaga di sisi lapangan.
Rombongan Persija, dikawal ketat. Mulai saat penjemputan, menuju stadion, lalu kembali ke hotel nun jauh di pinggir kota Makassar hingga saat pulang. Polisi bersenjata lengkap dan mobil lapis baja, ikut menyertai Bambang Pamungkas dan kolega. Kondisi Makassar seperti siaga 1. Padahal warga Makassar yang berpenduduk hampir 2 juta orang adem-adem saja.
Selama 90 menit bermain + 5 menit waktu tambahan, PSM akhirnya keluar sebagai juara setelah dua gol bersarang ke gawang Andritany Ardhiyasa. Dua gol itu dicetak oleh Aaron Evans menit ke-3 dan Zulham Zamrun di menit 50.
Sebelumnya di leg pertama Persija menang 1-0 saat bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) pada Ahad (21/7/2019). Dua gol PSM membalik agregat dari ketinggalan 0-1 menjadi kemenangan 2-1. PSM pun keluar sebagai kampiun setelah 19 tahun dahaga gelar.
Gelar juara ini tak didapat begitu saja. Ini berkat kerja keras semua elemen tim. Tentu pula berkat buah kesabaran seorang Munafri Arifuddin dan tangan dingin Darije Kalezic. Pelatih yang baru tujuh bulan menukangi Pasukan Ramang namun mampu mempersembahkan gelar juara. Bandingkan dengan Robert Alberts, si mulut besar yang tiga musim di Makassar tapi nol prestasi.
Pelatih berkebangsaan Bosnia yang lama melatih di Belanda ini resmi diperkenalkan ke publik Makassar oleh Appi pada 2 Pebruari 2019.
Darije hadir menggantikan Robert Rene Alberts yang mundur dengan alasan sakit. Namun akhirnya pelatih asal Belanda yang sempat menukangi Juku Eja tiga musim itu merapat ke Persib Bandung.
Sebelum mendarat ke Makassar Darije terakhir kali menangani Wellington Phoenix yang bermain di A-League Australia, musim 2017/2018.
Dalam riwayat karier pelatih, Darije pernah membawa De Graafschap, klub Eredivisie promosi ke kasta tertinggi di Belanda. Dia menjadi pelatih selama dua musim, 2009-2011.
Setelah itu dia pindah ke Zulte Waregem, Stockport County, Jong PSV, Roda JC Kerkrade, Al-Taawoun, dan terakhir Wellinton Phoenix di Liga Australia. Pelatih berusia 49 tahun itu pernah menjadi pemain FC Den Bosch, RKC Waalwijk, dan pensiun di De Graafschap.
Di PSM, Darije memimpin tim di empat ajang. Yakni Piala Indonesia, Piala Presiden, Liga 1, dan Piala AFC. Pria asal Bosnia ini juga sempat menjadi manajer tim muda PSV Eindhoven.
‘’Darije merupakan pelatih terbaik. Visinya sesuai dengan klub. Rekam jejaknya juga mumpuni,” ungkap Appi beberapa waktu lalu.
Sukses membawa PSM juara pada 6 Agustus 2019 kemarin menambah catatan prestasi Darije selama kariernya sebagai pelatih. Sebelumnya pada 2009-2010, pelatih kelahiran 1 November 1969 ini pernah membawa De Graafschap promosi ke kasta tertinggi Liga Belanda dengan status juara Eerste Divisie (Liga 2).
“Saya juga menjadi pelatih terbaik di kompetisi itu,” ungkap Darije menjawab pertanyaan INFOSULSEL.COM pada sesi jumpa media usai partai Final Piala Indonesia 2018 di Stadion Mattaonging.
Pada kesempatan sama, Wiljan Pluim juga mengungkapkan kebahagiannya bisa mempersembahkan gelar setelah tiga tahun bersama PSM.
“Ini adalah keberhasilan bersama yang harus dinikmati. Tapi, setelah ini, kami harus kembali untuk menghadapi persaingan di Liga 1,” kata Wiljan Pluim yang hadir mewakili pemain.
Sementara itu Darije mengaku bangga dapat ikut berkontribusi dalam meraih gelar juara bersama PSM yang sudah menunggu selama 19 tahun untuk kembali meraih trofi.
‘’Saya senang bisa berada dalam tim ini. Lebih senang lagi karena mampu mempersembahkan gelar juara yang 19 tahun lamanya ditunggu oleh suporter PSM,” katanya.
Darije juga memuji Appi yang telah bekerja keras bertahun-tahun untuk mendapatkan trofi.
‘Saya juga ikut bahagia bisa membawa trofi ke Makassar,” ujarnya tersenyum.
Tugas Darije belum berakhir. Ia masih punya tugas lain membawa PSM juara Liga 1 2019. Saat ini posisi PSM berada di posisi 10 klasemen sementara Liga 1 dengan koleksi poin 13.
Tapi PSM baru bermain 7 kali. Dengan hasil 4 kalio menang 1 kali seri, 2 kali kalah 9 memasukan gol dan kebobolan 5 gol.
Bandingkan dengan tim lain yang sudah bermain 8-12 pertandingan. Saat ini TiraPersikabo berada di puncak klasemen dengan 12 partai yang sudah dilakoni dengan nilai poin 26. Di bawahnya Bali United degan poin 25 hasil dari 11 partai. Lalu Madura dan Arema Fcmenguntit di bawahnya. Juga hasil dari 11 partai. Keduanya hanya selisih dua poin, 21 dan 19.
Sementara itu Sleman, Persebaya, PS Bhayangkara dan Borneo FC berada di urutan 5,6,7,8 klasemen sementara. PSIS Semarang di atas PSM dengan nilai poin 14 hasil dari 12 partai.
Di Liga 1 PSM kembali akan melakoni laga berikutnya menghadapi Borneo FC pada 10 Agustus 2019 di Stadion Segiri.
(Asri Syahril)





